Tuesday, March 10, 2009

Apparently some people plays god. But the authorities was blinded.
Tuesday, March 03, 2009
Kompas Edisi Selasa, 3 Maret 2009 sisipan khusus Yogyakarta yang hanya 1 lembar 1/2 itu sedikit meggelitik saya untuk membacanya sampai habis pas diatas headline berbunyi “Wisata Yogyakarta Perlu Gerak Cepat” oleh Deddy Pranowo Eryono selaku Kapurel (Ketua Keluarga Public Relation) entah benar atau tidak tuh Kompas menulisnya tapi menurut hemat saya Ka = Ketua, Purel = Public Relation. Jadi ga mesti ada lagi kata “Keluarga” disitu.

Oke lah, saya tidak akan memperpanjang masalah salah editorial Kompas toh saya percaya sebuah koran besar pasti mempunyai seorang editor yang sudah kompeten untuk memegang wilayah metropolitan Jogja yang harus berkompetisi dengan koran lokal (red, Ndeso) sebuah kota yang mempunyai nilai strategis dari segala bidang. Tapi yang ingin saya share disini adalah komentar seorang Kapurel itu sendiri yang saya pikir beliau mewakili semua orang PR yang terlibat dengan pariwisata di Jogja entah itu al. Hotel, Cafe, Agen Perjalanan, dll. Komentar beliau bahwa Jogja harus berkaca dari Bali yang menomor satukan pariwisata diatas prioritas lain, tidak seperti Jogja dengan bukti kesemrawutan tatanan wisata kota Jogja yang tidak ada perubahan selama lima tahun terakhir.

Malioboro sebagai ikon wisata yang kumuh dan semrawut adalah contoh nyata dari ketidak berdayaan Jogja meng-upscale kotanya sendiri. Lupakan dengan Sultan sejenak yang sibuk mencalonkan diri menjadi Gubernur se-Indonesia, tapi lihatlah apa yang saya selalu foto dari waktu ke waktu setiap kali saya landing di Bandara Adisucipto.

Siapa sih yang tidak ilfil saat anda seorang wisatawan yang memimpikan sebuah suguhan wisata lokal dengan beragam informasi wisata di lounge kedatangan sekarang disuguhi oleh etalase sebuah real estate, furniture? Konter pusat informasi yang kosong melompong tanpa seorang petugas ataupun brosur tentang pake wisata, penyewaan kendaraan, promosi akomodasi yang murah, agenda perujukan seni di kota?

Kemana semua itu?

Sebenarnya apa yang terjadi?

Jujur! Saya cinta jogja meskipun saya bukan orang jawa dan tidak lahir di jogja. Tapi saya sangat peduli dengan apa yang saya cintai. Kalo orang Jogja sudah merasa nyaman dengan keadaan sekarang, saya “tidak” saya ingin memajukan kota ini. Saya ingin direct-flight-international selalu penuh pulang dan perginya apalagi buat orang lokal sekarang banyak kesempatan keluar negri tanpa bayar palak (red baca fiskal). Jangan sampai mereka menarik kembali jalur penerbangan internasional yang destinationnya 'tidak international”.

Tidak heran kalau Jogja cukup senang dengan sisa turis Eropa dan Jepang yang overland dari Bali sebelum kembali ke negaranya yang hanya stay maximum 2 hari itupun kelas Prawirotaman kan?


lotta loves from,
Monday, March 02, 2009

Bagi Anda yang tinggal di Indonesia, Maret ini nampaknya bulan liburan lagi setelah bulan kedua di tahun 2009 muali menancapkan rencana tahunan di kantor. Tidak apa apa, mengambil sedikit istirahat dari pekerjaan dan rencana libur pekan menunda semua hal-hal mendesak di minggu pertama tentunya.

Periksa agenda kota mingguan atau mulai ngecek ke agen perjalanan terdekat untuk mendapatkan penawaran pelesiran. Dimulai 9 Maret adalah hari libur Nabi Muhamad, sehingga Anda dapat memulai hari libur pada hari Sabtu 7 Maret dan Anda akan memiliki 3 hari berturut turut, asyik kan?

Memasuki minggu ketiga adalah minggu tancap gas lagi setelah liburan panjang sebelum menginjak long weekend kedua di bulan Maret minggu ke 4 ,
pada hari Kamis 26 Maret dan diikuti oleh Jumat 27 Maret seperti yang kita sebut hari, kejepit, mengambil satu hari dari jumlah cuti tahunan dan pergi selama 4 hari keluar untuk beberapa pekan pantai di Indonesia.

Bali?

No fuckin-way, ada banyak pantai di Indonesia, memeriksa di sepanjang pantai selatan Jawa, salah satu tempat mereka dan pergi baik melalui darat dengan mobil atau sepeda motor dengan teman-teman A
nda.

Teman serumah saya seorang berkebangsaan jerman ras Srilanka yang diadopsi keluarga jerman sejak kecil berencana untuk pergi ke Semarang dengan bus dari Jogja. Saya melihat dia seperti hantu saking shiock, Saya tidak dapat percaya apa yang saya dengar bahwa ia adalah kepala Semarang selama 3 hari? lalu aku tanya dia kenapa Semarang? Ternyata dia dia direkomendasikan oleh teman untuk pergi kesana yang jelas temannya itu bule juga dan sangat terkesan dengan semarang.

Aku ingat kembali beberapa tahun silam dimana saya yang diharuskan untuk melakukan perjalanan ke Semarang pertama kali dalam hidup saya dikarenakan sebuah mimpi yang mengganggu saya setiap malam. Dan waktu saya masih belia tanpa arahan sapa sapa/

OK, sebelum menutup postingan awal di bulan Maret ini saya ingin membuat beberapa keinginan bahwa suatu hari nanti ... someday saya akan menghabiskan malam dengan kekasih di pulau ini, seseorang yang tidak pernah pergi dari kepalaku! Telanjang sepanjang hari dan malam, menerawang purnawa seindah dan sejujur kita dalam gelap tanpa sehelai benang.


lotta loves from,

join me on