Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts
Tuesday, February 10, 2009
Pernah dengar gak kalo iPhone akan kerjasama dengan Telkomsel untuk pemasaran di Indonesia? Kalo kalian penggemar gadget berlogo apel yang digrogot sekali, click disini biar secara official dapet tuh barang. Entah inden yang ke berapa ratus atau ribu deh, tapi at least gue daftarin diri dulu, kalo dapat tak bayarin selanjutnya bisa dipake sendiri ato dijual lagi ga masalah.

Dalam sejarah gue, mungkin baru kali ini ga beli HP anyar dalam setahun terkahir. Bukan karena tidak tergiur oleh produk baru, tapi kalo iPhone generasi pertama yang aku beli setahun lalu adalah "a-computer-that-makes-calls" gimana gue bisa menggantikan dengan yang lain? Tak terkecuali BB (Blackberry, Bread-Butter) atau apalah namanya yang harganya sama dengan iPhone atau mungkin lebih tinggi.

Lalu temenku berkomentar lagi, sepertinya elo udah bisa setia sama pasangan lo kalo elo ga ganti HP selama setahun, dengan kata lain kalo gue sudah berudah tidak berganti setiap jagung berbunga?

HEY! Listen-UP,

Gue gak ganti Iphone gue selama setahu ni karena:
  1. Gue hanya keluarin dari tasnya saat gue pengen "make" aja dan hanya sesekali karena gue ada hp lain yang gue pake setiap hari.
  2. Gue gak ganti ganti karena ga ada tandingannya lagi dari yang lain. Paling tidak itu menurut gue, entah kalo ada yang lebih baik.
  3. Karena ga ilang, coba kalo ilang pasti gue cepet cari gantinya. Waduh mudah-mudahan aja jangan pernah sampe ilang ato dicuri ya...
Jadi menurut lo gue masih ada alasan untuk tidak setia? Bukannya gue setia! Tapi karena tidak ada yang lebih baik dari dia... YA! Gue udah sign-up dan melamar turunannya yang lebih baik sifatnya mesti agak gemuk badanya (gue sukanya yang ramping).

I signed up for my new 16GB white iPhone 3G.

Do I need to sign-up for new lover??

U tell me....


lotta loves from,
Monday, February 02, 2009
Halah.. apa bahasanya ya? mboh aku gak gerti, anak asuh? anak pungut? whatava.... ceritanya it was a late afternoon sewaktu gue pulang dari kantor menjelang magrib gitu deh, ada anak peremuan kecil sekitar usia 9-10 tahun nenteng kresek hitam dengan 2 ekor anak kucing yang masih merah mengeong-ngeong memelas.

WTF! "Pasti mau dibuangnya tuh anak kucing", umpatku dalam hati.
OK! I hate cats... But letting them to get killed before they event know how the taste of fish is not the nice way to die...

So, bukannya trying to be a hero, atau apalah, I took them home, making them a nice-cozy-comfort-warmth-dry sleeping booth.
And what now? Gue bingung mau kasih makan apa? Untung masih ada sekaleng kecil corned beef di lemari, persediaan terakhir gue kalo pas kelaparan malam hari bikin spagheti corneed beef adalah alternative lain selain makanan pokok kedua bangsa indonesia "indoie goreng". So, kubuka kalengnya dan kutuang kedalam mankok kecil melammin, kupegang leher kucing itu, kuenduskan hidungnya ketas corned beef.

Tetep ga mau makan dan mengeong-ngeong makin keras, "ah kenapa pula"! bingung aku jadinya. Segera kutuang susu condense dicampur air hangat diatas piring ceper, dan segera kulakukan yang sama dengan mengenduskan hidungnya ke susu tadi, tetep gak mau juga.... "holly sh**t".

"Bodo ah", umpatku dalam sekali lagi. "It's your fault", siapa suruh bawa anak kucing pulang.
Kusulut sebatang rokong sambil duduk bertekuk lutut sebelah dilantai sambil kutatap 2 ekor anak kucing yang mungkin masih berumur belum genap seminggu itu.

Pelan-pelan anak kucing itu menempelkan badannya di sela-sela kakiku kemudian menggesek-gesekan badannya, kemudian berhenti dan merebahkan badannya sambil keduanya.
Ah... sejak kapan gue menjadi sangat melow dan sensi gini?

"Ternyata bukan makanan mahal empat sehat lima sempurna yang dia inginkan, tapi empat cinta dan lima kasih sayang yang mereka perlukan
"
.


lotta loves from,
Tuesday, June 10, 2008

Tidak akan pernah lagi aku membeli Dunkin Donut “take-away” kecuali bawa rantang sendiri. Tapi apa “kata apa dunia”?

Pergi ke Mekah tapi tidak ke Madinah adalah ungkapan jika anda penyuka sunset di pantai Kuta tapi belum lihat sunrise di Sanur. So, dalam kunjungan terakhirku ke Bali akhir Mei 2008, bangun jam lima pagi dari Arthawan Hostel yang berlokasi di Poppy Lane 2 (red. Gang Popi) yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari “zero ground” tempat diledakkannya bom bali, aku dan Stephan bergegas melaju dengan sepeda motor sewaan kearah Sanur. Udara pagi buta masih menyisakan temperatur yang kurang bersahabat ditambah dengan angin kencang dari arah laut.

Maka untung menghangatkan badan dan mengisi perut yang masih kosong ketika sampai di perempatan lampu merah yang membelok kearah pantai matahari terbit kami berhenti di Dunkin Donut pas di pojokan kiri jalan.

Segera kami memesan:
2 Double Cokelat
1 Black Coffee
1 Hot Cokelat
2 Beef Croissant

Karena kami tidak mau ketinggalan moment2 terindah pada saat matahari menyembul dari dasar laut maka kami minta semua orderan dibungkus (red. Take away). Lagipula akupikir rasanya akan terasa lebih emosional menikmati early breakfast a la hotel bintnag “kejora” diatas pasir pinggir pantai dengan semilir angin dan debur ombak serta pemandangan yang fenomenal.

Beef Croissant. Dipotong dua kemudian dimasukan kedalam sejenis cone terbuat dari kertas karton yang keras sehingga tetap menjaga keutuhan bentuk croissant yang meruncing kearah sisinya, kemudian dua potongan tadi dimasukan kedalam kardus saling berhadapan dengan presentasi yang aduhai. Dua kardus tentunya.

Black Coffee dan Hot Cokelat. Masing masing dengan gelas yang terbuat dari karton berbalut plastik dibagian dalamnya serta ditutup dengan cap plastik. Memang benar untuk menjaga supaya tetap hangat dan tidak menetes keluar gelas tadi. Empat sachet gula “rafinasi” untuk melengkapi rasa minuman yang kami order. Oh ya, hampir lupa. Dua sendok kecil lurus yang mirip cukilan korek kuping juga disertakan.

2 Donut Double Cokelat dibungkus kertas standar Dunkin.

Semua orderan tertata rapi dan semua dimasukan kedalam shopping bag berlogo Dunkin yang lebih mirip dengan shopping bag yang biasa diberikan jika kita membeli sepatu mahal. Berbentuk persegi semi transparan dengan handle berpita lebar.

Lengkaplah sudah! Total Rp. 80.000++. What! Keningku berkerut, naluri ndesoku (red. Pelitku) sangat tidak bisa menerima bahwa hanya untuk jajan segitu saja harus merogoh kocek sebegitu banyak. Tapi sudahlah! Aku anggap peristiwa ini sebagai celebration a la “Piala Euro” hanya dirayakan setiap empat tahun sekali yang bisa meredam emosi rakyat Indonesia sesaat yang mampu melupakan seketika gejolak “carut-marut-kondisi-politik-dalam-negeri” saat ini, jadi aku juga harus merayakannya apalagi bersama Stephan yang memang asli buatan Jerman.VIVA!

A total sanur morning ritual
A beatiful sunrise
A clear blue water
A clean golden beach
A morning breeze
A good crowd
A super early breakfast
A good companion
A Rp. 80K dunkin garbage

lotta loves from,

andai aku mempunyai senapan laras panjang berlaras dua. akan kumasukan dua butir peluru yang biasa orang pergi berburu babi liar pengganggu ladang petani. lalu kutembakkan senapan itu dari jarak satu meter supaya otaknya berhambur keluar dari tempurung kepalanya dan bercipratan menyiram mukaku bercampur bau amis darah segar.



lotta loves from,
Sunday, June 08, 2008

Mimpi buruk itu kembali lagi

“Braak....”! Bunyi pintu didobrak paksa membangunkan aku seketika. Belum lagi tersadar dari apa yang tengah terjadi sebuah sorot senter berwarna putih yang membutakan mataku mengarah kemukaku.

“Cepat pakai baju”! Seseorang dengan nada dingin pelan tapi penuh ancaman memerintahkan aku segera berpakaian. Setidaknya ada tiga atau lima orang berpakaian didalam kamarku yang minim dengan cahaya lampu malam terlihat berpakaian ala teroris dengan tutup kepala yang terbuat dari bahan kaos yang hanya menyisakan lubang mata dan lubang hidung menutupi sampai kebatas leher.

Seketika aku membeku. Jangankan mengambil pakaian yang tergantung rapi di balik pintu kamarku, bangkit dari tempat tidurpun aku tak ada tenaga. Seluruh otot tubuhku tiba-tiba tak bisa digerakkan. Otakku tak bisa bekerja. Kornea mataku buta. Mulutku terkunci rapat.

Sepasang tangan kokoh menyeretku dari tempat tidur. Kukumpulkan segenap tenaga yang tersisa untuk melawan. Namun sia-sia. Tenaga orang itu terlalu kuat untukku. Tubuhku terjerembab keatas lantai keramik putih. Tiba tiba sebuah tendangan sepatu boot mendarat di dadaku. Sekali lagi sepasang tangan kuat itu menarik kedua tanganku sehingga posisiku setengah berdiri sedikit bersandar ke badan dia. Kemudian pandanganku kabur dan gelap. Bukan karena aku pingsan karena indra pendengaranku masih bekerja tapi ada orang lain yang menutupi kepalaku sampai sebatas dada mungkin dengan selimutku. Tubuhku diangkatnya dan diletakkan diatas pundak orang yang tadi aku sempat bersender. Badanku serasa melayang di udara. Kakiku meronta sekuat tenaga. Tapi sia sia.

Yang kulakukan selebihnya diam tidak bergerak. Berpura-pura pingsan adalah jalan terbaik ketimbang melawan untuk kondisi saat ini. Badanku dihempaskan keatas jok mobil yang sudah dalam keadaan mesinnya tidak dimatikan ini terasa dari ac mobilnya yang sangat dingin masuk melalui seluruh pori-poriku terasa menyayat kulit. Kuusahakan supaya badanku tidak mengigil yang menandakan kalau aku sebenarnya tidak pingsan. Untung selimut yang menutupi muka dan bagian atas tubuhku sekarang menutupi sampai dengan bagian pahaku sehingga paling tidak menolongku dari hembusan hawa dingin ac mobil. Aku kumpulkan semua akal sehatku sebelum aku kumpulkan pelan pelan tenagaku yang mulai ada. Beberapa saat terasa mobil berputar-putar dengan kecepatan pelan, beberapa kali mobil berguncang karena harus melintas diatas polisi tidur di gang seputaran pemukiman kemudian mobil berhenti sebentar dua tiga empat lima detik mobil bergerak dengan mengeluarkan suara ban berdecit yang bersentuhan dengan aspal dan badanku sedikit terhempas kebelakang karena mobil dipacu dengan kecepatan yang sangat responsif. Duapuluh detik kemudian mobil membelok kearah kiri tajam masih dengan kecepatan tingggi untuk sebuah belokan yang aku asumsikan persimpangan jalan.

Menghitung detik dan belokan serta mengira-ngira kemana mereka membawaku paling tidak hanya itu yang aku bisa perbuat saat itu. Kira-kira lebih dari sepuluh menit mobil melaju dalam kecepatan tinggi, kemudian kecepatan menurun dan sekarang mobil belok menikung kearah kiri. Hembusan dingin angin malam hari berhembus sedikit menyingkapkan selimut yang menutupi mukaku yang dibarengi dengan kepulan asap rokok keretek yang sangat kuat dari orang sebelah kananku yang selama ini selalu memegangi selimut yang menutupi mukaku. Rupanya ia tidak tahan kalau tidak merokok. Pelan pelan aku picingkan mataku diantara gelapnya kabin mobil dan aku bisa melihat sedikit ada empat orang didalam mobil. Seorang sopir, seorang duduk disebelahnya dan dua orang mengapitku kiri dan kanan. Jalanan yang sempit dengan pepohonan yang padat di kiri-kanan jalan yang tidak beraspal dan sedikit berbatu dapat aku rasakan dari guncangannya. Sorot lampu mobil lain dari arah belakang yang sangat berdekatan tiba tiba sedikit menyinari mukaku dari refleksi kaca pandang sopir yang tepat menempel dikaca depan mobil bagian tengah. Rupanya mobil yang membawaku sejenis sedan buatan eropa dengan kabin yang terasa sedikit sempit dibanding dengan mobil eropa lain yang mengutamakan kenyamanan berkendara. Dan rupanya mereka terbagi dalam dua kelompok. Satu kelompok mereka yang ada didalam mobil yang membawaku dan satu lagi adalah mobil yang ada di belakang tadi, sejenis jeep atau lainnya yang lebih tinggi ground-clearance-nya karena sorot lampunya yang tinggi dan sangat menyilaukan mata. Cepat cepat aku tutup rapat kelopak mataku sebelum ada yang menyadarinya kalau aku sebenarnya hanya berpura-pura.


Sekali lagi aku picingkan mataku saat mobil berhenti. Sebuah kentungan berwarna merah dengan bentuk cabe merah sebesar badan anak kecil menggantung diujung teras, jelas terlihat oleh sorot lampu mobil. Sebuah rumah joglo tua yang besar dengan bagunan yan lainnya yang lebih kecil bercat putih disebelah kirinya tertangkap jelas dalam hitungan satu detik sebelum orang yang duduk sebelah kananku menutup kembali selimut yang sempat tersingkap. Dia masih berfikir aku masih pingsan.


Bagai sebuah bantal bulu angsa yang ringan, kembali badanku diangkat keatas pundaknya. Kemudan setengah dihempaskan tubuhku didudukan diatas kursi kayu dengan sandaran punggung yang cukup tinggi dan sehingga membentur kepala bagian belakangku. Seketika sekeliling kepalaku dipenuhi oleh bintang-bintang kecil dan kunang-kunang yang berterbrangan. Kedua tanganku dilingkarkan kebelakang dan diikat seutas tali kecil yang kuat tapi tidak terlalu menyakitkan hanya kuat. Mungkin semacam kabel telephone.


Selimut yang menutupi kepalaku dibuka. Pandangan mataku segera menyapu sekeliling ruangan, hanya dinging putih tanpa jendela yang hanya mempunyai satu pintu, cukup luas. Cahaya lampu yang sangat minim disertai kepalaku yang membentur senderan kursi masih meyisakan pandangan yang mampu aku rekam dalam otakku. Ada sosok tubuh lain setengah telanjang yang terkulai lemas dengan kepala menyandar di senderan kursi dan tangan terikat kebelakang persis denganku. Pelan pelan kepalanya terangkat saat aku menatapnya, dari mulutnya yang berlumuran darah seakan ia ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Tapi tiba-tiba sekeliling ruangan gelap gulita. Rupanya sengaja lampu dipadamkan.

Hening. Tidak ada gerakan maupun suara dari sosok didepanku tadi, yang kudengar hanya nafasku yang berat menahan hawa dingin dan nyeri yang sekarang makin terasa menyesakkan akibat tendangan sepatu boot tadi. Tapi beserta itu pula aku mulai lagi mengumpulkan pikiran dan tenaga yang tersisa untuk melawan! Tapi aku yakin ada orang lain di ruangan gelap ini.

Yuki!

Oh Tuhan!

Seketika aku hampir terlompat dari tempatku. Ya. Ingatanku mulai flash-back ke saat aku dibius oleh Ginger-Ale-Vodka-ku yang aku minum sendiri, saat aku beranjak mau tidur dan yuki telah tertidur duluan dengan hp masih di tangan.


“Yuki....Yuki...”! Aku memanggil manggil namanya perlahan tapi jelas ditengah keheningan ruangan.

Tidak ada respon.

“Yuki”!

Masih tidak ada respon.

“Bang...”.

“Bang...”.

Suara lemah dari sebrangku jelas terdengar.
Sekali lagi aku hampir lompat dari kursiku.

“Yuki”.

“Bang”.

“Yuki”

“Bang”.

Hanya sahut menyahut dalam suara yang lemah namun jelas terdengar. Seketika sorot cahaya menyilaukan mata menyorot kearahku.

Tidak mau bangun dari mimpi

“Bang...bang, bangun lah.... pemalas”.

“Kerja ga hari ini, udah jam tujuh tahu”.

Sesosok wajah yang aku kenal terlihat jelas saat aku terjaga dari mimpi burukku. Senyum nakal dengan lidah dijulurkan dan tangan yang memencet hidungku jelas sebuah kenyataan.

“Abang kenapa kayak lihat hantu aja”? Ujarnya keheranan melihatku. Aku sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana roman wajahku saat itu.

Segera tangannya merangkul tangannku dan segera menuntunku ke kamar mandi serta menyilangkan handuk di pundakku.

Dinginnya air yang mengguyur kepalaku tidak bisa menyingkirkan pengalaman mimpi burukku. Yang aku rasakan malahan dua ton batu bercokol di kepalaku akibat pengaruh vodka tadi malam ditambah dengan mimpi buruk itu. Ya! Selama hampir setahun ini aku sering bermimpi yang sama. Segerombolan orang-orang yang tidak aku kenal menculikku dari tidurku, hanya saja mimpi tadi malam ditambah seorang pelakon dengan hadirnya Yuki sebagai korban kedua. Apa artinya semua ini?

Sebutir Panadol Extra biasanya membantu membunuh sakit kepala akibat hang-over. Tapi tidak kali ini. Secangkir kopi hitam Sidikalang oleh-oleh dari Medan yang cukup “strong” juga tidak meringankan nyeri di bagian kepala belakang yang terasa beribu-ribu martil dipukulkan.

Kembali kurebahkan badanku ketas kasur yang masih berantakan. Kuraih handphone. Kucari sebuah nama dan kuketik sebuah pesan singkat.

“Bu, aku kurang enak badan, mungkin saya masuk kantor siangan atau kalau tidak membaik saya ijin sakit”. Send.


“Bang, abang kenapa”?

“Abang sakit”?

Diam.

Sebuah tangan mendarat di keningku. Tangan yang dingin seperti kompresan es. Jadi ingat ibuku kalau aku tidak mau pergi sekolah dan kembali ke tempat tidur pasti ia akan meletakkan tangannya persis seperti ini.


Diam tak kusahuti. Dalam kondisi seperti ini kembali kekanak-kanakan-ku muncul. Kolokan!

Sepasang tangan mulai mulai memijit lembut pundakku. Aku diam tak merespon. Aku tak ingin bergerak. Aku tak ingin membuka mata. Aku ingin tidur dan tidak terbangun dari kenyataan indah di pagi hari.



lotta loves from,

Sunday, June 01, 2008
Kulempar novel berjudul sex in chatting yang baru beberapa hari aku beli keatas kasur. Agak sedikit membosankan dengan alur yang tidak masuk akal. Mungkin si penulis hendaknya kurus dulu di kepolisian bagaimana seharusnya menjadi seorang intel yang ahli dalam forensik cyber crime, sebelumia menulis novelnya ini.

Aku pikir aku akan lebih baik jika membuat novel sejenis.
Andai aku ada saat temu wicara dengan penulisnya, pasti akan kubantai habis dia. Sayangnya talk show yang diorganisir oleh radio swaragama telah lewat saat aku membeli novel itu. Dan Yuki yang memberitahukannya ke aku saat aku pertama kali kenal dia di Rumah Kopi.

Jam 12 lewat tengah malam, saat aku telah melahap ratusan rss feed yang aku download kedalam thunderbird-ku jika aku berada dalam zona hotspot gratisan. Mulai dari aksi demo yang tak berkesudahan tentang kenaikan BBM sampai dengan infotaintment yang membicarakan kehidupan pribadi selebritis yang sudah jarang nongol di media electronic supaya tetap eksis dalam kancah selebritis Indonesia. Tak ada berita yang bermutu! Semua media di negeri ini sepertinya sekali lagi berniat menyeragamkan pendapat dan pemikiran yang stereotipe tentang semua yang tengah berlangsung di negeri ini. Rasa kantuk mulai menyerangku tapi kandung kemih yang bereaksi sedari tadi mengharuskana aku ber-ingsut dari tempat tidur kemudian melaksanakan menuju kamar mandi yang terletak diluar kamar menuju dapur.

"Kling-Klong",iPhoneku berbunyi berbarengan dengan layar yang menyala tanda ada sms baru masuk.

"bro...", sepenggal kata tercetak dilayar preview sms.
"close - Reply".
Sejenak aku diam. Antara pilihan menutup dan membalas sms tadi.

Bukannya aku malas membalas sms yang menurutku gak penting saat itu atau pelit pulsa, toh aku sama dia memakai nomor three yang menggratiskan sms sesama pengguna three. Tapi karena yang kirim smsku adalah pahlawan anime-ku yang tidak menjadi pahlawanku untuk ice-capucinoku tadi di Rumah Kopi.


"Napa", akhirnya telunjukku meng-klik reply. Jeda berselang 10 detik. "Gpp, sori ya tadi". Aku diam tak membalasnya. Sengaja.
"Koq gak balas", lanjutnya.
"udah mau tidur", balasku.
"Gw gy bt nih, ngopi yuk".

"What"! Apa nggak salah nih anak ngajak ngopi sementara waktu sudah menjelang jam 1 dinihari, pikirku dalam hati.

"udah tidur ya bro, sori kalo ganggu kalo ga mau gw mau balik aja".


Aku scroll-up iPhoneku dan tekan "call", segera RBT sepotong lagu Ungu terdengar diujung sana. Segera sebuah suara yang tak asing terdengar di telingaku.


"Mau ga bro, sori kalo gue ganggu lo".

"Mau ngopi dimana".

"Manut nite".
"Wah, males kejauhan".

"Habis mau dimana"?
"Di Sugeng Rawuh aja, Km5".

"Tapi disana rame banget bro".

"Yowes, Manut Nite. 15 Menit ketemu disana".

"Lho aku ga ada motor eh, bisa jemput aku disini"?
"Asu"! umpatku dalam hati. Sudah ngebete-in, ngajak ngopi saat aku mau
tidur, dan sekarang minta dijemput pula.
"OK lah".
"Tunggu 5 menit disitu".

Segera kututup screen notebook-ku yang telah ku-set-up jika ditutup akan menutup semua aplikasi yang terbuka dan shout-down sistem dengan sempurna. Mio putihku segera melesat kearah utara jalan kaliurang melewati lampu merah ring rod utara dan segera menepi saat seseorang berdiri dengan memakai jean potlot hitam dan kaos polo berwarna hijau menyala serta bagpack berwarna hitam berukuran besar sehingga badannya semakin terlihat kecil.

Dinginnya angin malam menusuk kesela sela tengkuk dan leherku meski aku sudah memakai jumper hangatku. Jalur roda dua ring road utara kearah Gejayan lenggang. Tidak ada satupun kendaraan lain selain aku. Kupacu Mio Putihku full-gas melesat membelah keheningan malam. Seketika sebuah pelukan melingkar erat dipinggangku dan kedua belah paha dan tubuh dia merapat kebadanku.

"Anjing, racer juga lo ya". Urnya menggumam dari mulutnya yang hampir menempel dikupingku sehingga aku bisa merasakan hangat hembusan nafasnya.



[i]to be continued[/i]


lotta loves from,
Saturday, May 31, 2008

sedalam samudera tlah kuselami
setinggi langit ketujuh tlah kuterbangi
tapi tetap tak kumengerti isi hatimu


sepenggal bait lagu ataupun puisi cinta seperti diatas mungkin pernah kita baca ataupun dengar, dan memang itulah cinta.Nah, kenapa aku menjauh dari cinta yang tak kenal logika ini. Bukannya aku tak mengenal arti cinta, tapi untuk apa kalau energi yang aku punyai tercurah banyak untuk cinta, sedangkan banyak hal lain yang lebih positif dan membangun lebih memerlukan energiku?

aku lebih percaya logika
aku tahu sebenarnya cinta berdasar logika

tapi tak kuetmui seorang yang berfikiran sama denganku
sehingga aku selalu mencari kepuasan dan kesenangan sesaat untuk mencapai kebahagiaanku.

bahagiakah aku sekarang?

tidak.

aku tidak bahagia.

lantas apa yang membuatku bahagia?

aku tak tahu.

aku-sedang-melow



lotta loves from,
Monday, February 04, 2008
to what????

She asked me back when I was almost mumbling on my way to work this morning! I answered her with my deep smile, i hope she could see me smiling trough the side mirror of my bike....:) Yeah.... too much to tell, too little time to listen...

dj, oh please someone google me!

Monday, November 12, 2007

I don’t know what to call it in English but we called it “katak pohon”, it means a “tree frog”. Indeed, he likes to climb the trees jumping from branches to another and he eats insects.

But, this morning when I was about to was my dirty sandal in the laundry room, I noticed something jumped over my head so quick, i don’t even know what it is. So, i just ignored since i found nothing. But surprisingly a “skinny-yellow-flashy-creature” just starring at me just before I stepped out.

So, i don’t want to loose a moment. I grabbed my SE W900i to capture a rare memento and here we go “a katak pohon” was trying to impress me.

A skinny legs
A sharp eyes
A tall body
A soft skin
A sexy body

Remind me of you....
Someone I knew not so long time ago
Someone I adored.
Someone I like cuddling with after long sex session
Someone I like to touch in every part of his sexy body

You are just like a “tree frog”, like playing high
Always look people down
Jumping from men to another
Never satisfy in one bed

But I don’t blame you
You are young
You are hot
Share your desire with others
Make more people happy

But if you think you are enough and tired
Come back to me
Otherwise a hungry snake awaits you
Coz, I’m the only one who understand you more than you do


dj, love-cuddling


Balikpapan, 2005

lotta loves from,

Wednesday, October 31, 2007
Sebuah site yang mengukur kadar kecanduan gue terhadap blog telah membuat gue jujur atas 14 pertanyaan. Hasilnya 74% gue udah kecanduan ngeblog.

Entah angka tersebut menunjukkan gejala diambang batas dimana gue bida menelantarkan beberapa pekerjaan utama gue, atau tersebut biasa-biasa saja? Entahlah!

Yang pasti, sekarang rasanya gue telah melakukan dosa besar jika tidak membuahkan sebuah tulisan paling tidak satu sehari. Gue akan keasikan membaca postingan orang-orang yang gue udah setting di off-line blog reading di MS Outlook 2007 gue.

dj, cari-psikolog-kecanduan-blog


lotta loves from,

“Pertumbuhan itu keatas bukan kesamping”.

Kira-kira itu iklan Hi-Lo menyindir cewek-cewek yang sedang mengalami pelebaran jalan. Tapi bukan saja Hasimoto yang bermasalah, tapi mungkin gue juga. Buktinya, bulan puasa yang semestinya porsi makan dikurangi tapi malah nambah berat badan, secara carb masuk semua pada saat buka puasa + gula, gimana mau gak nambah berat badan.

So, di pertengahan puasa gue ganti pola makan dengan sedikit carb dan perbanyak buah dan serat serta asupan protein dari susu + ”water only” policy. Alhasil, celana ukuran 29 gue muat lagi malah masih ada sisa 1 kepel gue masuk pinggang.

Pernah gak sih kepikir badan ini bukannya seperti anggur yang semakin lama semakin bagus dan mahal harganya. Tapi seperti hanya seonggok protein dan campuran asam yang makin lama tumpukan lemak yang menggelayut sana sini semakin tidak indah, apalgi yang perawatannya alakadarnya!

Memang diperlukan high maintenance untuk supaya keliatan bagus dan “saleable”. Gimanapun, laksana baju yang digantung tapi belum laku-laku dihadapkan pada suatu dilema dimana, ngga mungkin harganya dinaikan untuk baju tersebut malah mungkin diturunkan, atau satu-satunya jalan supaya harga tetap sama dengan memodifikasi supaya model baju masih bisa “wearable” untuk jaman sekarang.

So, gue pilih jalan yang terakhir .Mudah-mudahan cicak itu tidak berubah jadi biawak atau atau buaya, tahu kan yang gue maksud.


dj, i’m-too-sexy


Monday, October 29, 2007

[Jogja] Minggu 28.10.07 – 13:00 Hrs

andai wangi itu bisa aku save ke flashdisk.

Tepat +7 hari semenjak ada hujan lewat diatas langit jogja, hari ini langit Jogja mendung dari jam 11 sampai jam 1 siang ini, yang diikuti turunnya butir-butir hujan yang jarang namun jarang ”gemeretak” jatuh di atas genteng rumahku.

Riangnya hati ini menyambut kedatangannya

Tapi lacur dikata

Sekali lagi dia hanya lewat diatas kepala

Sial!

Tidak!

Nyatanya dia masih enggan turun kebumi

Tapi dia meninggalkan jekak sesaat

Ya, wangi itu

Wangi yang kurindu

Wangi yang selalu kujadikan ritual tahunanku

Wangi yang selalu menempel di kepalaku

Wangi tanah

Wangi tanah yang tersiram hujan di hari pertama setelah kemarau panjang

Aneh !

Terserah kalau kau bilang aku aneh

Terserah kau bilang aku kelainan

Tapi aku menikmatinya

Aku memujanya

Laksana harum tubuhnya yang telah lama menghilang

Laksana wangi keringat bersimbah disaat kami bercinta

Laksana multi orgasme yang telah lama tak kunikmati darinya

Dimana kau?

Ah, andai aku bisa menyimpanya dalam flashdsik-ku

Akan kubawa kemanapun aku pergi

Akan ku-upload biar kubisa berbagi

Payah!

Memang payah!

Kenapa para engineer itu masih belum bisa menciptakan piranti yang bisa menyimpan kepuasan indra penciuman.

Kenapa hanya sebatas piranti digital visual yang melangkah terlalu jauh.

Tanya kenapa ?


dj, indent-order-piranti-penyimpan-wewangian.

Monday, October 22, 2007

Cinta itu nggak cuma berwarna pink…. tapi terbentuk dalam jutaan warna, dalam contoh warna di dunia seni grafis saja nggak menyaingi aneka warna cinta.


…..Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya yang menyinari dunia …..


Tapi apa memang begitu?

Ya memang begitu yang saat ini aku jalani ke kamu, dan aku harap kamu gak punya persepsi lain tentang cintaku saat ini dan semoga akan tetap begitu selama aku menghendakinya.


dj, aku-bukan-ibumu


Saturday, October 20, 2007

Hari yg malas untuk beraktivitas...gue muter cd buat ngusir rasa kantuk, ngga lama mengalun lagu opening serial Korea "Full House"

Arhhh.... kenapa mesti lagu itu...:)

Lagu yg sontak bikin gue keinget ama suasana Full House, rumah pantai yg hangat...Kekonyolan Lee Young Jae dan Eun Joo...bikin gue kangen aja.

Kadang gue menghayal menjadi salah satu diantara mereka ( cocoknya jadi Young Jae apa Eun Joo yah gue..hahaha ) Tapi sumpah ini serial yg bikin gue jadi kecanduan film korea, tapi selepas Full House, Jewel In The Palace hanya sedikit serial yg bisa memikat hati gue...Selain minimnya info serial Korea yg bagus juga kadang gue ga sempet beli-nya, kadang juga malah udh ditempat penjualnya malah gue lupa mau beli yg mana..hahaha dasar...

Serial Full House ngingetin gue ke masa kecil gue, ngga ada hubungannya sama sifat Lee Young Jae ama Eun joo yg kekanakan, tapi suasana rumah , berlarian dipasir pantai, sepi namun hangat...asli, pas liat serial ini gue jatuh cinta sama tokoh Lee Young Jae.


Pengen banget tinggal ditempat seperti itu, bersama orang yg gue sayang (red. Suka)


dj, is-a-sweet-bitter-look-like-korean-guy-sometimes

Bermula dari referensi temen yang super-shallow-mellow pecinta film-film drama Korea yg dia sewa dengan regular dari Wahana Disk setiap week-end-nya yang dia tonton dengan bude-nya kerja di Klaten.

Sebenernya review film ini gue simpan di kolom review tentunya tapi karena di blogger gue gak ada fasilitas itu yowes gue tempatkan disini aja sebagai postingan.

++++++++++++=

PRICELESS

Sebuah drama kehidupan nyata!

Coba kita tengok sekeliling kita… temen kita, sodara kita atau mungkin pacar kita dan mungkin kita sendiri ada dalam lingkaran tersebut. Namanya film yang memvisualisasikan kehidupan nyata kita, tentunya banyak sekali pelajaran hidup yang kita bisa ambil dari pesan moral yang ada didalamnya.

Ada 3 points yang pengen gue highlight disini:

· Gadun tajir... di posisi ini, pasrah aja "hanya memberi tak harap kembali" bagai sang surya menyinari dunia... tapi akhirnya sampai juga di titik jenuh, merasa sudah terlalu banyak memberi.. dan akhirnya diselewengi juga (kalo bilang dikhianati, terlalu serius ah...)

· Escort muda... istilahnya...selama si escort nyaman sama si gadun tajir selama si escort bisa hidup senang-senang dari (uang) si gadun... ya oke oke aja he/she own my body.. but not my heart :) ... tapi akhirnya sampai juga di titik jenuh... pengen yang sama-sama muda, yang sama-sama true love ...

· True love ... kadang kejadian bahwa kita ketemu dengan orang yang kita suka... love at first sight... kita suka dia (pertama) dari fisiknya... dari gayanya, dari kelucuannya, ... dsb.. walau akhirnya kita tahu sifat dia lainnya yang konyol, yang merugikan kita, yang sekedar memperalat kita... tapi kalo kita udah kepanah hatinya .... ya... walau ke ujung dunia... pasti akan ku cari...walau ke tujuh samudera... pasti akan ku nanti.... (kalo di syair lagu Chrisye bunyi nya gitu....) ... tapi akhirnya akan sampai juga ke titik kritis : sama-sama suka/love ga.. kalo ngga.. ya hanya menyusahkan diri sendiri aja......... kalo sama-sama true love... (partner yg konyol itu lalu berubah....betul2 cinta ...) nah .. ini yang asyik.... and then, they live happily ever after.....


DJ, I’M-PRICELESS (MODE NARCIS ON)

Monday, October 08, 2007

What if you are sent an email from someone you used to have a good time with, like this…. But you know that you are not deceiver, and you know what you wanted. At least you are being honest to yourself.

And It happens to me now..... gila kan!!

++++++++++++++++++

I haven't seen you in a week and a half, and I'm still hung up on you.
You texted me yesterday to say you are just too busy to spend time with me this week and hopes I'll understand. We all make time for the things that matter in our lives, so what I understand is that I'm not someone who matters to you. You tried to call me today, but I guess only for luring me back into you for another sex vista.

I don't know how to deliver it to you, because I know you'll start your speech about typical fags wanting so much for things. So here I am, writing this, wanting things. Things you can't afford. I don't know why, well actually I know, it's because you are a self centered, crippled narcissistic person with intimacy issues you bastard!

So, why do I keep going back to you? Well, your body is magnificent and I love how naturally dominant you are in bed. You know what makes me cum and you know how much pleasure I get from having my hands tied to the bed so you can whip me. You know talking dirty is the fastest way to turn me on and that I like it when you fuck me, hard.

You understand ownership and control and boundaries. You know how to hold me afterwards and say words like "I love you" to soften the pain.

You are my drug of choice.

But being with you only sporadically is killing me. When I'm alone in my apartment afterwards, I feel drained and quiet. I look at myself naked in the mirror and observe the marks you leave on my skin with a mixture of pride and revulsion. I can smell you on my hands and taste you in my mouth. I do nothing but think of how badly I want to see you again, how I would do anything to spend a few more hours in your arms,
how good it feels to be wanted and cherished and whole. I spend days trapped in a fog of sadness and anxiety. Will you want to see me again? How long will you make me wait this time?

Do you even think of me when we're apart?

How many other guys do you do this to?

It's like this again and again and again. Have another meaningless sex with other is helping somewhat, but not fully. Still don't know how people can deal with it.

I hate myself every time I justify this non-relationship with you. I hate craving something so destructive and worthless. I am smart, strong, good looking, and confident. I have a bunch of friends and a family that loves me. I keep busy with practice and clubs and a well-used gym membership. I am passionate and giving and sensual. I deserve a man in my life who will meet my needs both in and out of bed, but I have never found someone capable of both.

So I settle.

Afterall, it's only a message for you. I know you will be reading it since this is where you found your satisfaction of meeting strangers to fuck don't you. And why openly? Because it's my resolution from now on to stay single (and looking, hehe) for as long as it takes to meet a guy who does not make me feel like settling.

You are already exclude.

dj, no-regret-person-aku-tahu-yang-kumau

Sunday, October 07, 2007

[Jogja] 06.10.07

Berapa persen dalam hidup kita buat mendengarkan radio? Gue yakin pasti jawabannya less than 10% kecuali kalo lagi iseng nggak ada media lain yang bisa dijadikan hiburan. Bosen dengan kumpulan MP3 di HP kita (mending kalo punya HP yang ada radio + Mp3 player-nya) atau pada saat kita di mobil pribadi yang lupa kaset (mending kalau masih punya kaset kan sekarang jamannya CD).


4:45 AM – Female Radio FM


Sepulang dari berjamaah subuh di mesjid selepas imsak dihari ke -6 lebaran di tahun 2007 Masehi.


SANDIWARA RADIO

Prolog:

Tiba-tiba laki-laki yang seharusnya menjadi ayah kandung Ando muncul tiba-tiba muncul begitu saja setelah tujuh tahun hidup Echa dalam ketenangan, dan Agus yang selama ini telah menggantikan fungsi kepala keluarga dalam rumah tangga Echa harus dihadapkan dengan dilema baru dimana dia harus bertempur dengan bathin-nya sendiri apakah iya harus tetap bekerja di café yang telah menjadi sumber keuangan satu-satunya tapi harus selalu menjadi objek nafsu setan managernya.

“Ah penasaran juga pikirku dalam hati”, baru kali ini gue switch ke radio lain setelah sejak pertengan juli lalu gue beli radio kesayangan gue ini selalu bercokol di Swara Gama yang emang gue suka denger tembang tembang apik buatan negeri sendiri dengan DJ2nya yang muda ber-otak yang fresh dengan obrolan seputar jogja dan permasalah anak kampus.

JADIKAN DIRI KITA SEPERTI MEREKA

Memang sih gue bukan anak kampus lagi, rasanya gue udah meninggalkan kampus seumur Adhit yang sekarang duduk di kelas 10 atau mungkin seumur Demas yang baru diwisuda S1 Teknik Industri, gue udah lupa lagi saking kelamaan. But never mind, itu bukan toh permasalahannya tapi lebih kepada permasalahan gue yang harus mengetahui sekitar permasalahan kampus (red. Mereka) sehingga gue bisa menempatkan posisi gue di posisi mereka dan melihat dari sisi dan kacamata mereka, kalau gue mau tahu dan mengerti apa yang ada di kepala dan hati mereka sebelum tahu isi “selangkangan” mereka tentunya! Dan dengan cara ini gue ngerasa a lot of easier to get along with them ( you know what I meant) dan sebaliknya mereka selalu menerima gue selevel dengan mereka bukan mereka melihat gue seperti Assisten Dosen apalagi sebagai Dosennya (ini hubungannya dengan factor “U” lho!) bukan dengan factor knowledge.

Hush jangan salah sangka, gue udah mundur dari kumpulan gerombolan si berat yang meng-atas-namakan kaum hedon kampus meski kadang sekarang masih ada sisa-sisanya sekitar 80% (lhoo koq masih banyak sih), tapi ya gitulah toh gue pada akhirnya hanya segumpal “micro organism yang perlu orgasm” demi terjaganya kelangsungan hidup yang entah sampai kapan berakhir. So, enjoy aja lah dengan apa yang gue miliki saat ini.

BANGKITNYA RUNTUHNYA SANDIWARA RADIO

Ok, back to Sandiwara Radio yang seinget gue terakhir rame-rame-nya sandiwara radio sewaktu “Tutur Tinular” atau “Saur Sepuh” sewaktu gue masih di SMP. Gue inget nyokap dengan radio 2 band Phillip-nya yang hanya bertenaga 2 batere ABC yang ukuran gede itu, mirip dengan radio (red. Gadget) yang gue punyai saat ini, nyokap gue sembari memasak di sore hari mendengarkan sandiwara itu sampai-sampai dia kadang gak bisa diganggu sama sekali kalo sudah manteng dengerin sandiwara itu.


Tapi setelah era itu muncul TV2 swasta apalagi dengan hadirnya sinetron2 yang menggantikan hilangnya perfilm-an Indonesia pada saat itu, otomatis Radio Phillip nyokap gue hanya sebatas pajangan lemari pajangan, tapi tanpa mengenyampingkan tugasnya sebagai seorang ibu buat anak2nya dan istri bokap gue. Itulah nyokap gue yang gak pernah mengeluh! (mode sentimental ON”.


Nah hari ini, gue denger lagi sandiwara radio di jam yang sangat minim pendengarnya, mungkin hanya slot kosong dimana jadwal radio sudah ON sementara penyiar belum ada jadwalnya, jadi secara otomatis terjadwal di antrian oto-running di computer di studio radio.

Kasian?

Rasanya tidak juga!

Karena walau jumlahnya sedikit, tapi pendengarnya adalah “market target” yang sangat loyal dan ini adalah potensi yang baik untuk memasarkan ide maupun produk.

RADIO ADALAH MEDIA YANG EFEKTIF

Gue yakin masih banyak penggemar yang memanjakan telinganya dengan mendengarkan radio, toh memang setelah program gue “back to audio” (red. Radio) rasanya banyak sekali hal yang missing dalam hidup gue kembali lagi, coba fikirkan dengan mendengarkan radio;

1. Komunkasi 2 arah antara pendengar dan presenter dengan kirim2 sms atau hanya curhat lewat call center.

2. Update dengan informasi teranyar tanpa kita baca Koran.

3. Update lagu lagu teranyar tanpa beli CD bajakan atau an juga tanpa membeli Ipod atau Mp3 player yang harganya bisa sampai sama dengan uang kuliah D3 UGM 1 smster atau tanpa “mengunduh” dari lime wire yang kebanyakan hanya tukar menukar virus atau dari blogspot pribadi yang notabene “menjamurkan” dunia pembajakan lagu! (no comment lah).

4. Dengan mendengarkan radio kita masih bisa mengerjakan banyak hal yang tidak memerlukan konsentrasi 2 dari panca indera bersamaan, bisa sambil masak, baca koran, nyapu, mandi, apapun lah selama jangkauan volume-nya masih terdengar. Tidak seperti TV yang mana kita harus duduk terpaku depan TV sementara mata dan kuping terpasang dengan full mode.

5. Dan juga banyak sponsorship yang bekerja sama dengan radio dimana kadang memenangkan door prize lebih gampang hanya dengan ikutan quiz sms atau telefon interkatif dibanding dengan media cetak atau TV. Lumayan kan kalau dapat jatah Indomie untuk satu tahun, apalagi buat anak kos bisa dijadikan P3K (PERTOLONGAN PERTAMA PADA KELAPARAN).


AKU ADALAH APA YANG AKU PUNYAI

Setelah gue beli radio seharga Rp. 475,000- padahal harga waktu pre-launching-nya 1 tahun lalu hanya Rp. 375,000,- yang gue bela-belain di hari terakhir Jakarta Fair tahun ini yang sebelumnya telah memimpikannya sekitar 6 bulan terakhir. Cuma karena memang kurang populartitas karena memang diproduksi hanya terbatas bukan oleh produsen HIFI tapi oleh sebuah perusahaan peripherals computer yang core business-nya spekaer aktif “Sonic Gear”, maka lengkaplah sebuah radio seukuran tissue box berwarna putih polos dengan kesan yang sangat minimalis gue miliki.

Dengan hanya terdiri dari volume control, tombol ON/OFF dan pencari frekuensi dengan model radio kuno, tapi radio ini dilengkapi dengan jam analog yang kalau radio dinyalakan maka sinar lampu putih susu menyala menjadikan background led control untuk bisa jelas melihat angka-angka gelombang radio dan waktu di jam analog, sementara single speakernya cukup nyaring menghadap keatas dengan ber-diameter selebar panjang telunjuk orang dewasa yang dibalut dengan cover speaker berbaut empat terbuat dari stainless steel yang terkesan solid dan macho dengan mengetengahkan retro fashion yang kontemporer + ada lubang booster di belakang radio sebesar lubang MUG Kopi, sedangkan antenna standar yang bisa dipanjang-pendekkan dan dimasukan dalam slotnya menambah kesan klasik dan tetap berkesan radio apa adanya. Oh ya, meski sederhana radio ini dilengkapi dengan line-in untuk memasang Ipod atau Mp3 Player, kita tinggal putar tombol ON/OFF ke posisi aux maka kalau malam hari kamu set wake-up alarm Ipod kamu makan radio akan membangunkan dan memutar lagu lagu kesukaanmu dan mengantar kamu mengarungi hari hari pagi yang indahmu.

Satu hal yang palin gue sukai, body luar radio ini berwarna putih susu terbuat dari kayu! Sekali lagi kayu….! Alias Wooden Radio…. Sungguh perpaduan antara kesederhanaan, elegance, macho, klasik, tapi tetep mengetengahkan sisi kegunaan jaman sekarang (red. Modern).

KENCAN DENGAN PRESENTER RADIO

Duh sebenernya malu sharing disini tapi udah kadung bicara tentang radio, sekalinya gue pernah “ditembak” oleh penyiar radio. Gara-garanya gue diundangi ke studio radio buat talk-show tentang event sebuah festival yang gue ama temen gue organise waktu itu, talk-show nya lumayan hidup sampai-sampai selain sms dan interkatif lewat call center juga sampai Off-Air setelah acara talk-show masih banyak yang penasaran dengan event tersebut. Dan pada saat itu dia sebagai penyiar yang mendampingi kami, biasa lah setelah acara kelar kita itu tukar-tukaran no hp termasuk dengan si penyiar tadi. Belum lagi berselang hari, ada sms dari dia “mas aku udah kelar siaran, ngopi yuk, mau ga”, sms masuk di HP gue.

Then, berlanjutlah ke kopi darat lalu hari-hari selanjutnya dikala dia siaran ada aja lagu cinta yang dikirimkan buat gue itu berlangsung sekitar 2 bulan lebih sampai akhirnya kita jadian (duuh senengnya).

Oh ya satu hal yang unik selama “menjalin hubungan” dengan penyiar radio ini adalah gue menemukan suatu pribadi yang sangat komplek sekali diantaranya:

  • 1. Lebih sensitive terhadap audio menelefon dia 30 detik akan jauh lebih puas daripada 30 sms berantai.
  • 2. Lebih romantis.
  • 3. Lebih percaya diri.
  • 4. Lebih banyak tahu segala permasalahan hidup dan bisa menjadi pendengar yang baik saat dicurhatin.
  • 5. Lebih tepat waktu kalau diajak ketemuan.
  • 6. Lebih rapi dan modist.
  • 7. Lebih cuek dengan gaya yang bikin ngangenin.

Tapi tidak bisa ambil sikap dan menentukan permasalah hidupnya, termasuk permasalahan yang timbul selama menjalin hubungan sama gue! So, I said “Honey, I know ee have something in common but I think we better to stay as a special friend, kayak adek kaka gitu aja deh buat kebaikan kita berdua”.

(padahal dalam hati gue, kita sudahi saja sampai sini gue capek!)


DJ WAS A DJ’S RADIO

Another true story of mine. Yess, I was a DJ’s Radio once!

Ceritanya waktu gue di Balikpapan, you know di kota kecil yang modern berskala international itu selepas gue kerja gak ada kerjaan lain selain mengajar sebagai dosen di sebuah lembaga pendidikan rabu dan sabtu selebihnya, sooo boring! So, adalah seorang kawan mengenalkan seseorang yang notabene adalah founder dari sebuah radio station untuk kalangan dewasa lah. Dan satu dari sederet program-nya ada semacam obrolan malam yang inter-aktif dengan pendegar dari jam 11 malam sampe radio OFF jam 1 pagi.

Setelah beberapa kali gue tandem dengan penyiar tetap yang di statistik tidak menunjukan rating yang signifikan akhirnya gue dengan berbekal beberapa acara talk show Oprah + Majalah Cosmo gue mengudara sendiri mengembangkan program yang ada. Memang kadang menyimpang dari patokan yang ada tapi justru disini tercatat rating mulai naik perlahan, terbukti dengan makin banyaknya sms dan telefon masuk serta di grup milis yang dikelola.

Jadilah gue seorang Mr. Ditch yang dikenal dengan obrolan “nyeleneh” tengah malam! Gue gak mau ulas lebih detail apa itu obrolan “nyeleneh” karena itu ide gue dan jangan sampai dibajak oleh pelaku di bidang radio yang baca blog gue. Halah!

Tapi kalo masih penasaran then “HIRE ME AND I’LL TELL U”!

dj, listening-to-female-radio

join me on