Sunday, November 22, 2009
Facebook Photo Uploader
Dalam bebrapa hal Facebook kan masih ndeso banget ga seeeh dilihat dari generic standar featuresnya. 1) Gue pengen upload photo2 sebanyak mungkin san secepat mungkin, tapi belom ada featurenya. Malah pihak ketiga seperti picasa sudah bisa melakukan one-click upload ke facebook, hanya saja versi 3.5 windows, tapi yang pake linux hanya bisa diadd-on fueaturenya secara manual dan itupun kadang error.2. Kemudian, coba akses bagian foto di profile Anda, dan coba untuk "add photo"
3. Anda akan diminta untuk mendownload aplikasi facebook ini.
4. Apabila selesai, setiap kali mau "add photo" akan ada Windows pop up muncul dengan Uploade baru.
Pada versi tools uploader terbaru ini, facebook membuat tampilan lebih mudah digunakan. Uploader terbaru ini juga dapat berjalan di "background" sehingga Anda dapat browsing website lain selagi proses upload dijalankan. Tampilannya mirip dengan OS X Finder pada Mac. Kami mencobanya dan memang lebih mudah digunakan dan yang pasti lebih cepat !
lotta loves from,
Download Top 5 Nokia N900 Apps: Maemo 5 Apps Anda Harus Memiliki Pada Nokia N900

Sekedar untuk mengingatkan diri sendiri jika N900 ini sudah saya miliki, entah kapan masuk ke Indonesia lha wong ke eropa dan UK aja baru minggu2 ini masuknya. Tapi yang pasti karena saya pemakai FOSS dan N900 ini otally FOSS based alias linux gitu deh OSnya, dinilai lebih baik daripada android yang cenderung kearah cloud mobile computing. Duh, gimana caranya ganti splash dengan logo ubuntu saja ya nantinya biar lebih keren, pasti bisa dioprek oleh paka gig ubuntu sub-loco jogja.
Berikut adalah daftar untuk download gratis top 10 apps yang harus Anda miliki di Nokia N900 ponsel Anda:
1) OMWeather v0.24.8: Ultra-dapat disesuaikan untuk menampilkan widget cuaca meramalkan cara yang Anda inginkan. Prakiraan cuaca pada Nokia N900
2) Countdown Home Desktop Widget v0.6-1: Terus ikuti acara mendatang dengan cepat dan mudah pada desktop Anda. Hal ini mudah untuk menambah, mengedit, dan menghapus entri dan setiap entri yang dikustomisasi.
3) eCoach v1.56: Melacak semua olahraga dan kegiatan di luar ruangan dengan eCoach berbasis GPS aplikasi. Dengan eCoach Anda dapat memperoleh hasil maksimal dari latihan Anda dengan memonitor kecepatan Anda, jarak dan detak jantung secara real time. Anda juga dapat menggunakan built-in diary training fitur untuk melacak kemajuan Anda saat Anda bekerja menuju tujuan pelatihan spesifik Anda.eCoach mendukung Open Street Map, Google Earth, dan Virtual Earth, memungkinkan Anda untuk melihat rute pada peta dan membaginya dengan teman-teman di kemudian point.eCoach saat ini mendukung FRWD B600 dan Zephyr HxM monitor denyut jantung.
4) Tuner v0.1.1: Tuner adalah alat pembantu untuk tuning alat musik.
5) Recorder v0.3.1: utilitas grafis sederhana untuk merekam audio dari mikrofon.
lotta loves from,
Saturday, November 21, 2009
habis gelap terbit lah terang - mimpi kale ya

Lalu ada juga berita Abdullah Puteh yang dibebaskan bersyarat yang seharusnya dibebaskan 22 maret 2013, alias dapat 22 bulan 95 hari, padahal apa yang telah dia lakukan sangat merugikan negara.
Sementara, benang kusut Kepolisian - KPK - Kejaksaan semakin hari semakin molor tak tahu mau dibawa kemana, bahkan dua media besar yang memuat percakapan telepon itu juga dipanggil ke kepolisian guna dijadikan sebagai saksi?
Saya yang buta hukum makin buta akan sistim hukum di negeri dimana saya dilahirkan dan mungkin saya mati disini. Betapa semuanya serba kelabu dan pelan-pelan gelap. Akankah "habis gelap terbitlah terang", seperti harapan saya esok hari?
Semoga...
lotta loves from,
Friday, November 20, 2009
up close and personal dengan si cantik pitung

- Cat merah yang cuma ada satu, bersaru lembayung ungu
- Mesin Original
- CDI grand (bukan platina lagi), tokcer dan stabil.
- Carburator Grand juga, pemasokan api baik.
- Kinclong tenan pokoke
- Ban dalam baru
- Ban Luar narcis tipis buat mejeng
- Shock breaker depan baru original, empuk saat ketemu polisi tidur
- Kabel body + Kunci Kontak Baru, jadi aman aman saja
Wednesday, November 18, 2009
go green - ask my father in heaven
Chicken Soup - Pak Min Klaten

Sunday, November 15, 2009
picasa photo uploader to Multiply
I f*ck Linux this morning
picasa photo uploader to Facebook

- Buka terminal (bukan terminal pulogadung ya)
- copy paste kedalam terminal: picasa picasa://importbutton/?url=http://www.webkinesis.com/fbpicasa/facebook.pbf
- Enter aja
- Tekan yes dan ikuti pentunjuk selanjutna.
- Close picasa kemudian buka kembali, maka facebook uploader button akan nampak disana.




Thursday, November 12, 2009
nonton miyabi di UKDW

Bem-vindo à Indonésia meus irmãos antigos
picture: Pantai Kukup - South Jogja a named to be tanah lot in javaSpeaking of the which, it is a huge money. I don't know why Portugal? Is it because of the freezing 10 years of diplomatic relation, and we want it back? Did I met Portugal Tourist in Bali or Jogja for the last 10 years? the answer is NO. I hope this is not like other Indonesian Tourism Promotion which they go abroad to spend hundreds thousand of US$ and doing dancing in front of Indonesian people from consulates or embassies family member. Such a waste.
I want to see some traffic from Portugal to Indonesia for the next 5 years to come, at least to return 75.000 Euro means I need 75 people to spend at least 1000 Euro/person/week(7days) on accommodation and meals (not including the transport). Can we make it in a week instead?
Selamat datang di Indonesia sodara tua
lotta loves from,
Wednesday, November 11, 2009
dangdut music is the of my country

Tuesday, November 10, 2009
youtube downloader on linux ubuntu



Monday, November 09, 2009
God Save Me from What I Wanted

Friday, November 06, 2009
kalau ada yg merasa
#kaspersky we want y
Thursday, November 05, 2009
#twitter http://htxt
Wednesday, November 04, 2009
what u have for brea
sleeping in the clouds

- Cloud computing is tomorrow OS and I want to be a first one who experience the future in today time. off course I will share with you later.
- It is mostly a web-base applications which I don't have to worry in purchasing, installing, updating, incompatible, etc where most desktop applications normally we had, regardless what OS you currently have.
- It's a social based platform that sharing information is border-less to anyone in this planet.
Tuesday, November 03, 2009
Migrasi Open Source Sarat Dengan Intrik Politik
“
Kalau Bukan Setetes Tinta
Takan Kuubah Sebuah Puisi
”
FOSS upscaling the Country
Kalau tidak sekarang kapan lagi. Itu arti yang sesungguhnya yang saya tangkap dari pembuka pidato menteri baru Informasi & Komunikasi Tifatul Sembiring (maaf kalo ejaannya salah), hmm puitis juga tuh menteri baru.
Kalo RI-1 pernah berucap bahwa tahun 2009 adalah “Tahun Kreatif Indonesia”, maka FOSS adalah sebuah kreatifitas yang tidak pernah berhenti dan penuh dengan kreatifitas individu apapun keperluan keinginan dan mimpi seseorang dalam sebuah project development sebuah IT berbasis FOSS. Selanjutnya sebuah studi telah membuktikan jika FOSS adalah sebuah sektor ril yang bisa dijadikan tolak ukur ekonomi dan financial secara empiris tentunya, kenapa?
Biaya belanja di bidang IT baik itu hardware maupun softwarenya akan bisa ditekan hingga 85%. Jelas! Saya contohkan untuk membeli sebuah OS asli untuk aplikasi desktop saja saya harus mengeluarkan kurang lebih USD100 (Rp. 1.000.000) jadi kalo di sebuah instansi ada 20 komputer jadi harus ada 20 juta, bagaimana dengan aplikasi lain yang diperlukan untuk mendukung kerja? Mungkin kita bicara 2 atau bahkan 3 kali lipat. Sedangkan FOSS (baca Linux) bisa didapat dan didistribusikan secara gratis, begitupun dengan aplikasi pendukungnya.
Daur ulang! Komputer jadulpun masih bisa dipasangi Linux koq. Jelas ga perlu membuang komputer lama dengan OS yang statis, tinggal sesuaikan saja spec dan distro serta rilis yang dapat diaplikasikan sesuai dengan kebutuhan. Sekali lagi nilai ekonomis bermain disini.
Bagaimana dengan sumber daya manusia di bidang IT? Saya yakin banyak sekali pelaku di bidang IT yang brillian dan siap dengan tantangan di bidang FOSS. Masih terngiang-ngiang di kepala saya seorang key person dari SUN Mr. Koh bilang bahwa "brilliant people is not here (maksudnya dalam perusahaan dia) but outhere! Jelas, dunia FOSS sekali lagi mempunyai nilai yang sangat strategis kesempatan kerja yang tidak terbatas untuk kalangan pekerja di bidang ini. Otomatis, pintu kesempatan berkarir sangat lebar dan akan meningkatkan perekonomian masyarakat dan Negara.
FOSS is a Demo(crazy) Learning
Old day
If you happen to wake up in the morning, and then you find a naked women next to you then you are into politic.
NOW day
Apa yang terjadi dengan saya adalah, "Never get enough with Linux), I think I am not longer into politic but I am sure I am now a politician.
Mari kita singgung sebuah PP tentang anjuran pemakaian open-source, katakanlah itu sebuah AJIMAT, ada pula Ristek dan Depkominfo sebagai "Tangan Besi" dan AOSI selaku "Ratu Kidul", ada pula UU yang mengatur tentang pelanggaran hak intelektual dan hak cipta sebagai "LANGIT", kurang apa lagi sih kita? Tapi koq masih banyak desktop-desktop di kantor-kantor pelayanan publik, pemerintahan maupun swasta yang memakai windows bajakan? Koq masih membiarkan penyewaan komputer ataupun warnet masih buka? Bahkan toko software-software bajakan tenang-tengang saja menjajakan barang haram tersebut di mall-mall besar dengan omzet ratusan juta dari hasil curian?
Where are you people?
Stop talking about it!
It Useless!
Tidak akan pernah akan berhenti meskipun saya mati teriak sampai kering kerontang menyuarakannya. Mari kita kembali menarik benang merah, ada AJIMAT, TANGAN BESI, RATU KIDUL & LANGIT yang menaungi, tapi kelihatannya koq masih belum ada tanda-tanda kesaktiannya? KENAPA? Sekali lagi ini menjadi check-list yang harus ditindak-lanjuti AOSI kalau memang kita ingin "out of the box".
Kalo ada UU & PP yang masih apakah nantinya harus ada Peraturan Daerah yang menyerukan (baca mewajibkan) untuk sesuai urutan prioritas:
Mengharamkan software bajakan di kalangan kantor pemerintahan, sekolah, public service (pokoknya yang masih bisa diakses oleh public).
Mengharuskan memakai software resmi.
Memberikan insentif bagi yang menggunakan open-source.
Kelihatannya isu mainstreaming & migrasi FOSS semakin memanas, dan semakin "sexy" seiring dengan isu global-warming yang sudah terasa dengan iklim yang sangat ekstrim saat ini, paling tidak itu yang saya rasakan di tanah "mataram" Ngayogyakarto ini. Hadoh... omongan saya sudah gak fokus lagi keliatannya, makin ngaler ngidul saja.
The bottom line is!
FOSS di Indonesia masih top-down, tidak mungkin me-mainstreamingkan saat ini, dan menurut hemat saya memang seharusnya seperti itu yang dilakukan karena kalau itu sebuah PERINTAH atasan maka akan dilakukan karena merupakan tanggug jawab kerja dan kita dibayar untuk itu, tapi kalau ahanya sebatas ANJURAN, mau dilakukan baguuus tidak dilakukan ya mongg-monggo wae.
Big Question Mark??
Apakah Pemerintah Indonesia BERANI mengharuskan pemakaian open-source di semua lini? Toh sudah jelas keuntungan yang akan didapat bukan?
But
Kalo bicara keuntungan pasti ada kerugian, kantong siapa yang nanti "TONGPES"? Don't tell me you know what i mean..
Image courtessy of desktoplinux.com
lotta loves from,
Monday, November 02, 2009
daripada menunggu, l
Sunday, November 01, 2009
me-mainstraming-kan FOSS di Indonesia
Sebuah pekerjaan rumah panjang untuk AOSI
Guru kencing berdiri murid kencing berlari, ubunteros terkencing-kencing, mungkin begitu padanan peribahasanya untuk kondisi dunia open source saat ini di Indonesia. Bagaimana tidak? Jangan disanggah kalau razia software bajakan yang pernah terdengar dilakukan pihak berwajib dirasa “panas-panas tai ayam saja” alias sekarang tidak lagi terdengar gaungnya.
Indonesia masih menjadi negara yang melegalitas bajakan, betul? Ah sudahlah, saya sekarang tidak akan membicarakan isu yang dirasa sangat sensitif ini, saya hanya ingin sharing apa yang menjadi observasi saya selama mengikuti sesi public speaking di forum GCOS 2009 26-27/10/09 di Hotel Shangri-La, sebuah hotel yang sangat mewah untuk event yang mestinya bersifat akar rumput ini.
Mainstreaming, entah apa istilah dalam bahasa Indonesia yang pantas untuk menjelaskannya kata asing ini, tapi marilah kita perumpakan sebuah industri film-film yang diputar di bioskop itu adalah film-film mainstream yang dikenal banyak orang dan menghasilkan uang bagi sebuah perusahaan film raksasa sedangkan sebaliknya film independen (indi movie) paling banter masuk dalam festival film-film yang hanya ditonton oleh segelintir orang yang khusus tertarik di bidang ini atau hanya dari kalangan tersendiri.
Apakah cita-cita me-mainstreaming-kan FOSS adalah seperti itu? Mudah-mudahan tidak tentunya. FOSS, katakanlah linux untuk saya masih ber-imej GRATIS artinya saya bisa unduh dan memakainya untuk keperluan keseharian saya berkutat dengan netbook saya tanpa saya bayar dan tanpa saya minta ijin sama empunya untuk menyebarkannya. Saya takut malah suatu saat nanti FOSS (red. Linux) malah akan menjadi proprietary software seperti sekarang saja hanya bersipat sebagai competitor dalam bidang IT?
NO no NO, I hope not!!
Lebih jauh, menurut hemat saya mainstreaming adalah suatu proses dimana semua pihak terkait dan dilibatkan untuk membuat "sebuah mimpi" terwujud dan menjadikan suatu collective agreement bagi semua pihak dan tentunya diimplementasikan tidak hanya dijadikan wacana.
Tentunya ini memerlukan proses dan time consuming, tapi sebenarnya kita ini ada di fase yang mana sih? Selama saya mengikuti workshop khusus yang memfokuskan di isu goverment saya tidak mendapatkan jawaban itu. Jadi memang susah untuk menimbang apa dan bagaimana yang seharusnya dilalukan untuk menciptakan iklim open source di Indonesia saat ini dan dikemudian hari. Harapan saya sebenarnya ada seorang pembicara dari ristek yang mampu me-mapping status dan kondisi saat ini di Indonesia yang bisa dirangkum dari sisi kebijakan pemerintah entah itu dari segi hukum, pendidikan dan campaign pemerintah untuk FOSS ini, ataupun masukan dari pengguna serta pemerhati di bidang FOSS entah itu dari komuniatas maupun corporate (badan usaha) di bidang TI beserta vendor.
Tapi sampai dengan kepulangan saya ke Jogja, saya tidak mendapatkan catatan penting ini yang seharusnya saya rangkum dan saya sharingkan dengan teman-teman dikemudian hari.
Hilangnya Logo Tutwuri Handayani
Ada dua institusi pemerintah yang terlibat dalam ajang GCOS 2009, yaitu Ristek & Depkominfo yang menunjuk AOSI sebagai organiser acara GCOS 2009 ini. Saya merasa ada satu institusi yang seharusnya dilibatkan tapi saya simpan dalam hati dan ingin menanyakannya langsung kepada AOSI suatu saat nanti yaitu Department Pendidikan yang seharusnya menjadi embrio cikal bakal pertumbuhan dunia FOSS di Indonesia.
Saya masih ingat jaman saya dulu (maksudnya sekarang sudah tua hehe) dimana kebudayaan itu dibawah satu atap dengan pendidikan, dan entah kapan atau entah apa yang terjadi sewaktu kebudayaan dilimpahkan ke deparment pariwisata, maka yang diperhatikan adalah bagaimana memaketkan budaya nusantara ini sebagai paket promosi pariwisata bukan lagi bagaimanan tetap menanamkan dalam benak fikiran anak-anak Indonesia untuk mengenal budaya dan mencintainya serta melestarikannya. Jadi ya tidak heran kalo ada negara lain yang mengklaim seni budaya Indonesia sebagai budaya aslinya mereka. Entah kapan dunia pendidikan Indonesia akan berhenti dijadikan kelinci percobaan.
Memang ada sederet anak murid yang diundangi ke GCOS ini dan duduk persis di jajaran depan untuk menerima anugerah penghargaan dari kejuaraan di event lain, tapi tidak ada perwakilan yang resmi dari dunia pendidikan sekedar untuk sharing bagaimana seharusnya FOSS ini sudah masuk dalam kurikulum sekolah dasar.

Dalam program kerja AOSI No.10 di bidang pendidikan adalah dengan adanya akses terhadap e-book untuk pelajaran TIK Open Source di sekolah-sekolah, syukurlah sebuah wajah tak asing bagi saya pak Rusmanto seorang yang wajahnya sering ada di majalah info linux yang masih saya beli secara eceran di agen adalah seorang penaggung jawab program kerja ini. Saya berharap lewat media yang beliau asuh bisa menyisipkan pesan-pesan terhadap dunia pendidikan untuk sosialisasi FOSS di Indonesia.
Sebuah statement yang sudah menjadi rahasia umum saya quote dari tulisan Ex President Director of IBM Indonesia dan sekarang adalah seorang Business Woman yang juga sebagai Duta Open Source sekalian ketua AOSI Betti Alisjahbana dalam tulisannya yang bertajuk Peran Strategis Open Source Bagi Indonesia pada penutupan Pada acara penutupan IGOS Summit 2 tanggal 28 Mei 2008 menyinggung masalah saat ini yang terjadi di masyarakat dalam menumbuh-kembangkan FOSS di indonesia dalam dunia pendidikan dimana “Pendidikan di sekolah-sekolah masih berorientasi pada perangkat lunak proprietary baik dari segi materi pengajaran maupun media pendukungnya (buku, perangkat lunak yang digunakan )”.
Sepertinya masalah in
i telah dibantu oleh Rusmanto dalam majalah info linux bulan Agustus 2009 yang menelurkan sebuah tulisan utama mengulas seputar apa yang bisa dilakukan oleh linux dalam dunia pendidikan.
OK! Asumsi saya sekarang adalah usaha yang dilakukan untuk mengenalkan FOSS telah dilakukan, satu bukti diatas adalah usaha kongkrit yang telah Rusmanto lakukan sebagai penanggung-jawab program.
Pertanyaan saya adalah; apa dengan adanya akses murid dan pengajar terhadap materi pembelajaran FOSS di kalangan dunia pendidikan sudah dikategorikan sebagai mainstreaming FOSS di Indonesia?
Mungkin lagi Ebiet yang menjawab, “tanyakan pada rumput yang bergoyang”, hanya waktu yang bicara tentunya.
Baca selanjutnya di artikel bertajuk: “Migrasi Open Source Sarat Dengan Intrik Politik”.
ilustrasi: infolinux.web.id
How ubuntu are you?


