Saturday, May 31, 2008

sedalam samudera tlah kuselami
setinggi langit ketujuh tlah kuterbangi
tapi tetap tak kumengerti isi hatimu


sepenggal bait lagu ataupun puisi cinta seperti diatas mungkin pernah kita baca ataupun dengar, dan memang itulah cinta.Nah, kenapa aku menjauh dari cinta yang tak kenal logika ini. Bukannya aku tak mengenal arti cinta, tapi untuk apa kalau energi yang aku punyai tercurah banyak untuk cinta, sedangkan banyak hal lain yang lebih positif dan membangun lebih memerlukan energiku?

aku lebih percaya logika
aku tahu sebenarnya cinta berdasar logika

tapi tak kuetmui seorang yang berfikiran sama denganku
sehingga aku selalu mencari kepuasan dan kesenangan sesaat untuk mencapai kebahagiaanku.

bahagiakah aku sekarang?

tidak.

aku tidak bahagia.

lantas apa yang membuatku bahagia?

aku tak tahu.

aku-sedang-melow



lotta loves from,
Sunday, May 25, 2008
Ditengah redup lampu kamar hotel ia melihat didalamcermin besar itu tubuhnya bersatu dengan tubuh yang lain. Deru napas saling berpacu mencapai garis finish. Keringat bercucuran dari setiap lubang pori-pori sekecilpun. Tapi aneh, ia merasa kalau dirinya sedang bersetubuh dengan dirinya sendiri dan tubuh yang lain hanya sebatas dildo penyaluran birahi sesaat.



lotta loves from,
Friday, May 23, 2008
Bibir yang berwarna aneh

Sebut saja namanya yuki. Remember the cute boy working in Rumah Kopi? Yupe! Akhirnya aku kembali lagi ke Rumah Kopi,tentu saya sendirian. Aku gak mau ada orang lain yang cuma akan jadi nyamuk yang mengganggu ketenanganku disana.

So it was 20:30 hrs ketika aku menginjakan kakiku di cafe-nya, tidak banyak pengunjung saat itu, dari 8 meja yang tersedia hanya ada 4 meja yang terisi. Dan ketika aku menarik kursi kayu jati style-outdoor yang menurutku sangatlah tidak nyaman diduduki karena berat dan sangat keras, apalagi dengan cutting tempat duduknya yang rata dan berongga lurus seperti kursi yang biasanya tersedia di pinggir kolam renang hotel berbintang lima.

"Ah! Pasti yang punya bukan cong" pikirku.
Kebetulan tempat duduk pavoritku. Diluar bersebrangan dengan bar yang dihalangi oleh kaca tembus pandang, sehingga baik aku dan waiter yang bekerja bisa saling pandang. Begitupun dengan Yuki, dia melihat aku baru datang dan langsung keluar dari AC-area kearahku.

Sejenak kulihat tanda tanya dimata dia yang mungkin bicara;"Apakah aku pernah melihat orang ini sebelumnya?". Senyum manis yang aku pikir terlalu dibuat-buat tersungging di bibirnya yang berwarna ungu-kehitaman sangat kontras dengan kulitnya yang terang agak kemerahan. Warna Bibir yang aneh.

Segelas ice-cuppucino-tanpa-cream-on-the-top adalah pilihanku. Entah, tapi aku tidak suka makanan maupun minuman yang dijejali oleh cream, enek rasanya dimulut.

"Oh, si mas-nya yang hari senin kemarin ya?", akhirnya dia buka mulut.
"Kemana aja mas, katanya kemarin-kemarin mau kesini tapi koq gak ada akutunggu-tunggu", celotehnya lagi tanpa memberikan aku kesempatan menjawab.

Dia tidak ingat namaku, tapi dia ingat aku karena orderan-anehku yang diluar dari standar resep ice-cappucino mereka yang tidak memakai cream.


Perempuan Berdada Rata VS Lelaki Berbadan Perempuan

15 menit berlalu ketika orderan ice-cappucino-tanpa-cream-ku datang. Satu batang pertama class-mild-ku sudah menjadi abu dalam asbak transparan itu.

Yuki tidak membawakan orderanku, tapi orang lain yang membuat aku penasaran dengan pramusaji yang mengantarkan minumanku tadi, dia tidak banyak bicara hanya mengulang apa yang aku order dan mempersilakanku menikmati minumanku.

"Ice-Cuppucino-Tanpa-Cream, selamat menikmati", ujarnya.

"Nya". Kadang ada untung dan ruginya dalam pemakaian "Nya" dalam Bahasa Indonesia yang tidak mempunyai gender, tidak seperti bahasa lain yang kebanyakan mempunyai gender. Masculine - Feminin, His-Her dll. Tapi sutralah, kali ini aku tidak membahas lingua yang bukan keahlianku, aku hanya bisa membaca dan menulis dalam bahasaku saja.

Perawakannya sedikit chubby menurutku. Entah apakah dia kurang tinggi dibanding dengan berat badannya atau memang perawakan yang memang seperti itu.Tapi suaranya itu, aku yakin adalah pita suara perempuan yang berat dan terkesan tomboy apalagi ditambah dengan uniform cafe yang unisex bentuknya, hanya hem hitam dan celana panjang yang dibalut apron. Tapi kalaupun memang ia seorang perempuan, mestinya ia mempunyai payudara yang cukup menonjol diatas dadanya yang chubby. Tapi dia mempunyai dada yang rata, tapi juga bokong dia perempuan dengan hip yang lebar.

Ahhhh persetan dengan dia, yang aku harus teriaki adalah kenapa minumanku yang mengantar orang lain? Kenapa bukan Yuki? So, tanpa manggil mas ataupun mbak aku bilang sama dia kalau Yuki suruh menemui aku segera.

5 halaman sudah aku lewati. Novel Sex in Chatting yang baru saja aku beli 3 hari lalu masih belum aku baca secara serius. Aku tidak seperti temanku lia yang bisa menyantap sebuah nover dengan 230 halaman dalam satu malam. Rokok keduaku sudah nyala 1/4 batang ketika si bibir aneh itu menghampiriku dan menyapaku seakan-akan tidak mempunyai dosa kepadaku.

"Ya mas ada apa?", tanyanya dengan kepolosan.
"Duduk lah", jawabku sedikit jutek (mode cong ON).
"Kenapa kamu suruh orang lain yang hantar minumanku", tanyaku seperti anak kecil yang bertanya kepada ibunya atas protes ketidak-setujuannya.
"Oh,maaf mas barusan saya bersihkan meja didalam karena ada tamu yang akan pakai", tukasnya membela diri.

Ya, memang sih aku bisa melihat dia membersihkan meja didalam karena ada 3 orang anak muda sepantaran dengan dandanan yang sama diantara mereka,kaos distro hitam bermotif berbeda tapi dengan celana hitam berujung runcing yang terakhir aku tahu namanya model "potlot". Dan mereka sekarang tengah bergunjing sambil nunjuk-nunjuk di layar monitor notebook berwarna putih berukuran kecil dengan logo apel yang sudah digigit ujung kiri atasnya.

Kadang aku pikir, entah mungkin karena kita di Indonesia terbiasa dengan memakai seragam dari mulai TK sampai dengan SMA. Maka anak-anak muda yang Nongkrong di sepanjang pantai parapat di ujung utara Sumatera sampai di pantai Losari Makasar, potongan rambut, celana, baju sampai tas dan sepatupun 99% sama ataukah ini 1 dari taktik komunis yang menyeragamkan idealisme yang dimulai dari cara berpakaian?

Ah sudahlah aku sedang tidak ingin membicarakan yang berat-berat kali ini. Karena kedatanganku kali ini khusus karena "Yuki", mahluk yang telah membuat aku kembali ke Rumah Kopi dan yang ada di kepalaku kali ini hanya dipenuhi oleh muka dia, bibir aneh dia dan rambut dia yang dipotong seperti di anime jepang yang aku mainkan di PS-2 warna merah slim-ku tadi sore.

Apakah aku terobsesi dengan anime jepang yang ada di game yang aku idolakan sebagaimananya sorang hero?

  1. Berbadan proporsional
  2. Berperut six-pack
  3. Berambur lurus 1/2 menutupi muka
  4. Berbibir sexy
  5. Bermuka dengan garis yang tegas
  6. Berkaki panjang dengan selangkangan yang berisi?

Apakah aku melihat Yuki laksana seperti di anime tadi? Mungkin hanya 30-40 persen yang ada dalam diri Yuki, tapi paling tidak aku menemukan idola superhero dalam game-ku yang sekarang menjelma hidup dan ada dihadapanku.

Tapi dia tidak menjadi pahlawan untukku malam itu. Dia bahkan mencuekin aku dan lebih parahnya malah lari dari tanggung jawab dan mengalih-tangankan pekerjaan yang ia mulai kepada orang aneh lain yang melengkapi tempat kerja dia.

Ah memang cafe ini penuh dengan orang-orang aneh. Mungkinkan aku juga?



lotta loves from,
Tuesday, May 20, 2008

Extra Hot!!!
Judul diatas bukan mempromosikan sebuah outlet yang menjual aneka "Junk Food" made in Indonesia, seperti tempe penyet, pecel lele dll.
Selasa, 20 Mei 08. Rokok pertama yang ia sulut memercikan bunga api. "Shit" ia mengumpat hampir tak terdengar, cepat-cepat ia menorehkan ujung rokok tadi di asbak dan membuang ujung rokok yang ternyata dipadati oleh cengkeh ketimbang tembakaunya.

Kemudian ia menyulut rokoknya lagi, dan lagi-lagi ujung rokok memekar dan kembali mengembang dan memercikan api, dan umpatan kedua terdengar lebih nyaring, sehingga membuat waiter di Rumah Kopi - MP Book Point yang menghantar ice cappucino terheran, "kenapa mas?" tanyanya penuh kecurigaan.

"Ini rokok kurang ajar" ujarnya dengan lagak cuek.

Batang rokok pertama digantikan dengan batang kedua yang baru dari bungkusan yang ia baru saja beli di Apotik Astuti seberang MP Book Point. Ya, memang Apotik Astuti bukannya mengajarkan orang mengkonsumsi zat yang mematikan itu, tapi karena bangunan Apotik Astuti disewa oleh dua tenan, yang kebetulan tenan yang satunya menjual aneka kebutuhan sehari-hari termasuk rokok.

Sebenarnya jam 11:15 siang itu bukan waktu yang tepat untuk menikmati suasana di Rumah Kopi apalagi duduk diluar diabawah naungan gondola yang tidak bisa meredam panasnya Jogja diawal musim kemarau ini. Diperkirakan suhu luar antara 30-33 derajat celcius, mesti temperatur Yogyakarta yang baru saja diupdate di iPhone ia menunjukkan suhu 31 derajat, ah "mas yahoo" memang terkadang tidak terlalu meyakinkan, lagi pula mas yahoo itu kan di Amerika koq tahu-tahunya suhu di Jogja hari ini!
Rumah Kopi masih baru saja buka kelihatannya, ketika ia selesai membayar sebuah novel baru berjudul "sex in chating" yang dalam minggu terakhir ini menggoda rasa kepenasarannya, bagaimana tidak jika posternya "eye-catching" yang mau-tidak-mau ia liat setiap pagi setiap kali berangkat kerja.

Tiba-tiba sesosok mahluk berseragam hitam-hitam dengan apron yang menutupi selangkangan sampai kelututnya itu bertubrukan pandang, seketika itu pula desir darah naik ke ujung ubun-ubun (red baca. selangkangan).
Hanya itu sebenarnya alasan kenapa ia ada disitu sekarang.

dj_tidak_beli_kucing_dalam_karung



lotta loves from,
Friday, May 16, 2008
Aku tak bisa berbuat apa-apa.

Seorang yang benci politik tapi hidup dalam tekanan poli-tikus itulah aku.

Dari mulai warung kopi sebelah rumah, sampai dengan supir dan sekuriti di kantor ramai bergunjing seputar permasalahan negara, seolah-olah seorang politikus kawakan.

Kenaikan BBM, 10 tahun tragedi Mei, BLT, pencalonan presiden 2009, kenaikan haga-harga yang menjulang, biaya masuk sekolah yang berbarengan dengan kenaikan BBM, sampai dengan
cacat bawaan pilkada, eh tidak tertinggal juga masalah sms santet.

Bagai ayam stress yang menunggu pisau kematian dengan hitungan menit, aku merasa kalau hidupku tidak akan lama lagi. Sementara sang tuan entah apa yang ada di benak dia yang akan ia lakukan terhadapku dan teman-teman senasibku.

Gundah gulana.

11:30 Jumat 16 Mei 2008.
Rasanya aku sudah lama tidak mendengar hotbah Jumat yang terngiang bagai nyanyian nina-bobo dimusim awal kemarau ini. Ya, Hotbah Jumat selalu menjadi waktu siesta seminggu sekali disela-sela kesibukan pekerjaanku.

Sepeda listrik-ku memang tidak bisa aku andalkan untuk segera menghindarkan aku dari sengatan matahari siang bolong, sementara awan bergerombol kecil jauh diatas sana, malas memayungi. Kubelokan sepedaku ke jalan menuju mesjid lembah UGM dari kawawan jalan kaliurang, tepat di tikungan itu kulihat menyilaukan mata baliho berlatar merah dengan seorang yang aku pikir "unang" si pelawak grup bagito (maaf kalau namanya salah) yang pernah melejit dengan rekan se-pelawak-nya Miing dan Didin.

Mataku terpana ......
Mulutku ternganga .......

Bukan karena aku terpesona oleh ketampanan dan kegagahan sosok di baliho itu, tapi aku tahu berapa puluh juta untuk memasang sebuah baliho seukuran itu. Aku yakin pasti banyak titik yang dipasangi serupa di Jogja ini, aku yakin di kota lain juga akan sama. Dan aku yakin, iklan serupa pernah memuat 1 lembar Koran Kompas dengan full-color dan dipasang beberapa kali, dan AKU YAKIN kalau aku pernah melihat iklan ini ditayangkan di tv-tv swasta.

Hanya dalam hitungan detik dikepalaku berterbangan berbagai pertanyaan dan kemungkinan....!

Seorang ber-kawasaki-ninja beteriak dan meraungkan motornya menyadarkan aku dari lamunan sesaat, sementara aku masih diatas speda yang berjalan memaksa aku menepi dibawah baliho tersebut, aku standarkan sepedaku dan aku terbungkuk jalan memasuki sebuah kios angkringan yang pas terletak dibawah baliho itu.

Segelas
Dua gelas
Tiga gelas es teh manis tidak juga melegakan tenggorokanku dari kehausan.

Sebatang
Dua Batang
Tiga batang class mildtidak juga membuatku beranjak pergi

Adzan Jumat
Hotbah Jumat
Terdengar sayup di telinga

Aku tidak jadi sembahyang jum'at.

++++++++++++++++++===


Catatan kecil untuk Soetrisno Bachtiar

Maaf saya tidak kenal bapak kalao bukan karena iklan itu, dan maaf kalo saya salah menyebut nama Soetrisno Bactiar yang kalau tidak salah Ketua PAN danmaaf kalau saya salah tentang arti 100 tahun kebangkitan nasional.

Penting banget nggak seh, curi start Pemilihan Presiden 2009 dengan ber-promo seperti itu:

  1. Beriklan diri dengan meg-quote penggalan kata-akta pujangga Chairil Anwar.
  2. Beriklan semua stasiun TV di Indonesia dan di Koran dengan Iklan termahal di Indonesia
Karena semua itu nggak ngepek (ngefek) buat saya, mungkin juga buat yang lain, untuk simpati kepada anda. Yang pasti saya akan cepat-cepat ganti channel kalo iklan and adi tv muncul, dan cepat-cepat saya lipat halaman koran dan loncat ke halaman lain jika saya melihat anda disitu.

Saya asa PR agency anda salah memberikan taktik bagaimana membuat rencana strategi politik anda.

Saya rasa sekarang waktunya anda memecat humas anda dan kirim dia ke pelatihan "bagaimana caranya mencuri simpatisan"

Bagaimana kalau saya saja dijadikan humas anda, meski saya benci politik tapi saya cinta akan uang dan biasanya saya paling pandai membelanjakannya, paling tidak itu komplimen kawan-kawan saya terhadap saya dari dulu.

Tapi apa ya yang akan aku perbuat dengan uang sebanyak biaya anda beriklan sekarang?

Menambah BLT ? NO
Mensubsidi BBM? NOO
Bikin pasar murang sembako? NOOO

Hmm. Gimana kalo kita bikin sejuta "Five-Star MCK UMUM" saja biar orang-orang yan terbiasa nongkrong buang hajat dan cepat-cepat itu bisa menikmati enaknya duduk di toilet duduk dengan suasana yang nyaman sehingga mereka bisa lebih berimajinasi tinggi dan berfikir sehat?

Bukannya pemikir dan pembuat keputusan ulung biasanya mempuyai gagasan pasa saat buang hajat di pagi hari?

dj_membalas_sms_sms_saat_beol

lotta loves from,
Thursday, May 15, 2008
Ranumnya buah mangga tetangga V.2


Aku hanya bisa menikmatinya dari jauh. Saat ini aku merasa sudah cukup seperti itu. Tapi seringkali lapar ini tak tertahankan sehingga kulit perutku menempel dengan tulang punggungku. Ingin aku meminta ia kepada empunya. Tapi aku tak kuasa bersuara. Hanya gemuruh sesak di dada tak tertahankan.

Tuhaaaaaaaaaaaaaaaaan!

Tolonglah aku dari apa yang kuinginkan.


lotta loves from,

Don't laugh at me coz this is true!

Indeed I'm living in 2 season country, rainy season and dry season. But living in Jogja giving me experience differently from other cities in Indonesia, for instance; this time is the changing season from rainy to dry season, the humidity is currently so high in day time, I don't dare to wear jacket event just to cover me from sun because at the end I will be having my local sauna and give me a bad body odor off course.

So, what i have to do just going early before 8am to my working place and going home "teng-go" (teng = sound of the alarm bell, and go = OFF) it is a costume for Indonesian who leave the office on time after work.

But off course I don't go home! Why should I go home so early when I have the chance to see the beauty of the sky in the "bright-afternoon-dry-season", you would never wanted to event blink your eyes, don't want miss a thing. So, plunge to the swimming pool is the best choice!


dj_like_to_see_and_t0_be_seen




lotta loves from,
Semakin meminumnya semakin aku haus!

Benci... sama diri sendiri, kenapa aku ga bisa melepaskan birahi ini darimu



lotta loves from,
Tuesday, May 13, 2008
Melihatmu bagai melihat ranumnya mangga tetangga :)

Saturday, May 10, 2008
YAIYALAHMASAYAIYADONGAAPALAGIYAIYASIH

Ingin rasanya kutonjok seragam-seragam putih kombinasi batik merah itu tatkala "Sabun Cuci" itu (red. Wing Air) yang akan menerbangkan aku dari Surabaya ke Jogja dengan penerbangan IW869 yang seyogyanya bertolak pk 19:30 diundur menjadi 20:30.

Memang bukan hal yang baru bagi penerbangan dengan slogan: "We Make People Fly" yang nampaknya percetakannya lupa menaruh satu kata di akhir "late" ini telat! Karena ya gimanapun "Singa Terbang" hanya dongeng belaka.

Senarnya masih trauma terbang dengan Lion Air, di akhir maret on transit from Medan to Jogja in Jakarta, aku ditunda lebih dari 2 jam, udag gitu saking chaosnya penerbangan hampir dari dan ke seluruh bagian Indonesia membuat aku tertinggal pesawat beserta 1 orang yang akan ke Jogja waktu itu. Dan aku tahu kalau kupingku tidak budekdan kita tidak mencucuk-kan earphone ke kuping, sewaktu kita menunggu di lorong keberangkatan hanya 5 meter dari ruang tunggu itu, nama kami atau last call tidak ada.

Akhirnya dengan modal:

  1. Kugebrak monitor komputer pertugas Lion Air yang hampir jatuh berguling ke lantai.
  2. Muka memelas si "adek" dari Batam yang akan pulang ke Gontor 6 di Magelang setelah long holiday.
Akhirnya aku menguping si Supervisor bicara sama rekannya "Sudah di-manual-kan aja" akhirnya kita bisa terbang ke Jogja dengan hati was-was dengan penerbangan berikutnya.


Inflight Nasi Bungkus

Mungkin 1 kelebihan yang diberikan pencipta kepadaku kalau aku diberikan sensitif yang tinggi, gak biasanya aku bekal 1 botol akua kecil dan membawa 1 bungkus besar roti kombinasi, malah kali ini aku bawa nasi krawu kesukaanku yang selalu harus aku cicipi kalau aku ke Surabaya, tapi karena short visit kali ini aku hanya sempat membawa sebungkus yang niatnya akan aku nikmati di ketinggian 30ribu kaki.

Tapi kenyataanya, niatku untuk mencicipi Inflight Nasi Bungkus harus aku urungkan, karena perut yang tidak bisa diajak kompromi ini mengharuskan aku melahap habis nasi krawu di ruang tunggu 4 Bandara Juanda.


lotta loves from,

join me on