Showing posts with label polisi. Show all posts
Showing posts with label polisi. Show all posts
Wednesday, February 17, 2010
Membaca teman saya posting di wall-nya "Juaaancccuukkk tenan iki, moso ga ada sim sekarang kena 50 ribu".

Cuma yang tinggal di Jogja atau pernah ke Jogja yang melihat rambu-rambu jalan yang bertengger hampir di setiap “bangjo” sebutan lampu merah a la orang jogja. Saya pikir pasti kependekan dari “Abang = Merah” dan “Ijo = Hijau” untuk sebutan lampu pengatur lalu lintas di persimpangan jalan raya. Tapi kemungkinan besar rambu “turn-left-go” itu yang biasanya ditempel sebelah kiri di tiang bangjo akan lenyap dan tak akan dijumpai kembali, dikarenakan per 1 Februari peraturan lalulintas baru tahun 2009 yang di-syah-kan SBY itu akan diimplementasikan.

Peta berikut adalah lokasi saya pernah ditilang:


View Jogja - Lokasi Tilang Motor in a larger map

Alkitab yang berhalaman 203 lembar itu seakan sebuah alkitab perjanjian baru yang akan menjerat para pemakai kendaraan terutama di jalan protokol, saya tidak perlu menjelaskan detil dari semua tarif baru tilang tersebut tapi siapkan saja uang minimum Rp. 50.000 untuk tilang roda dua yang sms-an atau terima telephone sambil mengendarai motor dan maximum Rp. 750.000 rupiah saja! Karena dikategorikan mengendarai tidak konsentrasi dan membahayakan nyawa orang lain. Sepertinya saya harus istirahatkan ipod saya mulai sekarang jika saya harus bepergian dengan si “white angel” mio 2007 kesayangan saya, padahal dengan earphone ipod yang menempel dikuping saya, saya merasa lebih konsentrasi kalau mengendarai motor, tapi saya tidak bisa membela argumentasi saya ini di depan hakim bukan?

Sekali palu telah diketok tidak mungkin ditarik kembali kecuali saya menyewa seorang pengacara hebat yang mau membela saya dengan bayaran super mahal tentunya, meskipun ada indikasi bahwa people power sedang naik daun saat ini. Ah, semoga tidak menambah poin negatif untuk SBY yang sedang di-demo diseluruh Nusantara yang puncaknya 28 Januari kemarin, tapi toh tetep kelihatannya rupiah masih menunjukan angka yang kuat terhadap mata uang kuat lainnya. Ini bukti kalau kepercayaan internasional tehadap Indonesia masih megang!

Jadi ya mari, siapapun pemimpin di negri ini kita dukung demi kemajuan yang lebih baik lagi. Toh yang terpilih adalah seorang yang terbaik dari yang “paling baik” atau diantara yang terjelek. Yo! Kita buktikan kalau demokrasi di Indonesia adalah yang terbaik dalam sejarah peradaban di muka bumi ini.

OK. Stop the crap!

Awal bulan Februari ini saya kedatangan teman CS saya dari Melaka, Malasia. Jimmy yang seorang chinese asal kota dengan pasukan pemadam kebakaran terbanyak di Indonesia Banjarmasin, yang telah bertahun-tahun tinggal di negeri jiran itu untuk study dan mungkin juga berbisnis (mana aku tahu). Ceritanya saya meminjamkan Mio kesayangan saya ke dia, toh waktu itu juga saya sedang tidak begitu mobile, suatu pagi disaat saya rush harus tiba 20 menit lagi di hotel Jayakarta untuk workshop sementara waktu tempuh kesana seharusnya hanya 15 menit, tapi sewaktu mesin dipanaskan dan motor dibawa keluar gerbang tiba tiba mesin mati dan setelah itu semua kelistrikan mati total. Saya curiga kalau sikring yang mengatur kelistrikan itu putus dan saya ganti yang baru tapi kelistrikan tetap mati. Alhasil saya dorong motor ke bengkel resmi terdekat untuk diperiksa kelistrikannya, karena teori saya sudah tidak ada buktinya, mungkin teknisi resmi lebih tahu penyebabnya.

Bengkel menyarankan saya mengganti accu kering yang sudah saya pakai selama hampir 2 tahun dan tidak pernah ada masalah, karena saya pikir teknisi lebih pintar ketimbang saya yang hanya berasumsi saya nurut saja mengganti accu dan menebus dengan accu biasa seharga Rp. 100.000 dengan syarat meninggalkan accu kering lama saya di bengkel, tentunya masih punya nilai ekonomis buat dia untuk dijual kembali atau di-rekon.

Dua hari kemudian kejadian yang sama persis terulang kembali. Dengan kedongkolan di hati yang merasa ditipu oleh bengkel, saya bawa motor saya kembali dan saya meminta untuk mengurut kabel-kabel beserta rumah/dudukan sikring, saya memang bukan teknisi lulusan YAMAHA tapi akal saya jalan dengan menggabungkan teori, saya pikir kenapa manusia dibekali otak untuk berfikir secara logic dengan menggabungkan beberapa kasus dengan teori yang ada. Kemudian bengkel bilang dudukan sikring asli harus diganti karena goyang mungkin ini penyebab kelistrikan yang tidak optimal, saya rogoh lagi saku untuk menebus harga dudukan sikring saya lupa harganya dan bicara soal uang saya tidak masalah asalkan memang apa yang saya keluarkan adalah apa yang saya nikmati untuk hidup.

Cerita ini belum akhir, sewaktu saya ambil motor sepulang kerja lalu saya nyalakan dengan electrict starter menampakan sistim yang normal, tapi di tengah jalan saya merasa ada yang aneh di dashboard motor dan saya baru menyadari kalo jarum indikasi bensin tidak bergerak!!

What the fuck!! Semoga perut saya tidak ditusuk dengan obeng atau kepala saya dipukul kunci inggris jika untuk kesekian kali ini saya marah dan cukup sudah pengalaman saya dengan malpraktek teknisi YAMAHA yang telah banyak merugikan saya, dan lagi lagi saya dinasihati untuk mengganti sensor elektrik pelampung yang menempel di tangki bensin dibawah jok! Saya menolak mentah mentah dan saya minta mereka untuk membersihkan sambungan kabel dengan fitting sensor tersebut dengan FWD, sejenis cairan yang bisa merontokan debu maupun karat yang biasa menggerakan komponen mekanik tapi bisa juga membersihkan debu atau partikel lain yang mengganggu sambungan kabel kelistrikan suatu komponen.

Alhasil, Alhamdulillah jarum penunjuk bensin di dashboard motor bergerak meskipun pelan pelan dan tetap si bengkel bilang kalau ini biasanya hanya sesaat. Tapi biarlah, saya tidak mau mengeluarkan uang lagi yang telah merampok saya lebih dari Rp. 100.000 untuk analisa salah dari seorang ahli.

Ada yang dirugikan – Ada yang diuntungkan

Ini adalah contoh nyata dari pengalaman saya. Kembali ke kasus undang undang baru lalu lintas yang menharuskan menyalakan lampu motor di siang hari adalah sebab dari akibat kelistrikan yang yang tidak maksimal atau pun cepat rusak. Jujur, hanya bisa dihitung dengan jadi saya memadamkan lampu motor sejak akhir 2006 di siang hari, itupun saya tidak menambahkan aksesoris kelistrikan yang bisa mempengaruhi kinerja sistim secara signifikan.

Tahu kan sekarang yang saya maksud? Saya dirugikan pedagang diuntungkan dengan adanya peraturan baru ini. Bolehkan kalau saya berprasangka kalau ada udang dibalik batu? Berapa persen perdagangan melonjak untuk spare-part motor dan berapa keuntungan yang diperoleh para kapitalis tersebut.

Okelah kalau begitu! Kalau lahan korupsi di Indonesia sudah mulai menyempit dengan adanya “senjata makan tuan” pastinya mesti muter otak bagaimana bisa membuka lahan baru. Dulu jaman petani penggarap lahan berpindah pindah dari mulai membuka hutan subur lalu membakarnya dan merusaknya kemudian menanam tanaman palawija yang bisa dimakan seumur musim jagung, setelah lahan tak lagi berproduksi mereka akan pindah ke lahan baru untuk membuka ladang yang mempunyai secercah harapan demi mempertahankan hidup.

Seperti itukah gambarannya? Saya tidak ingin berasumsi lebih jauh, tapi azas praduga tak bersalah masih dalam batas kewajaran kan?


lotta loves from,
Monday, September 03, 2007
Jogja] 02.09.07

22:30 Lampu Merah Per3-an Wirobrajan gw nyadar nerobos lampu merah secara gak ada kendaraan lain dari arah yang sama secara gas lagi full, masa mau mengerem mendadak secara akan membuat motor gw oleng nantinya dan duarr!

Lampu merah berikutnya gak sempet ngerem dan gue hanya memperlambat jalan aja dan bergabung dengan gerombolan motor lain melaju, dan berikut lampu merah ke-tiga aman-aman aja, but sebelah kanan gue motor trail polisi mepet gue suruh menepi;

Polisi : Malam mas, darimana? (sok sopan)

DJ : Dari anter temen, kenapa mas saya distop ? (pura2 bego)

Polisi : Anda tadi menerobos lampu merah di pertigaan dan di lampu merah berikut anda tidak berhenti didalam garis marka (terlalu kekiri).

DJ : Oh iya? Ini SIM dan STNK saya, trus gimana ? (masih pura2 bego)

Polisi : Ikut ke pos sebentar (sambil nyalain motornya), gue secara mengekor aja meng-iyakan.


Di Pos Polisi:

Polisi : Anda tahu kesalahannya apa mas? (polisi yang jaga di pos tanya), secara polisi yang nyemprit gue diluar sama alap-alap polisi lainnya.

DJ : Saya menerobos lampu merah di pertigaan dan katanya tidak masuk di marka garis lurus di lampu merah berikutnya.

Polisi : Tuh anda tahu anda salah, trus kenapa masih dilanggar.

DJ : Iya saya memang salah, sekarang saya tilang aja dan saya minta TANDA TILANG LEMBARAN BIRU aja.

Polisi : Bengong terheran heran gue minta KARTU BIRU, tanpa gue kasih dia kesempatan gue timpali lagi.

DJ : Iya saya mengakui kesalahan saya dan saya akan membayar di kas BRI besok (dengan sok yakin dan PD abis dan super cuek dengan

mata gw tatap muka dia)

Polisi : Koq gitu mas? Nanti masnya report ngurusnya dan kita gak selamanya piket loh.

DJ : Lho kan kalo ada berkas tilang semua diserahkan ke kantor polisi terdekat dan saya nanti akan ambil setelah bawa

bukti pembayaran tilang di BRI, kan SIM saya tidak dipegang mas-nya.

Polisi : Semakin bengong dengan muka merah sekan mau menerkam gue. "Ya udah tunggu sebentar ya",

dia meninggalkan gue didalam pos secara dia keluar mendekati polisi yang nyemprit gue tadi diluar, lebih dari 5 menit baru mereka

berdua kedalam pos ketemu gue lagi.

DJ : Gimana?

Polisi : Gini aja mas, di BRI ato disini pasti ongkos tilangnya sama koq, langgar lampu merah 15 ribu, langgar marka jalan 15 ribu,

jadi totalnya 30 ribu, gimana ?

DJ : Ya udah, kalo memang sama saya bayar disini tapi saya tetep tanda tangani lembar biru bukan lembar merah.

Tapi saya Cuma da duit 20ribu aja gimana ?

Polisi : Ya gak bisa mas, ini tiket tilang gak bisa ditawar tetep sama aja 30 ribu.

DJ : Ya kalo gak bisa bayar 20ribu biar saya bayar di BRI aja, malam ini saya gak ada uang segitu Cuma ada 25ribu,

kalo saya bayart ilang 20ribu sisanya buat beli bensin biar bisa nyampe ke Jakal.

Polisi : Emang Jakal KM berapa ? (masih sok manis akrab)

DJ : KM8 (berharap polisi yang nyemprit mau anterin gue kalo habis bensin, manis sih), bensin sudah E mas, tambah gue lagi

Polisi : Ya udah deh, Cuma lain kali jangan diulang ya !

DJ : Keluarin 1 lembar 10 ribu, 1 lembar 5 ribu, 5 lembar seribuan yang udah lusuh (sok kere gitu loh)


Catatan :

  • Lembar Biru Tilang = Lembar kalo kita mengakui kesalahan kita dan sesuai dengan kesalahan yang kita perbuat makan akan ditulis juga ongkos tilang sesuai dengan peratuan yang ada (tidak mark up, hehehe). Jumlah ongkos tilang gak mungkin lebih dari polisi minta jika bayar ditempat (red. Titip bayar) dan setelah kita bayar di BRI masuk kas negara, kita ambil aja SIM yang ditahan di Pengadilan yang ditunjuk ato di Kantor Polisi. Emang agak ribet, tapi cobalah pikir kalo uang akan masuk kas negara tidak ke kantong para alap-alap tilang itu. Fair enuf kan…. ?
  • Jadi…. Trail URC itu menguber gue selama 3 lampu merah itu ??? Koq selama itu sih, padahal kan bisa aja dia nyemprit gue di lampu merah pertama ! Kenapa mesti membiarkan gue melewati 3 lampu merah baru nyemprit gue ? Ada apa dengan pak polisi manis itu ? Apa dia maunya ngekor gue sampe ke rumah gue ? (maunya !) Apa trail dia yang slow-motion ato Mio gue yang melesat bak meteor ? Kira-kira apa ya penyebabnya? Apa polisi itu masih lom sure kalo gue bikin kesalahan atau menunggu gue bikin kesalahan lagi? Bayangkan kalo Cuma 1 kesalahan Cuma 15ribu kalo 2 kesalahan kan jadi 30ribu gito loh! Jawabannya is "I DON'T KNOW"! and Ora Urus!

DJ, kalo bisa dipersulit kenapa mesti dipermudah ?

join me on