Showing posts with label surabaya. Show all posts
Showing posts with label surabaya. Show all posts
Saturday, May 10, 2008
Garden Hotel Surabaya

Umurnya sudah lebh dari 30 tahun, dibuka sekitar tahun 1971 begitu kata seorang waiter yang sudah berumur 51 tahun dan bekerja selama hotel buka, dan tetep waiter di coffee shop!

Hotel tua dan kurang terawat, lain dengan adiknya Hotel Garden Palace yang nempel 1 komplek, tapi karena mengingat budget hotel gue kalo traveling, jangan lebih dari 390ribu jadi aku bisa tebus harga per kamar sekitar 300ribu saja. Menurutku cukup nyaman dan aman, walking distance ke WTC, Surabaya Plaza, Monkasel dan Pattaya serta Texas.... the nite sex market. Apalagi cuma nempel dengan Zangrandy... ice cream italy yang ga buka cabang dimana mana yang terkenal sejak omanya temenku masih gadis, juga sebrangan dengan youth center dimana gue bisa cuci mata selepas kerja sekedar liat-liat art performance disana. Pokoke value for money...

Sidewalk Cafe

Ini konsep entertainment yang cukup brave! Sejak setahun terakhir aku jadi pelanggan tetap hotel ini, ya karena ada sidewalk cafe yang menyajikan Jazz semi outdoor yang sifatnya permanen, terletak di halaman depan hotel sehingga hotel tidak nampak dari depan (mungkin karena nampak ga menarik lagi). Diseponsori oleh Sampoerna Premium, jelas Sidewalk Cafe menyuguhkan hiburan untuk pecinta Jazz yang notabene above 25yo artinya lumayan punya buying power.

Beberapa kaliber jazzer indonesia nampaknya pernah mampir disini, seperti Tompi, Syahrani, Andien, dll. Ini terpampang di foto2 wall of fame-nya mereka. Untuk sekelas hotel katakan average spen selama 8-10 malam rp.50ribu saja lah.

So if you happen to visit Surabaya, I would reccommend to stay here and enjoy the music of the soul....

dj-jazz-lover

lotta loves from,

Garden Hotel Surabaya

Umurnya sudah lebh dari 30 tahun, dibuka sekitar tahun 1971 begitu kata seorang waiter yang sudah berumur 51 tahun dan bekerja selama hotel buka, dan tetep waiter di coffee shop!

Hotel tua dan kurang terawat, lain dengan adiknya Hotel Garden Palace yang nempel 1 komplek, tapi karena mengingat budget hotel gue kalo traveling, jangan lebih dari 390ribu jadi aku bisa tebus harga per kamar sekitar 300ribu saja. Menurutku cukup nyaman dan aman, walking distance ke WTC, Surabaya Plaza,  Monkasel dan Pattaya serta Texas.... the nite sex market. Apalagi cuma nempel dengan Zangrandy... ice cream italy yang ga buka cabang dimana mana yang terkenal sejak omanya temenku masih gadis, juga sebrangan dengan youth center dimana gue bisa cuci mata selepas kerja sekedar liat-liat art performance disana. Pokoke value for money...

Sidewalk Cafe

Ini konsep entertainment yang cukup brave! Sejak setahun terakhir aku jadi pelanggan tetap hotel ini, ya karena ada sidewalk cafe yang menyajikan Jazz semi outdoor yang sifatnya permanen, terletak di halaman depan hotel sehingga hotel tidak nampak dari depan (mungkin karena nampak ga menarik lagi). Diseponsori oleh Sampoerna Premium, jelas Sidewalk Cafe menyuguhkan hiburan untuk pecinta Jazz yang notabene above 25yo artinya lumayan punya buying power.

Beberapa kaliber jazzer indonesia nampaknya pernah mampir disini, seperti Tompi, Syahrani, Andien, dll. Ini terpampang di foto2 wall of fame-nya mereka. Untuk sekelas hotel katakan average spen selama 8-10 malam rp.50ribu saja lah.

So if you happen to visit Surabaya, I would reccommend to stay here and enjoy the music of the soul.... 

dj-jazz-lover

lotta loves from,


FACE OFF

Jadi tukang keliling kota on company account memang menyenangkan sekaligus juga memusingkan, senangnya karena bisa ketemu banyak orang dengan latar budaya berbeda dan sekaligus bisa mencicipi masakan lokal, akan tetapi tense pekerjaan juga tak kalah membuat aku terkadang lebih senang stay Jogja untuk beberapa waktu. 

Berbeda dengan Medan.
Berbeda dengan tahun lalu.

Surabaya sekarang nampaknya mulai ramah kepada pendatang terutama yang ingin menghamburkan uang untuk sodara kita dari kawasan Indonesia bagian timur, selain terkenal dengan wisata belanja juga tekenal dengan wisata bahari (red. baca birahi). Aku tidak akan mengomentari wisata belanja yang mungkin sedikit telah aku posting diawal thread ini, maupun wisata birahi yang trip kali ini benar-benar aku tidak ada hasrat untuk menyalurkan birahi di kota buaya, yang penuh dengan buaya daratnya, karena memang selama 2 minggu terkahir aku benar-benar sedang tidak bisa menikmati ritual birahiku. Entahlah.

Yang ingin aku share kali ini adalah dimana Surabaya nampak semakin cantik, bukan karena produk pemutih lebih menunjukkan angka penjualan yang tinggi dibanding kota lain, akan tetapi Surabaya banyak didapati pojok-pojok kota yang apik dan cantik dengan dibuatnya taman-taman kecil yang disediakan untuk masyarakat untuk bersosialisasi sambil menikmati indahnya kerlap kerlip lampu malam. YA IYALAH MASA YA IYA DONG kalo siang hari kan bisa buat jemur ikan peda!

Trototar dipercantik dan diperlebar disana sini, kaki 5 juga sudah berkurang banyak tidak seperti 2 tahun lalu yang nampak kumuh dan kotor. Kelihatannya Medan atau Jogja harus lebih banyak belajar dari Surabaya tentang hal yang satu ini. TAMAN KOTA, sebagai paru-paru Kota tercinta.


10KM untuk 5 ribu  

Kalau rekanku yang  dari Jakarta tidak bisa hadir di meeting kenapa alasanku ke Surabaya kali ini, dikarenakan dia dia tidak bisa melewati Toll Airport di Jakarta karena air laut yang naik ke daratan dan menggenangi lebih dari 1meter jalan sehingga menimbulan chaos untuk penerbangan. Sebaliknya dengan aku bisa menghemat 30 menit dari Juanda ke Waru yang kali ini Toll akses sudah bisa dilewati. Niat hati ingin merampok pengguna jalan toll dengan tariff yang menurutku sangat mahal jalan toll yang aku lewati tampak kosong bak jalanan hantu ditengah hari bolong. Tapi kayaknya hantupun malas lewat sini karena kemahalan.  


Time is Money?

Yes indeed! Kelihatannya Surabaya sudah terlalu komersial sekarang. Selain kota untuk menghamburkan uang, semua sudah serba mahal, makan di pinggir jalanpun hanya dengan sepotong tahu dan ikan + es teh = Rp. 17.000 ini gila.


Dj-mlaku-mlaku-neng-tunjungan


lotta loves from,

Friday, May 09, 2008
Laksana memegang pensil dengan 2 jari


IW8560 take off jam 6:30 pagi dari Jogja ke Surabaya, pesawat berbadan paling panjang ini seperti pensil baru yang baru pertama kali diraut, dan kemudian aku harus menahan posisi pensil lurus melintang yang hanya dijepit diantara jari telunjuk dan jari tengah dibagian penghapusnya.

Begitu kira-kira seorang awam seperti aku bagaimana menggambarkan pesawat ber-merk sama dengan sabun cuci ini pada saat tinggal landas. "Wings Air". Belum saja mata cukup terpejam sebagai pengganti kualitas tidurku yang terganggu karena aku harus bangun jam 4:30 pagi dan lantas mengejar waktu check in di bandara, suara pramugari membangunkan aku untuk segera meluruskan sandaran kursi. Tepat Jam 7 pagi waktu Surabaya.

Meeting yang dijadwalkan jam 10 pagi karena beberapa peserta dari Jakarta akan tiba dengan early flight masih 3 jam didepan, so 10 menit aku berputar-putar disekitar arrival hall Juanda hanya sekedar streching "urat-Urat-kakiku-yang-kaku-kaku".

So here some of the "bitch-never-shout-the-mouth-up" check list:


Ultah Saatnya Hamburkan Uang

Akhir bulan Mei ini Surabaya akan merayakan ultahnya yang ke 715, cukup historical mengingat kebudayaan dan perekonomian telah bergerak sejak jaman baheula. Menurut pernyataan walikota Surabaya, katanya akan ada sekitar 200 kegiatan pesta budaya menyambut ultahnya itu dan SSF (Surabaya Shopping Festival) yang akan memberikan diskon sampai dengan 70% yang didukung oleh 14 mall.

RUUUUARR BIASA!!!

Sudah Miskin Semakin Miskin
Ditengah daya beli masyarakat yang semakin lemah karena pemerintah "harus" menaikan harga BBM dengan dampak kemiskinan semakin meninggalkan angka yang semakin membengkak, Surabaya mengajak masyarakat menghamburkan uang!

Isapan Jempol Belaka
Diskon 70% hanya isapan jempol belaka.Meski 14 katanya mendukung SSF ini tapi kenyataan banyak tenant yang tidak ikut partisipasi, beberapa diantara mereka memberikan diskon hanya 20% dan tentunya di-mark-up dulu, ini hanya sebatas pada promosi biasa, tidak ada yang istimewa.

200 Events?
Masa iya sih paaak!Kebetulan ada pojok informasi Wisata yang aku datangi disela-sela kesibukanku:
  1. Yang di airport, keluar pintu kedatangan belok kanan dekat toilet luar yang hanya menempelkan agenda2 seputar pemilihan ratu kecantikan dll yang tidak menarik. Dan hanya ditempel di kaca!
  2. Di pokok taman budaya (Mitra), mungkin bukan official tourism information center, karena hanya ada 2 orang manusia yang tidak tahu menahu masalah informasi acara seni & budaya dalam acara ultah Surabaya ini.
  3. Ini tanggal 8 Mei, berati sekitar 3 minggu lagi perayaannya, tidak ada baliho tidak ada wara-woro disepanjang jalan dari bandara ke kota yang menandakan akan diadakannya pesta budaya. Yang ada hanya spanduk-spanduk di sepanjang jalan utama untuk "Janji Pesta Menghamburkan Uang"
  4. Flyers? Yes ada flyer SSF yang isinya seputar informasi keramik, batik, furniture, tekstil. Tidak ada informasi events yang digelar di mall maupun pusat perbelanjaan lainnya jika memang SSF flyer ini dibuat dari rangkuman event malls. APALAGI informasi gelar 200 acara seni budaya?? Gimana nih pak walikota?


Nampaknya STPB (red. Surabaya Tourism Promotion Board), meng-kloning Singapore Tourism Board (STB) dalam hal penamaan dirinya, maupun terlihat dari collaterals (flyers, Surabaya Maps 11th Edition) atau mungkin satu agency.Sangat membosankan membacanya, tidak ada sentuhan lokal yang bisa aku rasakan dalam collaterals tersebut.

Kembali ke culture festival, 4-6 juli 2008 memang sudah dicetak di Mei ini, lain dengan acara 200 event ultahnya Surabaya yang tidak ada flyernya, mungkin juga ada tekanan dari pihak perserta lain yang berpartisipasi, seperti Seni Perkusi Korea dan Tari Yosakoi dari Jepang (5/07/08) yang mengharuskan flyer dicetak 2 bulan sebelum event.


DJ, Jum'atan dulu ah....:)



lotta loves from,

join me on