Tidak heran, kemudian, bahwa ketika pengguna Windows (red Aku) akhirnya mampu memecahkan/memutuskan rantai kapitalis IT dan beralih ke sebuah OS dan aplikasi yang bebas dipakai maupun didistribusikan untuk sebuah kebebasan pengalaman pada desktop Linux. Selanjutnya mereka (para sales support) menatapku tak percaya ketika aku bilanng aku akan “menuntut mereka” untuk apa yang mereka tawarkan menginstallkan aplikasi apa saja yang ingin Aku installkan. Toh Aku tidak bilang kalau Aku pengguna Linux, mereka enggan untuk menghentikan mental bajakan itu. Mereka masih berfikir costumer akan merasa senang jika mereka mengisntallkan aplikasi aplikasi bajakan di net/notebook “mereka” dan ini benar benar sebuah PEMERKOSAAN massal yang BIADAB.
Microsoft Windows yang dirancang untuk memungkinkan orang luar (non authorise) untuk menjalankan perangkat lunak pada sistem kita. Perusahaan software yang menjustifikasi dengan mengatakan bahwa kita akan mendapatkan pengalaman dan dapat melakukan hal-hal yang dianggap keren pada desktop kita. Padahal menurut Aku harus jelas sekarang bahwa hanya orang yang mempunyai akses terhadap sistim adalah mereka yang mendapatkan benefit dan selanjutnya bertanggung jawab terhadap pengamanan tambahan didalam sistim atau memperbaiki kerusakan sistem yang disebabkan oleh itu.
Seperti bercinta dengan seorang pelacur cantik, kembangnya “pasar kembang”
Pada Linux, ada built-in perlindungan terhadap “kerajinan” tersebut. File baru yang tersimpan dari klien email kita atau browser Web tidak langsung diberi hak mengeksekusi. Mallware memang cerdik, ia mampu mengubah extensi nama file yang dapat dieksekusi secara umum dalam OS windows tapi tidak dengan LINUX, karena Linux dan aplikasinya tidak tergantung pada ekstensi file untuk mengidentifikasi sifat-sifat suatu file, sehingga mereka tidak akan keliru mengeksekusi malware saat mereka berinteraksi dengan itu. Keren kan?
Lalu mereka bertanya apa tinggal di kampung Linux tahan terhadap serangan terosris? Apakah rumah rumah di kampung Linux tahan thd peluru? Saya bilang tidak juga, cuma kita harus bertindak cerdas dan cepat untuk untuk menjaga sistem lingkungan dan kita tidak sendiri, kita melakukannya bersama sama tanpa pamrih, itu adalah sebuah kekayaan budi yang tidak dimiliki kampung sebelah sana.
lotta loves from,
sing penting ferform
being realistic and being fair
saya menyesal mengenal linux
So, see me at the Ubuntu mendebat Windows 7 di acara mega bazaar komputer 2010 yang berlangsung dari tgl 3 s/d 7 Maret di JEC - Jogja
lotta loves from,
Who doesn't like to see a sexy women or sexy men? Regardless sex orientation I think we are as human being love to explore more down to the heart from a sexy creatures! Ya iyalah gila, kalo Tifatul Sembiring saja masih ber-alay ria dengan trend terkini, lantas kalian yang masih memakai aplikasi bajakan mau kapan sih maju negara ini?
Peraturan perundangan tentak haki sudah ada.
PP tentang FOSS di Indonesia susah ada.
Depkominfo & Ristek sangat mendukung.
Beberapa lembaga & pemerintahan daerah sudah banyak yang migrasi.
Okelah kalau begitu!
I was and am windows users too! Lha gimana gue bisa bilang kalo linux tuh sexy kalau gue ga make OS lain? Kalo tahunya cuma satu "bojo" doang gimana bisa komentar kepada yang lain kalo bojo kita paling sexy? ya kan.... Ya! terlepas gonjang ganjing peraturan pemerintah baru yang sedang diformulakan untuk yang nikah sirih yang sebentar lagi tuh penjara yang tidak layak huni itu akan semakin dijejali oleh para korban peraturan pemerintah yang baru! Ah Jadi ngaco nih!
Lebih dari 3 tahun saya pastinya beragama dua, windows & linux. Katakanlah itu agama saya, karena setiap hari saya lebih menghabiskan hidup saya dengannya ketimbang menjalankan agama yang dinormakan di Indonesia. Saya cukup loyal dengan agama baru saya, meski 70% saya lebih nunut sama linux.
YA! Saya begitu memujanya, dan saya jujur menyesal kenapa tidak sejak dulu saya memakainya, kepuasan multi orgasme yang tiada tara jika saya bergelut dengan linux, kepuasan bathin, ketenangan pikiran dan kepenasaranan kira kira jurus bercinta apa lagi yang dia bisa memuaskan lahir dan bathin saya.
Ah mungkin memang saya seorang adventure!



Sebuah pekerjaan rumah panjang untuk AOSI
Guru kencing berdiri murid kencing berlari, ubunteros terkencing-kencing, mungkin begitu padanan peribahasanya untuk kondisi dunia open source saat ini di Indonesia. Bagaimana tidak? Jangan disanggah kalau razia software bajakan yang pernah terdengar dilakukan pihak berwajib dirasa “panas-panas tai ayam saja” alias sekarang tidak lagi terdengar gaungnya.
Indonesia masih menjadi negara yang melegalitas bajakan, betul? Ah sudahlah, saya sekarang tidak akan membicarakan isu yang dirasa sangat sensitif ini, saya hanya ingin sharing apa yang menjadi observasi saya selama mengikuti sesi public speaking di forum GCOS 2009 26-27/10/09 di Hotel Shangri-La, sebuah hotel yang sangat mewah untuk event yang mestinya bersifat akar rumput ini.
Mainstreaming, entah apa istilah dalam bahasa Indonesia yang pantas untuk menjelaskannya kata asing ini, tapi marilah kita perumpakan sebuah industri film-film yang diputar di bioskop itu adalah film-film mainstream yang dikenal banyak orang dan menghasilkan uang bagi sebuah perusahaan film raksasa sedangkan sebaliknya film independen (indi movie) paling banter masuk dalam festival film-film yang hanya ditonton oleh segelintir orang yang khusus tertarik di bidang ini atau hanya dari kalangan tersendiri.
Apakah cita-cita me-mainstreaming-kan FOSS adalah seperti itu? Mudah-mudahan tidak tentunya. FOSS, katakanlah linux untuk saya masih ber-imej GRATIS artinya saya bisa unduh dan memakainya untuk keperluan keseharian saya berkutat dengan netbook saya tanpa saya bayar dan tanpa saya minta ijin sama empunya untuk menyebarkannya. Saya takut malah suatu saat nanti FOSS (red. Linux) malah akan menjadi proprietary software seperti sekarang saja hanya bersipat sebagai competitor dalam bidang IT?
NO no NO, I hope not!!
Lebih jauh, menurut hemat saya mainstreaming adalah suatu proses dimana semua pihak terkait dan dilibatkan untuk membuat "sebuah mimpi" terwujud dan menjadikan suatu collective agreement bagi semua pihak dan tentunya diimplementasikan tidak hanya dijadikan wacana.
Tentunya ini memerlukan proses dan time consuming, tapi sebenarnya kita ini ada di fase yang mana sih? Selama saya mengikuti workshop khusus yang memfokuskan di isu goverment saya tidak mendapatkan jawaban itu. Jadi memang susah untuk menimbang apa dan bagaimana yang seharusnya dilalukan untuk menciptakan iklim open source di Indonesia saat ini dan dikemudian hari. Harapan saya sebenarnya ada seorang pembicara dari ristek yang mampu me-mapping status dan kondisi saat ini di Indonesia yang bisa dirangkum dari sisi kebijakan pemerintah entah itu dari segi hukum, pendidikan dan campaign pemerintah untuk FOSS ini, ataupun masukan dari pengguna serta pemerhati di bidang FOSS entah itu dari komuniatas maupun corporate (badan usaha) di bidang TI beserta vendor.
Tapi sampai dengan kepulangan saya ke Jogja, saya tidak mendapatkan catatan penting ini yang seharusnya saya rangkum dan saya sharingkan dengan teman-teman dikemudian hari.
Hilangnya Logo Tutwuri Handayani
Ada dua institusi pemerintah yang terlibat dalam ajang GCOS 2009, yaitu Ristek & Depkominfo yang menunjuk AOSI sebagai organiser acara GCOS 2009 ini. Saya merasa ada satu institusi yang seharusnya dilibatkan tapi saya simpan dalam hati dan ingin menanyakannya langsung kepada AOSI suatu saat nanti yaitu Department Pendidikan yang seharusnya menjadi embrio cikal bakal pertumbuhan dunia FOSS di Indonesia.
Saya masih ingat jaman saya dulu (maksudnya sekarang sudah tua hehe) dimana kebudayaan itu dibawah satu atap dengan pendidikan, dan entah kapan atau entah apa yang terjadi sewaktu kebudayaan dilimpahkan ke deparment pariwisata, maka yang diperhatikan adalah bagaimana memaketkan budaya nusantara ini sebagai paket promosi pariwisata bukan lagi bagaimanan tetap menanamkan dalam benak fikiran anak-anak Indonesia untuk mengenal budaya dan mencintainya serta melestarikannya. Jadi ya tidak heran kalo ada negara lain yang mengklaim seni budaya Indonesia sebagai budaya aslinya mereka. Entah kapan dunia pendidikan Indonesia akan berhenti dijadikan kelinci percobaan.
Memang ada sederet anak murid yang diundangi ke GCOS ini dan duduk persis di jajaran depan untuk menerima anugerah penghargaan dari kejuaraan di event lain, tapi tidak ada perwakilan yang resmi dari dunia pendidikan sekedar untuk sharing bagaimana seharusnya FOSS ini sudah masuk dalam kurikulum sekolah dasar.

Dalam program kerja AOSI No.10 di bidang pendidikan adalah dengan adanya akses terhadap e-book untuk pelajaran TIK Open Source di sekolah-sekolah, syukurlah sebuah wajah tak asing bagi saya pak Rusmanto seorang yang wajahnya sering ada di majalah info linux yang masih saya beli secara eceran di agen adalah seorang penaggung jawab program kerja ini. Saya berharap lewat media yang beliau asuh bisa menyisipkan pesan-pesan terhadap dunia pendidikan untuk sosialisasi FOSS di Indonesia.
Sebuah statement yang sudah menjadi rahasia umum saya quote dari tulisan Ex President Director of IBM Indonesia dan sekarang adalah seorang Business Woman yang juga sebagai Duta Open Source sekalian ketua AOSI Betti Alisjahbana dalam tulisannya yang bertajuk Peran Strategis Open Source Bagi Indonesia pada penutupan Pada acara penutupan IGOS Summit 2 tanggal 28 Mei 2008 menyinggung masalah saat ini yang terjadi di masyarakat dalam menumbuh-kembangkan FOSS di indonesia dalam dunia pendidikan dimana “Pendidikan di sekolah-sekolah masih berorientasi pada perangkat lunak proprietary baik dari segi materi pengajaran maupun media pendukungnya (buku, perangkat lunak yang digunakan )”.
Sepertinya masalah in
i telah dibantu oleh Rusmanto dalam majalah info linux bulan Agustus 2009 yang menelurkan sebuah tulisan utama mengulas seputar apa yang bisa dilakukan oleh linux dalam dunia pendidikan.
OK! Asumsi saya sekarang adalah usaha yang dilakukan untuk mengenalkan FOSS telah dilakukan, satu bukti diatas adalah usaha kongkrit yang telah Rusmanto lakukan sebagai penanggung-jawab program.
Pertanyaan saya adalah; apa dengan adanya akses murid dan pengajar terhadap materi pembelajaran FOSS di kalangan dunia pendidikan sudah dikategorikan sebagai mainstreaming FOSS di Indonesia?
Mungkin lagi Ebiet yang menjawab, “tanyakan pada rumput yang bergoyang”, hanya waktu yang bicara tentunya.
Baca selanjutnya di artikel bertajuk: “Migrasi Open Source Sarat Dengan Intrik Politik”.
ilustrasi: infolinux.web.id
How ubuntu are you?
translate this page
Blog Archive
-
►
2016
(1)
- ► December 2016 (1)
-
►
2014
(1)
- ► October 2014 (1)
-
►
2013
(1)
- ► December 2013 (1)
-
►
2011
(4)
- ► October 2011 (1)
- ► February 2011 (2)
-
►
2010
(30)
- ► November 2010 (5)
- ► October 2010 (3)
- ► April 2010 (4)
- ► March 2010 (4)
- ► February 2010 (2)
- ► January 2010 (3)
-
►
2009
(199)
- ► December 2009 (3)
- ► November 2009 (32)
- ► October 2009 (52)
- ► September 2009 (10)
- ► August 2009 (27)
- ► April 2009 (1)
- ► March 2009 (3)
- ► February 2009 (8)
- ► January 2009 (5)
-
►
2008
(86)
- ► November 2008 (5)
- ► October 2008 (9)
- ► September 2008 (3)
- ► August 2008 (4)
- ► March 2008 (10)
- ► February 2008 (19)
- ► January 2008 (2)
-
►
2007
(89)
- ► December 2007 (4)
- ► November 2007 (5)
- ► October 2007 (43)
- ► September 2007 (23)
- ► August 2007 (10)
- ► January 2007 (3)
