Showing posts with label gcos linux ubuntu foss. Show all posts
Showing posts with label gcos linux ubuntu foss. Show all posts
Tuesday, April 06, 2010

Kemarin sore Aku baru membungkus pulang sebuah “setan hitam kecil' Lenovo 103-S berprosesor N470 dari Harco Mangga Dua dengan tebusan hanya 3.7 juta saja. Ini harga fantastik untuk sebuah mesin IBM yang hanya tidak lebih dari setipis VAIO seri X125LG seharga US$ 1270 yang Aku beli di Jogjatronik untuk teman Aku di Phillipine, dia bilang harga di jogja 30% lebih murah daripada di Manila. “Ada 2 hal yang murah di jogja, satu adalah elektronik yang kedua adalah “shuttle cock”, makanya Aku setiap kali pulang ke Manila pasti bawa shuttle cock sekardus untuk Aku bagi-bagikan buat temen temen Aku di Manila”, celetuk Resty teman Aku yang sudah lima tahun bekerja di Jogja.


Lain Harco Lain Jogjatronik Lain Pula Hitech Mall Surabaya

Berbeda dengan Jogjatronik, di Harco Mangga Dua penjual memberikan pilihan OS untuk net/notebook yang kosongan alias computer yang tidak terinjeksi OS Windows pabrikan yang mereka sebut W7 Starter. Beberapa toko membandrol varian harga berbeda antara 500 s/d 1 juta untuk jika ingin disertakan OS Windows dan mereka berani menuliskan “LINUX” yang notabene Ubuntu untuk diinstallkan jika mereka tidak mau menambahkan Windows sebagai starternya. Untuk Aku sebagai seorang pengguna Linux tentu saja bangga dengan pendekatan yang telah menyentuh para toko penjual net/notebook ini. Tapi tidak di Jogja yang notabene adalah kota pelajar dengan komunitas Linux yang cukup aktif, dan malah mereke mempunyai Komunitas Linux Sub-Loco Jogja yang cukup terkenal seantero komunitas pengguna linux. Tentunya ini harus menjadi catatan penting untuk para penggerak linux di Jogja khususnya. Apalagi di bulan April 2010 ini, Ubuntu akan merilis edisi LTS (Long Term Support) nya yang bernamakan Lucid atau versi 10.04.

Sedangkan di Hitech Mall Surabaya, mereka sudah lebih maju ketimbang Jogjatronik dan Harco, mereka lebih melek hukum. Stiker, signage maupun spanduk kampanye pemakaian barang haram alias software bajakan sudah mendarah-daging dari mulai pihak otoritas, manajemen mall dan pihak penjual hardware maupun software. Pihak manajemen menempelkan stiker besar yang cukup mencolok mata di pintu masuk ke setiap toko untuk tidak melayani, mengedarkan software bajakan, yang pasti di Hitech Mall yang berlokasi bersebelahan dengan THR (Taman Hiburan Rakyat) ini tidak akan dijumpai toko yang menjual software bajakan. Aku pernah mengecek ke sebuah perakitan jangkrikan PC untuk meng-copy software dan mereka bilang dengan ringan “maaf mas kami tidak melayani copy software”. Ini sebuah prestasi yang patut diacungkan jempol untuk pemerintah Surabaya, sementara di Harco Aku masih melihat beberapa toko penjual CD installers Software Bajakan, sementara di jogja masih ketimbang “mendingan” yang hanya menyewakan CD installers di beberapa tempat penyewaan VCD seperti di Wahana KM5 Jakal (paling tidak itu satu tempat yang Aku tahu).

Jakarta dan Jogja sepatutnya belajar dari Surabaya. Surabaya memang keras kotanya, kasar bahasanya, orang orangnya berperangai lebih urakan ketimbang Jogja tentunya yang lemah lembut mengusung totokromo keraton, atau Jakarta yang notabene etalase indonesia yang bercermin diri sebagai sosok pengambil keputusan dimana hampir 80% perekonomian dan peta politik Indonesia disana yang suka sok menjadi trend-setter yang akhirnya terkadang gagal karena hanya memikirkan imej ketimbang usaha nyata yang berarti.


“Kembali ke Laptop”.

Kembali ke perihal penggunaan OS Windows gratisan, anggaplah begitu. Aku bertanya kepada si mas salesnya toko LENOVO yang didominasi warna “kuning temulawak” kayaknya warna itu yang cocok untuk menjelaskan corporate color lenovo yang Aku sukai itu, “Mas apa sih W.7 Starter itu? Apa sudah seperti Home Edition?”, si mas nya cuma mesem aja tuh ga tahu apa yang Aku tanyakan. Sing pasti, begitu Aku pencet power button W.7 terinstall dengan baik di Lenovo 103-S itu dan rasanya secepat Aku installkan jolicloud versi Alpha dulu di BenQ Lite U101 2 tahun lalu. Tentunya dengan catatan W.7 starter hanya nyawa yang kosong saja yang ditanamkan kedalam raga Lenovo, tak seperti Jolicloud yang sudah diberi hati dan fikiran. Padahal hati dan fikiran itu yang menentukan kinerja dan perilaku, memang mau kita berhubungan dengan kehidupan tanpa hati dan fikiran? Tentu tidak bukan?

Please Try Again Kategori – Microsoft.

Aku menyebutnya pengguna windows gratisan. Entah itu usaha microsoft atau usaha vendor yang jualannya ingin laku yang pasti keduabelah pihak telah sepakat untuk memaketnya. Bukti stiker hologram di bagian bawah net/notebook baru Aku catatkan di konter Microsoft di bagian lobby Harco Mangga Dua yang
yang diundi untuk mendapatkan motor maupun mobil ditambah hadiah comotan sesuai dengan nomor yang diambil dari “fish bowl” sialnya (red. Syukur) mendapatkan CD game asli, eh padahal netbook yang baru dibeli kan ga ada DVD drivenya alhasil pastinya hanya akan mejadi sampah yang susah didaur ulang. Cukup diacungkan jempol untuk usaha Microsoft dalam kategori “Please Try Again” Marketing Effort.

Seperti semua pengguna Windows gratisan. Pengguna harus memperhatikan virus checker trial version yang ikut ditanamkan sewaktu W.7 starter terinstall, dan menunggu 30 hari masa percobaan sedekat kepala para perawat di ruang ICU mengawasi monitor pasien. Setelah itu update akan terhenti dan sistem sekarang terbuka untuk semua virus dan bakteri yang membuat kita terganggu dengan “buzz “ dan peringatan lain yang mengingatkan kita kalau sitim tidak lagi kebal dan rentan terhadap sistim yang tidak lagi stabil dan akan mengakibatkan malapetaka. Saat itu Aku akan merasa seorang “Jack” yang didukung oleh tim kesebelasan Persija yang main di Stadion Sepuluh November, surabaya.
Akhirnya Aku harus mengeluarkan biaya dua atau malah tiga kali lipat jika Aku harus tetap menggunakan windows gratisan. Sebut saja upgrade ke W.7 yang sebenarnya! Mungkin yang paling murah adalah home edition belum kita bicara versi profesional, office, anti virus yang asli, aplikasi lain yang harus dibeli terpisah dan diinstall lewat DVD drive yang harus dibeli terpisah pula, and THIS IS HELL!!!

Tidak heran, kemudian, bahwa ketika pengguna Windows (red Aku) akhirnya mampu memecahkan/memutuskan rantai kapitalis IT dan beralih ke sebuah OS dan aplikasi yang bebas dipakai maupun didistribusikan untuk sebuah kebebasan pengalaman pada desktop Linux. Selanjutnya mereka (para sales support) menatapku tak percaya ketika aku bilanng aku akan “menuntut mereka” untuk apa yang mereka tawarkan menginstallkan aplikasi apa saja yang ingin Aku installkan. Toh Aku tidak bilang kalau Aku pengguna Linux, mereka enggan untuk menghentikan mental bajakan itu. Mereka masih berfikir costumer akan merasa senang jika mereka mengisntallkan aplikasi aplikasi bajakan di net/notebook “mereka” dan ini benar benar sebuah PEMERKOSAAN massal yang BIADAB.
Sedikit Aku terpanggil untuk berbagi, dan Aku mencoba menjelaskan bahwa hak akses pada Linux membuat upeti seperti tidak perlu. Tanpa kebawelan atas definisi virus dan trojan, Aku juga memberitahu mereka bahwa mallware tidak dapat mengeksekusi pada komputer berbasis linux, kecuali Aku secara eksplisit memberi mereka root izin untuk melakukannya. HAHAHA sok tahu ya! Habisnya kesel aku sama mereka.
Permissions (akses) di Linux bersifat universal. Ada tiga hal yang dapat kita lakukan dengan file: membaca, menulis, dan mengeksekusi. Tidak hanya itu, mereka hadir dalam tiga tingkat: untuk pengguna root, untuk pengguna individu yang masuk, dan untuk seluruh dunia. Biasanya, perangkat lunak yang dapat mempengaruhi sistem secara keseluruhan membutuhkan hak akses root untuk menjalankan.

Microsoft Windows yang dirancang untuk memungkinkan orang luar (non authorise) untuk menjalankan perangkat lunak pada sistem kita. Perusahaan software yang menjustifikasi dengan mengatakan bahwa kita akan mendapatkan pengalaman dan dapat melakukan hal-hal yang dianggap keren pada desktop kita. Padahal menurut Aku harus jelas sekarang bahwa hanya orang yang mempunyai akses terhadap sistim adalah mereka yang mendapatkan benefit dan selanjutnya bertanggung jawab terhadap pengamanan tambahan didalam sistim atau memperbaiki kerusakan sistem yang disebabkan oleh itu.


Seperti bercinta dengan seorang pelacur cantik, kembangnya “pasar kembang”

Malware di Windows biasanya ditularkan melalui klien email, browser, atau klien IM, sistim kita merespon dan melayani manis madunya suatu interkaksi online diamana malware laksana sebuah kenikmatan tabu yang lambat laun menghancurkan sistim kekebalan kita, sementara kita tidak sadar kalo kita digerogoti olehnya. Beberapa program malware mengharuskan kita membuka lampiran. Lainnya bahkan tidak mengharuskan kesalahan pengguna. Dengan cara apa pun, malware pada Windows sering dijalankan, menjangkiti sistem lokal pertama, kemudian menyebar sendiri kepada orang lain. Njing! Sebuah lingkungan yang mengerikan, aku bahkan tidak berani lagi keluar rumah hanya untuk membeli sebungkus nasi goreng setelah jam sepuluh malam.

Tapi untuknya aku tidak tinggal di linkungan semacam itu, aku senang aku tidak tinggal di sana, aku tinggal di lingkungan yang aman dari malapetaka itu diman semua orang saling mendukung untuk menjaga keamanan tanpa dibebankan biaya dari perusahaan sekuriti.

Saya Tinggal di Kampung Linux.

Pada Linux, ada built-in perlindungan terhadap “kerajinan” tersebut. File baru yang tersimpan dari klien email kita atau browser Web tidak langsung diberi hak mengeksekusi. Mallware memang cerdik, ia mampu mengubah extensi nama file yang dapat dieksekusi secara umum dalam OS windows tapi tidak dengan LINUX, karena Linux dan aplikasinya tidak tergantung pada ekstensi file untuk mengidentifikasi sifat-sifat suatu file, sehingga mereka tidak akan keliru mengeksekusi malware saat mereka berinteraksi dengan itu. Keren kan?
Well itu hanya satu dari sejuta kenyamanan jika anda tinggal di pemukiman Linux. Mungkin saya hanya satu dari sekumpulan warga linux, dan mungkin juga mereka kenal dengan saya yang suka penasaran dengan kepulan asap dari dapur tetangga sebelah. Sebut saja ada tetangga depan rumah yang selalu memakai blangkon mungkin orang jawa ada juga tetangga belakang rumah seperti keturunan orang aceh yang didepan kaca rumahnya bertuliskan tulisan arab gundul ijo royo royo yang katanya cuma sebuah nama tempat di daerah aceh sana, ada juga tante Dora, Ibu Debi, ada juga orang aneh yang selalu memakai Topi Merah, ada juga penjual jamu pegel linux serasa daun mint, dan yang paling banyak para warga pemerhati binatang langka seperti anjing gunung, kemudian koala, ah pokoknya banyak deh!

Meskipun kita berbeda beda tapi kita hidup tenang dan rukun bertetangga, terkadang dari beberapa perkawinan antar warga yang berbeda darah itu kami mempunyai anak cucu yang manis manis sehingga menjadikan keturunan kami lebih variatif dan Plural. Eh, apakah itu namanya masih sama BHINEKA TUNGGAL IKA?

Kampung Preman yang lewat melalui Jendela dan Gerbang.

Lain halnya kampung tetangga kami di sebrang sungai, perkampungan mereka terlihat sangat mewah tapi aku melihat muka muram mereka dan terkadang stress setiap ada warga baru pindah mereka bertindak seperti preman, ada uang perijinan ada uang keamanan dengan dalih untuk membuat kampung mereka steril ada uang tambahan lain untuk fasilita tertentu yang mereka inginkan, dll.

Padahal aku sudah mencoba di perempatan jalan sebelum mereka berbelok ke perkampungan yang gemerlap itu, untuk menjelaskan kepada mereka bahwa mereka bisa tinggal aman dan nyaman dengan biaya hidup yang hampir NOL jika memilih tinggal di kampung Linux, mereka bisa sebebas saya dan para tetangga di kampung linux yang saling gotong royong untuk saling membantu kepentingan pribadi

Lalu mereka bertanya apa tinggal di kampung Linux tahan terhadap serangan terosris? Apakah rumah rumah di kampung Linux tahan thd peluru? Saya bilang tidak juga, cuma kita harus bertindak cerdas dan cepat untuk untuk menjaga sistem lingkungan dan kita tidak sendiri, kita melakukannya bersama sama tanpa pamrih, itu adalah sebuah kekayaan budi yang tidak dimiliki kampung sebelah sana.
Jadi jangan sampai anda terkecoh dengan iklan real estate yang menyesatkan dan iklan palsu dengan jaring perlindungan virus yang bertentangan. Kalo ga percaya silakan mampir di kampung saya.
lotta loves from,
Wednesday, March 17, 2010

Saya tidak mimpi di siang bolong, tapi saya percaya tidak lama lagi kita hanya akan menemukan sebuah icon di layar komputer sebagai pembuka masuk ke dalam sistem ataupun jaringan, lebih ekstrimnya tidak akan ada lagi sebuah aplikasi yang terinstall didalam komputer tersebut, yang diperlukan adalah hanya koneksi internet super cepat, secepat kita membuka sebuah file yang tersimpan di hardisk saat ini.

Saat ini, google telah memperkenalkan sebuah paradigma baru dalam dunia computing. Sebut saja sebuah virtual hardrive sebuah penyimpanan data layaknya sebuah flashdisk, google docs dimana kita bisa mengetik, membuat balance sheet ataupun presentasi bahkan membuat sebuah template angket pertanyaan yang bisa interaktif sehingga datanya bisa diolah. Belum lagi kita bicara OS generasi masa depan yang telah diliris dan bisa diunduh secara gratisan buatan google yang bernama “google chrome” yang akan menjawab semua teka teki dari istilah “cloud computing”. Ini sebuah revolusi di dunia IT yang terus terang meninggalkan sebuah pertanyaan besar di kepala saya “Apakah kita harus menyerahkan semua data kita kepada google”? Kita simpan dulu pertanyaan itu.

Terus terang saya bukan ahli di bidang telematika, saya hanya pemakai sebuah netbook untuk menunjang keperluan pribadi maupun pekerjaan yang senang dengan platform open source. Ketika saya membeli Netbook BenQ Joybook Lite U101 tahun lalu, saya hanya sebenarnya hanya tertarik karena bisa ditambahkan modul internal modem GSM 3G dari Sierra yang sudah mendukung driver di Linux – Ubuntu. Jadi dimanapun saya berada, saya bisa terkoneksi dengan internet bahkan pada saat saya bergerak.

Memilih Distro Yang Cocok untuk Netbook
Perilaku Netbook yang berbeda dengan Notebook maupun Desktop tentunya harus disesuaikan dengan OS maupun aplikasi lainnya untuk menyesuaikan ukuran layar yang lebih kecil dan serta aplikasi yang harus ringan tapi tidak mengurangi kinerjanya tanpa memberatkan processor Netbook yang tidak didesign untuk beban berat. Ada beberapa distro linux yang tersedia saat ini dan bisa diunduh secara gratis seperti Moblin, Ubuntu Remix, Jolicloud, semuanya mempunyai keunggula masing masing. Secara teknikal, saya tidak menemukan ketidak sesuaian, semua driver dikenali dan bekerja dengan baik, akan tetapi memilih distro di linux seperti kita memilih pasangan hidup, keduanya harus saling menyesuaikan meskipun pada akhirnya kita akan merasa terbiasa dan nyaman bersamanya.

Setelah saya mencoba semua distro Netbook, pilihan terakhir saya adalah Jolicloud. Sebuah Distro berbasis Ubuntu 9.04 Jaunty yang telah di-remaster dan disesuaikan untuk kebutuhan “fully mobile” saya tidak perlu lagi menyesuaikan konfigurasi atau menyetting modem GSM/CDMA bahkan untuk koneksi handphone yang mendukung auto-joint-network baik menggunakan koneksi kabel maupun bluetooth tinggal colokan saja langsung anda terhubung dengan internet, serta “end-design-layout” yang memikat mata, tanpa meninggalkan sedikitpun keunggulan Ubuntu. Memang dibandingkan dengan Ubuntu Lucid (10.04) yang akan dirilis April 2010 sebagai distro yang mendukung LTS (Long Term Support), Jolicloud terlihat tertinggal dalam perkembangannya selama satu tahun dari platform ubuntu yang ada ditambah Jolicloud yang saya gunakan masih dalam fase BETA, alias belum menjadi sebuah RC (Release Candidate), sebenarnya masih panjang jalan yang harus ditempuh menjadikannya sebagai seduah distro yang benar benar patut dijadikan versi rilis (akhir). Tapi menikmati Jolicloud laksana saya menikmati iPhone ala jailbrake dengan firmware terbaru berbasis open source Linux Ubuntu yang pada akhirnya “membiarkan pikiran saya tenang” dan bekerja dengan “style”.

Sebagai pengguna linux saya tidak menyarankan anda membuang Windows XP asli prabrikan netbook asalkan saja aplikasi lainnya bukan sofrware bajakan, gunakanlah aplikasi freeware yang bisa diunduh di www.filehippo.com atau opensource berbasis Windows. Lalu installkan Jolicloud langsung dari Windows XP dari sini http://www.jolicloud.com/download#jolicloud-express selanjutnya jangan salahkan saya kalau anda akan kecanduan memakai Jolicloud ketimbang Windows XP.

Jika anda membaca artikel ini, baca juga:



lotta loves from,
Tuesday, March 02, 2010
Teman saya tertawa terbahak bahak sampai airmatanya keluar. Entah karena dia orang mudah terhibur atau karena jawaban saya yang lucu saat dia menanyakan siapa benchmarking saya dan saya menjawabnya "choky sitohang".
Secara GUI saya sama dia ga jauh beda, dia sexy dan saya kurang sexy tapi lebih pintar, fungsi basic saya malah lebih banyak shortcut yang lebih mendukung produktivitas ketimbang via agency untuk menghubungi choky sitohang. Lah emang siapa sih choky sitohang dan siapa saya? Ga penting lagi kayaknya saat ini untuk melihat packaging.

gak penting banged ya 

sing penting ferform
sing penting lebih irit kalo bisa gratis
pilih yang mahal atau yang murah
pilih yang beli atau gratis
pilih yang bajakan atau asli
pilih yang halal atau haram

semuanya ga ada pilihan yang pasti, tapi kembali ke kebiasaan. Toh orang jadul dulu bilang, ala bisa karena terbiasa, jadi jangan saling menyalahkan dan saling membedakan sebuah perbedaan yang bukan pada levelnya masing masing. Kalo mau membandingkan adalah perbandingan Win 7 dengan Mac OS Leopard propietaries yang berbayar dan sama sama bergerak di mainstream-nya bisnis IT, tidak membandingak Ubuntu 9.10 sebagai Win7 killers.

this is totally wrong
Jangan  mentang mentang Windows berasal dari Amerika, lantas haram dan Linux halal tidak seperti itu dab. Apalagi sampai Ubuntu 9.10 (at least itu rilis terakhir) mau mendebat Win 7, ya nggak aja kale, tapi kalau Linux Mint 8 (which is masih keturunan yang dipercantik dari ubuntu 9.10) ya jelas lewat lah. Saya harap kalian mengerti maksud saya, ya ya ya!
Teman saya mas Rijal menulis jujur tentang perbandingan Ubuntu 9.10 dengan Win 7 di blognya serta konsekuensi kalo masih memakai Win 7 versi RC (Release Candidate) yang pernah diberikan icip-icip oleh Microsoft sebagai pemanis kepasa public atas Vista yang gagal, menurut saya Win. 7 tidak lebih dari XP yang diupgrade itu saja, karena saya tidak melihat begitu signifikan untuk sebuah OS berbayar jika kita harus mengeluarkan kocek paling $200 untuk full home package atau $120 untuk versi upgrade.


being realistic and being fair 
So, ayolah kalau memang tidak mampu beli barang asli jangan membajaknya. Itu haram sifatnya paling tidak itu fatwa saya sebelum difatwa-kan MUI yang masih sibuk dengan urusan nikah sirih itu. Saya tidak membenci propeitary software, saya hanya mengibarkan bendera berperang terhadap pencurian hak intelektual. Saya tidak mau disebut pencuri karena saya tinggal di Indonesia dimana kekayaan intelektual orang lain dibajak sejumlah $411 juta di tahun 2007 dan $544 juta di tahun 2008, saya harap dengan dimulainya GCOS pertama 2009 lalu serta adanya PP yang mengatur 2009 akan menurun angka pencurian itu. Tunggu, $544 juta itu kira kira Rp. 5.440.000.000.000,- duh banyak banget ya, sampe saya nggak tahu mengejanya itu trilyun apa bilyar ya?  

Eh tunggu maksudnya kalo kita ga usah membayar sejumlah itu dengan memakai software tak berlicensi dan tak berbayar alias Linux - Ubuntu, berarti kita  bisa ngirit sejumlah itu kan dan uang kita ga berpindah keluar negri. 

Tapi kayaknya lebih dari cukup untuk menyulap Jogja menjadi Singapore. 

saya menyesal mengenal linux
sudah lebih empat tahu ini saya menyesal karena saya memakai linux, tepatnya turunan ubuntu  jaunty yang ditouch-up menjadi jolicloud yang cocok di netbook saya dan linux mint 7 berbalut lembut XFCE yang ringan dan powerfull di notebook dell inspiron lama saya. YA! Saya menyesal kenapa saya duluan mengenal windows ketika awal kursus komputer dulu yang membuat otak saya statis.

 So, see me at the Ubuntu mendebat Windows 7 di acara mega bazaar komputer 2010 yang berlangsung dari tgl 3 s/d 7 Maret di JEC - Jogja


dj, sudah "meracuni" 28 komputer teman dipasangi ubuntu 

lotta loves from,

Thursday, January 07, 2010
from HelloTxt
HEY Look!
Who doesn't like to see a sexy women or sexy men? Regardless sex orientation I think we are as human being love to explore more down to the heart from a sexy creatures! Ya iyalah gila, kalo Tifatul Sembiring saja masih ber-alay ria dengan trend terkini, lantas kalian yang masih memakai aplikasi bajakan mau kapan sih maju negara ini?

Peraturan perundangan tentak haki sudah ada.
PP tentang FOSS di Indonesia susah ada.
Depkominfo & Ristek sangat mendukung.
Beberapa lembaga & pemerintahan daerah sudah banyak yang migrasi.

Lantas Desktop kalian masih dijejadi dengan windows & aplikasinya yang bajakan? Lo sama sekali bukan temen gue sumpah!!

Okelah kalau begitu!
I was and am windows users too! Lha gimana gue bisa bilang kalo linux tuh sexy kalau gue ga make OS lain? Kalo tahunya cuma satu "bojo" doang gimana bisa komentar kepada yang lain kalo bojo kita paling sexy? ya kan.... Ya! terlepas gonjang ganjing peraturan pemerintah baru yang sedang diformulakan untuk yang nikah sirih yang sebentar lagi tuh penjara yang tidak layak huni itu akan semakin dijejali oleh para korban peraturan pemerintah yang baru!
Ah Jadi ngaco nih!

Lebih dari 3 tahun saya pastinya beragama dua, windows & linux. Katakanlah itu agama saya, karena setiap hari saya lebih menghabiskan hidup saya dengannya ketimbang menjalankan agama yang dinormakan di Indonesia. Saya cukup loyal dengan agama baru saya, meski 70% saya lebih nunut sama linux.

YA! Saya begitu memujanya, dan saya jujur menyesal kenapa tidak sejak dulu saya memakainya, kepuasan multi orgasme yang tiada tara jika saya bergelut dengan linux, kepuasan bathin, ketenangan pikiran dan kepenasaranan kira kira jurus bercinta apa lagi yang dia bisa memuaskan lahir dan bathin saya.

Ah mungkin memang saya seorang adventure!



Tuesday, November 10, 2009



Keep it simple and stupid!

I hate cmd lines, but sometimes looked cool when other guys next to your sofa pay attention to your screen, and he would spontaniously shout... "sorry, but how could you do that"? off course I would say, I don't do windows (hehe padahal dual boot).

Apparently I had no passion to wait for GUI downloader especially for youtube files, it just making me more nervous when streaming becoming so flickering on my screen, especially in the public are. So, my tip to download youtube files silently downloaded while you are working with your another GUI applications, I suggest you to utilize what so call "youtube-dl" small appication under your synaptic packages.

Here is some steps to do:
1. Open your synaptic package software and search for youtube-dl, and install them.
2. Copy your desire youtube url (highlight the link and copy it by using ctrl+c)
3. Open you terminal
4. Type "yourtube-dl" space hold shift+ctrl+V (do not type ")
5. Enter --voila... the files will be downloaded to your folder "/home/yourname"

Trust me it gives you more productivity coz a lot of shortcut, what else you wanna do? off course you can't do that on windows

KISS - Keep is simple and stupid.

lotta loves from,
Sunday, November 01, 2009
[Jogja 01/11/09]

Sebuah pekerjaan rumah panjang untuk AOSI

Guru kencing berdiri murid kencing berlari, ubunteros terkencing-kencing, mungkin begitu padanan peribahasanya untuk kondisi dunia open source saat ini di Indonesia. Bagaimana tidak? Jangan disanggah kalau razia software bajakan yang pernah terdengar dilakukan pihak berwajib dirasa “panas-panas tai ayam saja” alias sekarang tidak lagi terdengar gaungnya.

Indonesia masih menjadi negara yang melegalitas bajakan, betul? Ah sudahlah, saya sekarang tidak akan membicarakan isu yang dirasa sangat sensitif ini, saya hanya ingin sharing apa yang menjadi observasi saya selama mengikuti sesi public speaking di forum GCOS 2009 26-27/10/09 di Hotel Shangri-La, sebuah hotel yang sangat mewah untuk event yang mestinya bersifat akar rumput ini.

Mainstreaming, entah apa istilah dalam bahasa Indonesia yang pantas untuk menjelaskannya kata asing ini, tapi marilah kita perumpakan sebuah industri film-film yang diputar di bioskop itu adalah film-film mainstream yang dikenal banyak orang dan menghasilkan uang bagi sebuah perusahaan film raksasa sedangkan sebaliknya film independen (indi movie) paling banter masuk dalam festival film-film yang hanya ditonton oleh segelintir orang yang khusus tertarik di bidang ini atau hanya dari kalangan tersendiri.

Apakah cita-cita me-mainstreaming-kan FOSS adalah seperti itu? Mudah-mudahan tidak tentunya. FOSS, katakanlah linux untuk saya masih ber-imej GRATIS artinya saya bisa unduh dan memakainya untuk keperluan keseharian saya berkutat dengan netbook saya tanpa saya bayar dan tanpa saya minta ijin sama empunya untuk menyebarkannya. Saya takut malah suatu saat nanti FOSS (red. Linux) malah akan menjadi proprietary software seperti sekarang saja hanya bersipat sebagai competitor dalam bidang IT?

NO no NO, I hope not!!

Lebih jauh, menurut hemat saya mainstreaming adalah suatu proses dimana semua pihak terkait dan dilibatkan untuk membuat "sebuah mimpi" terwujud dan menjadikan suatu collective agreement bagi semua pihak dan tentunya diimplementasikan tidak hanya dijadikan wacana.

Tentunya ini memerlukan proses dan time consuming, tapi sebenarnya kita ini ada di fase yang mana sih? Selama saya mengikuti workshop khusus yang memfokuskan di isu goverment saya tidak mendapatkan jawaban itu. Jadi memang susah untuk menimbang apa dan bagaimana yang seharusnya dilalukan untuk menciptakan iklim open source di Indonesia saat ini dan dikemudian hari. Harapan saya sebenarnya ada seorang pembicara dari ristek yang mampu me-mapping status dan kondisi saat ini di Indonesia yang bisa dirangkum dari sisi kebijakan pemerintah entah itu dari segi hukum, pendidikan dan campaign pemerintah untuk FOSS ini, ataupun masukan dari pengguna serta pemerhati di bidang FOSS entah itu dari komuniatas maupun corporate (badan usaha) di bidang TI beserta vendor.

Tapi sampai dengan kepulangan saya ke Jogja, saya tidak mendapatkan catatan penting ini yang seharusnya saya rangkum dan saya sharingkan dengan teman-teman dikemudian hari.


Hilangnya Logo Tutwuri Handayani

Ada dua institusi pemerintah yang terlibat dalam ajang GCOS 2009, yaitu Ristek & Depkominfo yang menunjuk AOSI sebagai organiser acara GCOS 2009 ini. Saya merasa ada satu institusi yang seharusnya dilibatkan tapi saya simpan dalam hati dan ingin menanyakannya langsung kepada AOSI suatu saat nanti yaitu Department Pendidikan yang seharusnya menjadi embrio cikal bakal pertumbuhan dunia FOSS di Indonesia.

Saya masih ingat jaman saya dulu (maksudnya sekarang sudah tua hehe) dimana kebudayaan itu dibawah satu atap dengan pendidikan, dan entah kapan atau entah apa yang terjadi sewaktu kebudayaan dilimpahkan ke deparment pariwisata, maka yang diperhatikan adalah bagaimana memaketkan budaya nusantara ini sebagai paket promosi pariwisata bukan lagi bagaimanan tetap menanamkan dalam benak fikiran anak-anak Indonesia untuk mengenal budaya dan mencintainya serta melestarikannya. Jadi ya tidak heran kalo ada negara lain yang mengklaim seni budaya Indonesia sebagai budaya aslinya mereka. Entah kapan dunia pendidikan Indonesia akan berhenti dijadikan kelinci percobaan.

Memang ada sederet anak murid yang diundangi ke GCOS ini dan duduk persis di jajaran depan untuk menerima anugerah penghargaan dari kejuaraan di event lain, tapi tidak ada perwakilan yang resmi dari dunia pendidikan sekedar untuk sharing bagaimana seharusnya FOSS ini sudah masuk dalam kurikulum sekolah dasar.

Dalam program kerja AOSI No.10 di bidang pendidikan adalah dengan adanya akses terhadap e-book untuk pelajaran TIK Open Source di sekolah-sekolah, syukurlah sebuah wajah tak asing bagi saya pak Rusmanto seorang yang wajahnya sering ada di majalah info linux yang masih saya beli secara eceran di agen adalah seorang penaggung jawab program kerja ini. Saya berharap lewat media yang beliau asuh bisa menyisipkan pesan-pesan terhadap dunia pendidikan untuk sosialisasi FOSS di Indonesia.

Sebuah statement yang sudah menjadi rahasia umum saya quote dari tulisan Ex President Director of IBM Indonesia dan sekarang adalah seorang Business Woman yang juga sebagai Duta Open Source sekalian ketua AOSI Betti Alisjahbana dalam tulisannya yang bertajuk Peran Strategis Open Source Bagi Indonesia pada penutupan Pada acara penutupan IGOS Summit 2 tanggal 28 Mei 2008 menyinggung masalah saat ini yang terjadi di masyarakat dalam menumbuh-kembangkan FOSS di indonesia dalam dunia pendidikan dimana “Pendidikan di sekolah-sekolah masih berorientasi pada perangkat lunak proprietary baik dari segi materi pengajaran maupun media pendukungnya (buku, perangkat lunak yang digunakan )”.

Sepertinya masalah ini telah dibantu oleh Rusmanto dalam majalah info linux bulan Agustus 2009 yang menelurkan sebuah tulisan utama mengulas seputar apa yang bisa dilakukan oleh linux dalam dunia pendidikan.

OK! Asumsi saya sekarang adalah usaha yang dilakukan untuk mengenalkan FOSS telah dilakukan, satu bukti diatas adalah usaha kongkrit yang telah Rusmanto lakukan sebagai penanggung-jawab program.

Pertanyaan saya adalah; apa dengan adanya akses murid dan pengajar terhadap materi pembelajaran FOSS di kalangan dunia pendidikan sudah dikategorikan sebagai mainstreaming FOSS di Indonesia?

Mungkin lagi Ebiet yang menjawab, “tanyakan pada rumput yang bergoyang”, hanya waktu yang bicara tentunya.

Baca selanjutnya di artikel bertajuk: “Migrasi Open Source Sarat Dengan Intrik Politik”.

ilustrasi: infolinux.web.id


How ubuntu are you?

join me on