Road can be violence if you don’t know how to deal with it.
Pirates From Kebumen
Ini cerita lain dari perjalanan mudik gue sejauh lebih dari 700KM Jogja-Pangandaran-Jogja. Baru saja 1.5 jam meninggalkan Jogja sekitar jam 14 :00 di daerah Kebumen tiba-tiba Mio gue goyang bagian buritannya dan sedetik kemudian gue sadar kalo ban belakang gue kekurangan tekanan angin yang mendadak dan seketika gue menepi dengan menarik tuas rem depan belakang pelan-pelan mengikuti laju badan motor yang telah gue release rip gas-nya sampai titik NOL.
”Shiit ” gue mengumpat dalam hati. This could be something very bad !
Untungnya (red. Orang kita selalu aja untung), tidak jauh dari gue berhenti ada tambal ban dan tanpa “ba-bi-bu” gue suruh si bapaknya membuka ban dan mengeceknya. Dan dugaan gue gak salah “ban dalam robek” dan tidak tanggung-tanggung selebar ruas jari telunjuk gue! O.M.G. Entah suhu aspal dan gesekan ban gue yang over-heated yang pasti kalo road-temp aja gue estimasi sekitar 40 derajat celcius, apa jadinya ban dan aspal yang bergesek sehingga tekanan angin akan meng-stimulasi panas dengan putaran roda dan kekuatan ban “IRC” yang terpasang didalam ban.
“Ganti baru berapa pak?”
“Rp. 25,000”. Jawab di bapak tambal
“What!!! Gila aja nih orang aji-mumpung banget”, kata gue dalam hati.
“Mahal banget pak”, tanya gue pura-pura keheranan.
”Iya mas, harga ban baru saja naik sebelum lebaran”, jawab si bapak dengan muka yang sok-ndeso (red. Innocent)
“Bener-bener rampok jalanan”, umpat gue tetep dalam hati dengan muka tetep dibuat manis.
“Ya udah bapak ganti sama serep saya aja” kata gue sambil buka jok motor sambil mengeluarkan ban dalam baru dari compartment penyimpanan jas hujan.
Trus gue kasih deh ban baru yg selalu gue bawa untuk jaga-jaga kalo long trip ke si bapak, tampak muka si bapak melongo gak tahu apa maksudnya. Mungkin dalam hati dia ngomong “sialan, rejeki ilang”.
5 menit kemudian selembar uang Rp. 5,000 akhirnya diterima si bapak dengan ucapan terimakasih dari gue dan gue sekali ini selamat dari “street-robbery”.
Tunggu dulu! Road Killers story belum sampe disini.
Pembunuhan Berencana
Ingat tahun lalu ketika diberitakan ada balita meninggal di pelukan ibunya dan si ibunya baru sadar kalo bayinya meninggal ketika sampai di kampung tujuan dia di Klaten (kalau tidak salah) setelah menempuh perjalanan seharian dari Bekasi.
Ya ini baru namanya real Road Killer dengan cara yang direncanakan! Pasti kalau di amerika si orang-tua bayi akan diseret ke pengadilan oleh dinas perlindungan anak karena telah membunuh anak kandungnya sendiri dengan rencana. Betapa tidak, hanya dengan bermodalkan selimut tebal dan gendongan bayi, si bayi harus menghirup knalpot kendaraan sepanjang jalan kenangan Bekasi-Klaten dan karena si bayi diem aja dikira sama si ibunya tidur dan gak rewel, eh gak tahunya udah tak bernyawa!
Pebunuh Berdarah Panas (Ndeso-Riders)
Bocah2 ndeso yang pada saat liburan lebaran pada keluar jalan provinsi berbondong bondong mengunjungi tempat2 wisata dan karena biasanya melaju seenak udel-nyadi jalan ndeso yang kosong melompong dan tidak pake helm sehingga kuping dan mata bebas menangkap sinyal, sekarang tiba-tiba harus pake helm standar yang kuping dan matanya hanya bisa berfungsi 40% dari kebiasaannya, ditambah dengan hiruk-pikuk jalan provinsi disaat peak-season ini menambah stress dan derajat kemampuan mengendarai motor mereka turun hanya menjadi 40% saja ditambah pula dengan ego-ndeso-nya yang sok pengen pamer riding-skill-nya ke teman ataupun pacar yang dia mboncengi.
So, alhasil perilaku mereka dijalanan yang urakan dan membahayakan diri orang lain dan tentunya juga dirinya sendiri. Yang ini juga patut dikasih pelajaran, gimanapun alasan self-defense itu tidak akan dihukum meskipun si-defender terbukti telah membunuh.
So, sekali waktu selepas Wangon menuju Karang-Pucung dimana jalan berkelok-kelok dan sebuah Suzuki Shogun yang dimodif ceper melaju kencang menyalip gue dengan mengambil ½ bahu kanan jalan sementara gue sudah ½ badan bis menyalip sebuah bis antar-kota yang terseok-seok kelebihan muatan, gue lirik speedo meter 80KM berarti gue masih didalam batas wajar, jalanan saat intu membentuk letter “S” dengan jarak pandang yang masih bisa ditolerir saat ini pula sebuah mobil kijang meluncur dari arah berlawanan yang mana gue udah sadar dan tahu jarak antara gue dengan kijang dan bis ini masih ada sepinggang orang dewasa, tapi apa yang terjadi jika gue dan si Suzuki Shogun itu hampir bersamaan dalam kondisi seperti ini???
Syaraf reflex dan urat sadar gue segera memerintahkan tangan kanan gue menarik grip gas ke level maximum dan jempol kiri gue menarik tuas choke dan secepat kilat menekan tombol klakson selama hampir 2 detik. Disaat ini, tentunya tenaga dorong yang dihasilkan paling tinggi ditambah dengan supply bensin yang bertambah ke ruang pembakaran dari hasil choke dibuka yang otomatis akan menambah tenaga sekitar 20% dari normal. Sedangkan klakson yang dibunyikan memberi kode kepada si sopir bis + si Shogun akan keadaan yang emergency, dan si Shogun hampir mencium buritan Mio gue.
Entah apa yang teradi setelah hampir 2 detik tadi, tapi Alhamdulillah gue bisa melewati bis pas di tikungan yang mengarah kearah kiri (red. Hampir di leher letter “S”), tapi si Shogun sepertinya sedikit mengalami turbulence akibat dari pergesekan udara yang terjadi sewaktu kijang berpapasan dengan bis dan si Shogun sedikit membuang badan meluruskan track dia ke-arah kiri tentunya, yang terlihat agak tak jelas kalo si Shogun nyelonong ke sisi kanan hampir menambrak tebing dan masuk parit.
Ps: Maaf kalo lo orang kota dengan perikalu seperti ini tetep juga Ndeso-Riders
“Ufss, I did it again”.
Disini!
Gue ngerasa kalo semua darah tersedot naik ke ubun-ubun.
Gue ngerasa kalo didepan sana ada 2 belokan, Ambulance atau Keranda Mayat?
Gue ngerasa kalo gue kecil banget dihadapan Pencipta.
Other Road-Killers (versi gue)
· Dinas Pekerjaan Umum. Jalan raya yang antar provinsi yang tambal sulam seperti ban vulkanisir yang terlihat rata di permukaan tapi kalo melaju seperti naik “bajaj-bajuri” yang bikin “pinggang patah”. Dengan lubang menganga yang siap menghantam kaki-kaki sedan anda masuk bengkel untuk spooring dan balancing selepas lebaran, atau parahnya menyerempet pengendara speda motor atau juga menambrak pohon karena menghindari lubang tadi. Paling extreme-nya pengendara motor yang terlontar kedepan dan jauh di aspal lalu tergilas bis yang kebut-kebutan. Naudzubillah ….:(
· Pengendara yang ngantuk.
· Pengendara bis yang ugal-ugalan cari setoran.
· Ban kendaraan yang gundul.
· Rem yang tidak pakem.
· Pengendara yang yang sambil pegang telepon di kuping (ini ada loh)
· Pengendara yang sambil sms (juga ada loh, gila kan)
· Pengendara yang nahan pipis (pastinya akan kaburkan konsentrasi kan)
· Pasar tumpah (ini bikin macet sejauh 10KM di karang anyar dan gombong)
· Klakson “bodong” yang mengagetkan dan memekakkan telinga (orang macam ini patut digantung lehernya di tiang lampu merah). Asuuuuuu!
· Tentunya juga knalpot bodong juga patut “dikebiri” tuh orang.
dj, love-killer
Maximum Speed:
· Yakinkan kendaraan ditunning sempurna di bengkel resmi 2 hari sebelum berangkat. Dengan mengecek fungsi; rem, tekanan angin, oli mesin,minyak rem, kondisi ban, dan lampu2).
· Sediakan buat jaga-jaga kendaraan; Fuse (sikring) kelistrikan sesuai dengan amphere yang standar, 1 bohlam lampu depan, 1 ban dalam, obeng (2 mata plus minus), tang berlapis karet, kunci busi, kunci inggris kecil, 1 busi baru, jas hujan).
· Hindari pemasangan aksesories kendaraan yang akan memperngaruhi sistem keamanan ataupun sistim kerja mesin dan kelistrikan kendaraan (lampu2 hias, kanlpot & klakson “bodong”, stang motor yang tidak standar, ban & pelek yang tidak sesuai, ceper, dll yang tidak standar pabrik)
· Kalo perlu sediakan 1 botol kecil “power booster” yang sebenarnya adalah detergen bensin yang menguapkan kadar air di karburator sehingga pengapian sempurna. Takaran untuk 1 tangki Mio Rp. 15,000 (3.5 liter) masukan 2 tetes “power booster” hasilnya DAHSYATT!! Mesin sangat responsive dengan daya akselerasi tinggi. Tidak perlu mengganti premium menjadi pertamax karena perilaku mesin premium memang memerlukan daya kerja sifat premium bukan sifat pertamax (apa ya sekarang namanya).
Street-Fashion:
· Direkomendarikan memakai pakaian berwarna terang karena akan memberikan alert secara visual untuk pengendara lain tentunya hindari warna gelap (hitam) karena hanya akan menyerap panas dan tidak eye-catching getoloh. Cong!
· Jaket tebal yang body-size dengan riesleting depan, jangan memakai jaket yang longgar ataupun jacket yang bertutup-kepala (hooded) karena hanya akan mengumpulkan angin yang masuk lewat leher, yang berakibat masuk angin dan bersifat non-aerodimamic buat laju motor.
· T-Shirt tidak ketat yang menyerap keringat.
· Kaos kaki yang agak tebal terbuat dari katun dan sepatu yang menutupi tumit (sejenis sniker, ato ½ boot), dengan karakter sepatu yang tidak berat tentunya (kurangi beban).
· Celana panjang terbuat dari katun yang agak longgar (rekomendarsi celana model dock yang banyak sakunya tertutup, ini berguna untuk simpan kelengkapan lain.
· Sarung tangan yang menutupi semua jari (hindari bahan yang terbuat dari polyster karena hanya akan menyerap panas) dan dengan permukaan telapak sarung tangan yang tidak licin supaya daya cengkeram tangan stabil di stang motor.
· Helm standar yang melindungi kepala bagian belakang sampai ujung leher dan melindungi muka sampai kearah dagu (tidak perlu yang sampai menutupi dagu karena elo toh bukan road-racer yang notabene akan mengurangi radius pandang).
o Kaca helm menutupi seluruh muka dari jidat sampai dagu yang bisa di-adjust tutup buka. Akan terasa berguna sekali saat malam ataupun hujan.
o Redup kaca helm maximal gelap 30% karena disaat siang tidak terasa terlalu terik dan masih jelas daya lihat sampai terjauh batas mata normal, dan juga pada saat malam hari, namun jika dirasa penerangan malam hari kurang kaca helm bisa diangkat untuk menambah daya lihat.
Beauty-On-The-Road:
· Pakailah boxer jangan Cd segitiga apalagi G-strig (jangan deh), karena gimanapun area situ yang sering dicuci dan diraba tapi nggak pernah dijemur apalagi disetrika adalah aset utama yang sekarang dipertaruhkan kualitasnya untuk over-heated-situation. Jadi perlu ruang gerak dan space sehingga ada cooling-system yang meneralisir temperatur yang tidak diharapken. (you know what, saat anda sedikit membungkuk untuk menambah akselerasi saat menyalip untuk menghindari turbulence dan menciptakan aerodinamic-shape, celana panjang longgar lo yang sedikit melorot dibawah pinggul akan memperlihatkan boxer-sexy-lo yang bikin motorist di belakang lo tabrakan-beruntun).
· Pakailah “tabir surya” (hihihi lucu nyebutnya untuk “sun-block”) yang tahan min 6 jam bersifat tidak hanya melindungi kita dari UV (yang notabene tidak bersahabat untuk kecantikan kulit setelah jam 7 pagi) tapi juga kombinasi proteksi dari UVA+UVB serta mengandung vitamin E yang akan menutrisi kulit dan menjaga kelembaban kulit. Do I sound like a “Clinique” Beauty Consultant?
· Sediakan tetes mata yang bersifat menyerupai air mata, karena airmata tidak diproduksi setiap kali dan kita perlu membersihkan pollutant jalanan dari cornea mata, tentunya untuk mata yang cantik.
· Pembersih muka beralkohol, seperti tissu basah yang simple bisa disakuin membuat muka cerah serta segar.
Comfort-Me:
· Beristirahatlah setiap min 2 jam sekali selama min 15 menit, max 30 menit (setiap 4 jam) kalo kelamaan-lama-lama-males bo! Saatnya meng-tunning (pipis or ee, isi bensin kendaraan, cek tekanan ban, cek lampu2, sholat, makan, ngeroko, siesta kalo bisa kalo nggak rebahan aja ini perlu untuk balancing tulang punggung, minum air mineral yang banyak (boleh lah pake dopping sekarang ada pocari sweat, ada extra joss, named it semua ada di sepanjang jalan) bahkan extra joss gratis dibagi-bagi gila emang yee “the power of marketing”.
· Hindari makanan yang pedas dan berlemak karena hanya akan membuat lo nggak nyaman di jalanan. Konsumsi buah akan menyegarkan badan.
· Sediakan selalu air mineral botol kecil selama perjalanan, untuk menjaga dehidrasi. Minum beberapa teguk jika berhenti di lampu merah.
Gym-On-The-Street:
Selama berkendara usahakan seluruh anggota tubuh digerakan (tapi jangan joget) agar peredaran darah senantiasa lancar dan oxygen yang ada dalam tubuh dibantu mengalir di sela-sela serat otot tubuh.
@ the traffic light (Berhenti)
· Berdiri dari jok motor, kemudian angkat badan dengan mengangkat tumit kaki mirip balerina lagi pemanasan (hihhihi).
· Tetep duduk di jok, balikan badan kearah kiri segaris dengan badan motor tempatkan tangan kanan di stang sebelah kiri dan tangan kiri di jok bagian kanan dibelakang pantat dan “krek” bunyi otot kaku di pinggang akan meregang relax, ulangi untuk arah berlawanan.
· Masih duduk tegak di motor. Tekan ujung kaki kemudian putar searah jarum jam sebanyak 5 kali dan berlawanan arah jarum jam sekali lagi.
· Lepas kedua jemari tangan dari cengkeraman di stang motor, tapi masih tangan memegang stang motor kemudian lakukan gerak senam jari-jari tangan membuka dan menutup.
· Lakukan pula senam muka dengan mengkerut dan menarik dengan otot pipi dan dan rahang (kalo liat dikaca muka lo pasti jelek). Bisa juga dilakukan saat kendaraan melaju.
· Masih duduk di motor, remaskan jemari tangan kanan dan kiri lalu tarik dengan telapak tangan menghadap keatas kepala dan dorong semaksimal panjang tangan anda kemudian tarik kearah kepala anda, lakukan sebanyak min 3 kali dan diakhiri dengan posisi tangan meregang diudara selama ½ detik.
· Putar leher perlahan tapi menghentak searah jarum jam dan ulangi memutar berlawanan jarum jam sampe terdengar “krek” otot pundak yang kaku.
on the move:
· Sesekali angkat pantan lo dari jok motor dan lakukan mengayun badan keatas dan kebawah sementara kaki menekan di step motor.
· Dengan tangan sebelah di stang motor, gerakan jari-jari tangan dengan cara membuka dan menutup jari membentuk “keppel” dengan tenaga dikumpulkan diujung jari.
· Gerakan kari dengan cara memutar tumit kearah jarum jam dan berlawanan sebanyak masing masing 5 kali putaran.
· Gerakan kaki seakan akan sedang mengayuh sepeda onthel.
· Dengan kedua tangan menekan di stang motor, gerakan bahu dan pangkal lengan lo dengan gerakan memutar kedepan dan kebelakang masing-masing 5 putaran.
· Jangan menahan kentut (cukup angkat pantat dikit, atau miringkan badan).
· Pindahkan sesekali kedua kaki menapak di step belakang (boncenger).
Other tips for safety:
· Kurangi beban berlebih (excess baggages), lo kan bukan mau pindahan kos.
· Nyalakan lampu buat speda motor, bukan buat kita melihat kendaraan lain tapi buat kendaraan lain melihat kita. Titik!
· Dilarang balapan ini bukan ajang road-race (inga2 keluarga menanti, halah).
· Ikuti dan taati rambu-rambu jalan.
· Konsentrasi penuh ke jalan, terutama mata dan fikiran. Jangan memikirkan lain kecuali keselamatan berkendara apalagi menghayal jorok!
· Menyalip mobi dari kiri syah-syah aja tapi dengan catatan batas toleransi yang luas.
· Pasang spion motor tuh yg standar minimal 1 sebelah kanan.
Ethique-on-the-road :
· Selalu pasang lampu isyarat belok kalo mau belok kiri atau kanan termasuk mau nyalip atau sesudah nyalip.
· Matikan lampu isyarat belok kalo sudah membelok dan berjalan lurus.
· Gunakan seperlunya klakson. Karena malah akan mengagetkan!
· Berusahalan tetap tersenyum kepada sesama motorist. Kalo gak ada orang jangan senyum terus, ntar disangka gila.
· Lebih baik mengalah (memberikan jalan kepada orang lain), kecuali dalam kasus gue ama shogun itu (hehe tetep ngeles).
· Beberapa hukum jalanan yang tidak tertulis di buku panduan pembuatan sim:
o Jika ingin menyalip kendaraan besar (truk, bis luar kota) pasang sein kanan dan nyalakan kedipkan lampu jauh beberapa kali. Jika sopirnya merespon biasanya dia akan menyalakan sein KIRI pertanda JANGAN NYALIP DI DEPAN ADA RINTANGAN, sebaliknya kalo dia menyalakan sein KIRI pertanda OK TO GO. Kalo nggak ada respon sama sekali berarti supir tembak ( hahahaha ) alias go on your-own-risk.
o Nyalakan klakson sesaat setelah menyalip atau sambil lambaikan tangan kiri pertanda terimakasih sudah memandu atau memberi jalan.
o Jika kita di posisi depan dari motor lain saat menyalip, lambaikan tangan diatas kepala mengarah kedepan pertanda kasih kesempatan kepada pengendara motor lain untuk ikut.
First-Aids
Gak banyak yang gue persiapkan untuk ini, gimanapun gue serahkan jiwa raga gue sama yang diatas saat gue melaju. Tapi biasnya gue bawa 3 butir panadol extra, 2 butir entrostop, dan 2 butir wes-ewes-blablas-angine.
dj, B-B-B-B-B-B (Bold-Brave-Beauty-Brain-Behaviour-BeAware)
Berapa dari kita pernah memainkan permainan ini dikala kecil dulu?
Jawabannya mungkin hanya 1 diantara 5 karena permainan ini biasanya populer di kalangan anak lelaki yang berasal dari kampung dimana masih tersedianya pohon bambu besar ataupun pohon pinang yang dibuat sendiri, jadi gak mungkin dimainkan oleh anak-anak dari kota.
Nha lebaran kali ini karena kelihatannya lebaran tersepi yang mudik di kampung gue, secara gue hanya sama nyokap dan kaka gue no 2. Ketiga kakak gue yang lain pada ngumpul semua di tangerang di kaka sulung yang tahun ini baru kehilangan 2 orang anggota keluarga (1 anaknya yang sulung dan suaminya), sedih memang… tapi semua sudah ada suratannya.
Akhirnya untuk mengusir rasa sepi si om ini mengerahkan anak ”piyik” di kampung gue untuk membuat meriam bambu sekaligus mengingatkan gue kepada childhood gue dulu, plus sebagai hmmm investasi gue supaya dikenal sama generasi penerus di kampung gue kalo ada om yang cakep dan pinter tapi sangat down-to-earth ini tapi jarang mudik sehingga hampir tak dikenali ”Back-to-Kampong” in the future dan akan mencalonkan diri menjadi lurah setempat. Mudah-mudahan dengan cara ini mereka akan inget dan mendukung gue sebagai suksesor dalam memilih gue jadi lurah kalo gue udah bosen di kota (hihihihihi).
MODE NARCIS TEUTEUP ON !
Masih segar di ingetan gue dulu, kakak laki-laki gue satu-satunya (yang sekarang sudah almarhum gara-gara kanker otak sialan yang menggerogoti kepala dia sewaktu gue baru masuk kuliah dulu) dia beserta teman-temanya selalu sibuk mempersiapkan ”lodong” yang terbuat dari jenis bambu besar atau pohon jambe (pinang) menjelang lebaran tiba.
Biasanya di minus 2 lebaran dia beserta teman-temannya mencari bambu besar yang cukup tua atau pohon pinang yang kemudian dipotong sepanjang 1.5 – 2 meter. Berikut cara mempersiapkan lodong untuk meriam mambu ;
Bambu :
· Siapkan sejenis bambu yang berdiameter besar serta sudah tua.
· Potong antara 1.5 – 2 meter (sesuai selera). Pendek dan panjang akan mempengaruhi kualitas tekanan gas yang dihasilkan yang otomatis semakin panjang akan menghasilkan suara lebih menggelegar.
· Lubangi bambu sekitar 10cm dari arah pangkal berdiamieter sekitar sebesar ibu jari yang akan dipakai memasukan karbit dan menyulut gas.
· Ikat sekitar sambungan ruas bambu dengan karet bekas ban dalam motor, untuk memperkuat kapasitas bambu dari tekanan tenaga yang dihasilkan gas dari karbit pada saat disulut.
· Lobangi bagian sambungan ruas diantara pangkal yang telah dilubangi dengan ujung meriam dengan menggunakan linggis (besi panjang berujung tajam dan ujung satunya berbentuk kaki kambing yang gunanya untuk mencabut paku yang kadang disebut sebagai kaki kambing). Pastikan sambungan ruas bagian dalam ini terlubangi dengan baik yang hampir rata dengan diameter bambu, ini sangat penting supaya tekanan gas karbit yang dihasilkan tidak tertahan yang akan menyebabkan tekanan dan akhirnya membuat bambu mudah pecah.
Pinang:
· Memang sedikit repot mempersiapkan lodong dari pohon pinang karena pohon pinang dalamnya tidak berlubang dan memerlukan kesabaran untuk melubangi dan membuang serat bagian dalam pohon pinang.
· Ada dua layer dari bagian batang pohon pinang, diawali oleh layer yang bertekstur keras dari arah luar kulit sekitar 1- 2 cm (tergantung diameter pohon pinang) yang kemudian disambung dengan layer kedua berbentuk serabut yang lunak sampai bagian core lingkaran.
· Nah bagian layer yang kedua ini yang kita buang dengan cara menusuk-nusuk dari bagian ujung (atas pohon) ke bagian pangkal dan sisakan sekitar 10cm.
· Setelah itu lubangi pohon pinang sekitar 10 cm dari ujung yang disisakan atau 20 cm dari pangkal pohon pinang.
Ciri-ciri bambu atau pinang yang tua:
· Permukaan kulitnya sudah berubah warna dari warna aslinya, berwarna agak putih karena termakan usia dan bercorak seperti sudah ditempeli oleh fungus (sejenis jamur).
· Bertekstur kulit yang sangat keras.
· Berdaun yang sudah jarang kecil karena pasokan nutrisi daun yang sudah terlalu panjang dari akar ke ujung daun.
Persiapan lain:
· Sediakan penyulut yang terbuat dari bambu atau dari ranting katu sepanjang 1 meter.
· Balut ujungnya dengan kain bekas yang terbuat dari katun kemudian rendam dalam minyak tanah.
· Buat tutup lubang lodong dari kain yang digulung kemudian direndam didalam air, ini berguna supaya pada saat ditutupkan ke lubang, tidak ada gas karbit yang keluar dari dalam lodong, sehingga konsentarsi gas yang nantinya terkumpul semakin padat yang akan menghasilkan tekanan serta suara yang dahsyat.
· Karbit dipecah menjadi bagian kecil sebesar kerikil atau sebesar ibu jari dengan cara memecahnya memakai palu. Simpan di tempat kering dalam plastik dan terbuka
Cara memainkan meriam bambu :
· Tempatkan lodong dengan posisi diganjal 1/3 di bagian ujung dengan mempergunakan batang pohon. (paling pas kalau diganjal dengan batang pisang yang terlebih dulu diberi dudukan untuk badan lodong supaya lodong stabil pada saat lodong meledak). Posisi lodong seperti ini akan memberikan efek gas mengumpul dengan konsentrasi tinggi di bagian pangkal lodong dan mengindari air yang mengalir ke ujung lodong.
· Jika ada lebih dari 1 lodong, berikan jarak antar lodong paling tidak 15-20cm.
· Masukan 1 butir karbit yang telah dipecah tadi kedalam lubang lodong.
· Masukan air kira-kira seukuran gelas kecil (200ml) yang akan mengurai karbit menajdi gas.
· Segera tutup lubang lodong dengan penutup lobang yang terbuat dari kain tadi.
· Biarkan selama 3-5 menit. (sekarang meriam mambu siap diledakan).
· Nyalakan penyulut.
· Buka tutup lodong.
· Beri jarak antara lodong dengan badan kita kira-kira 1.5 meter. Ini demi menjaga keamanan badan kita dari ledakan balik yang keluar dari lubang lodong.
· Tempat kan api yang menyalat di penyulut diatas lubang dan DUAAARRRRR!!!
· Kurang dari 1 detik getar serta suara ledakan akan membuat dada dan gendang telinga terasa pecah.
· Respect to traditions and culture. Ini yang akan memperkaya khasanah prularisme (bener gak ya ngeja-nya) makanya gue sukanya ngebut bhineka-tunggal-ika aja.
Achtung:
· Permainan ini bisa dimainkan oleh anak usia 10 tahun keatas dengan supervisi orang dewasa. (tentunya yang punya nyali besar, kalau nyali kecil main bola bekle aja ya).
· Sebaiknya dimainkan di tanah kosong yang jauh dari pemukiman penduduk.
· Karbit sebaiknya digunakan sampai habis atau jika bersisa simpan di tempat kering dalam keadaan tidak tertutup rapat, untuk menghindari gas yang akan terbentuk dan berbahaya.
· Jangan gunakan lodong yang pecah karena gas akan menyebar dan berbahaya saat ledakan terjadi.
· Jangan bermain lebih dari 1 jam terus menerus (bayangkan jika ada 3 lodong maka dalam 10 menit ada 3-5 ledakan dan dalam 1 jam ada berapa ledakan yang akan masuk dalam gendang telinga kita). Safety first!
Perbedaan bunyi ledakan antara Lodong Bambu & Pohon Pinang:
Bambu akan menciptakan efek yang berbunyi sangat nyaring memekakkan telinga tapi getar yang lemah (trebbel), sebaliknya lodong dari pohon pinang mencoptakan efek getar yang menggelegar dengan suara yang mendentum (Bass yang dilengkapi sub woofer)
Catatan:
· Biasanya bermain meriam bambu berbarengan dengan menyalakan petasan, supaya lebih meriah dan lebih gampang mengontrol keamanan. (Jelas ini permainan berbahaya).
· Selain di tempat kosong, permainan meriam bambu ini biasanya dilakukan di halaman mesjid berbarengan dengan hingar bingar tabuhan beduk yang dibarengi dengan takbir.
· Sebaiknya bermain meriam bambu dan petasan dilakukan hanya di hari malam takbiran, lebaran pertama dan kedua. Karena sebelum dan sesudahnya hanya akan mengganggu kenyamanan lingkungan.
Pesan moral:
· Lebaran adalah celebration! So, play as you like but not too much. Karena sesuatu yang berlebihan itu tak baik.
· Jika ada larangan tentang petasan di hari biasa, lakukan di hari lebaran. Ini saatnya dimana batas toleransi sangat lebar tapi lakukan dengan bijaksana. (Hehe bukannya 1 adanya larangan adalah untuk dilanggar?).
· Be the opportunist, karena kesempatan gak datang 2 kali.
· Selalu dekat dan cintai keluarga meski kadang kita harus berkorban untuk yang lain. Karena gimanapun kita hidup dengan garis keturunan, itu yang membedakan kita dengan hewan (meski anjing2 yang di beli di petshop sekarang juga sudah punya certificte of birth yang menerangkan garis keturunan yang menentukan “breed” atau bibit-nya anjing, dan tentunya ini akan menaikan harga jual beli keturunannya).
· Terkadang kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Tapi ini adalah fakta yang kita harus berbesar hanti menyikapinya.
· Be the enviromental friendly. Kapan lagi kita mulai kalau tidak sekarang.
· Be safe! Tanpa missing your fun.
· Be positive and think ahead. Tomorrow is what you invest today.
· Pada kita tidak disibukkan dengan rutinitas duniawi dan kesenangan kita. Kadang kita baru menyadari betapa hidup kita ini indah dan patut disyukuri, tapi gue aja susah dapat moment seperti ini.
dj, likes-to-play-with-dangers
Kemarau setahun, imbas oleh hujan ½ hari (kira-kira gitu deh peribahasa lama) yang berarti juga dosa setahun, terhapuskan saat saling memaafkan di di hari fitri.
Biasanya kalo lebaran china (red. Imlek) turun hujan dipercayai oleh kaum tionghoa kalo tahun depan rezeki akan berlimpah dimana hujan dipercaya sebagai “chien” atau “uang”. Percaya atau tidak toh itu yang sampai hari ini sampai ke kuping gue dari seantero legenda dan cerita yang beredar di masyarakat.
Entah 3 tahun lalu atau kapan gue masih inget dimana imlek dan lebaran idul fitri hampir jatuh bersamaan, dan saat itu gue merasakan bener-bener suatu “great celebration”. Anyway thanks to Gusdur yang telah meluluskan hari raya imlek merupakan hari besar agama nasional yang ditandai tanggalan merah yang berarti semua orang kantoran libur bekerja. Sekali lagi thanks ya Gus! Paling tidak jasamu yang satu ini akan terus dikenang setiap kali hari raya imlek.
Kembali ke hujan. Hari ini, hari pertama lebaran di kampung gue hujan sudah mulai turun persis jam 6 pagi, memang tidak deras tapi cukup untuk membuat shaft perempuan yang kebagian di luar mesjid dimana di RT gue melaksakan Sholat Ied berhamburan sambil teriak-teriak (maklum cewek gitu), karena tenda biru sebagai pelindung putus tali penyangganya karena air otomatis tertampung di bagian yang menggelayut (aduh susah gue menerangkan dengan kata-katanya, tapi bisa dibayangkan lah).
Alhasil, bapak-bapak seksi perlengkapan harus angkat sarung sampai ke paha dan segera ambil langkah darurat membetulan tenda yang ½ nya sudah rubuh. Yang kasihan beberapa ibu-ibu yang sudah tua gak sempat menghindar dari ”air bah” akhirnya pada kebasahan. What a morning ! Dan gue dibantu satu orang (gak tahu namanya) mengangkat dan menumpuk bangku-bangku panjang yang memenuhi ruang temu warga (community center) lain yang masih menempel dengan bagian mesjid supaya ruangan yang penuh dengan debu dan pasir itu bisa digunakan untuk sholat kaum hawa.
Jangan tanya lah, gue yang sudah cakep dan wangi mengenakan setelan baju muslim yang gue jahit dari bahan kain sari yang gue beli di India akhir Mei lalu, akhirnya harus terkotori debu dan pasir yang berterbangan, + ada pangkal jempol tangan kanan sedikit tertoreh paku. Hiks, gue baru tahu setelah ruku pertama, akhirnya ya gue ”lamot” juga (red. Lamot = adalah bahasa sunda untuk menjilat sesuatu sambil sedikit diisep) Hushh ! Jangan jorok pikirannya ya! Cukup menolong karena tetes darah dan bagian yang memar sudah kering dan tidak terasa apa-apa saat 2 jam berikutnya gue nulis blog ini sembari menunggu sanak family berkunjung (maklum hujan). Alhamdulillah mungkin ini salah satu kebesaran Idul Fitri.
Akhir hutbah rintik hujan berhenti, seakan mempersilahkan jemaah pulang ke rumah masing-masing dan tak lama berselang sesampai dirumah gue, hujan berguyur lagi dan saat itu pula hujan airmata bersimbah di kaki ibu tersayang. ”Ma, maafkan anakmu yang tak tahu balas budi ini, semoga emak disehatkan dan dipanjangkan umur sehingga anakmu ini masih bisa menebus segala kekurangan kepadamu”.
Gue percaya tanpa berguyur airmatapun ibu gue pasti sudah memaafkan gue, tanpa hujan di hari pertama lebaran tahun depan akan menjadi tahun baik buat gue.
dj, every-day-is-a-good-day
Sejak kapan mangga punya nama?
Jawabannya sejak awal puasa ini.
Ceritanya gini… sek, matiin lampu dulu ya,
Alkisah sebuah pohon mangga arumanis tumbuh subur dan lebat berbuah di belakang kantor kita, sebelahnya mushola. Saking lebatnya buahnya bergelayutan sampai bisa dijangkau tangan orang dewasa berdiri. Nah karena sifatnya milik bersama siapa saja bisa ambil, datanglah ide di kepalaku untuk menandai satu buah mangga dengan inisialku DJ pake spidol whiteboard, tentunya gue tandai yang paling besar dan paling rendah.
Eh, entah siapa yang melihatnya. Besoknya disebelah mangga yang sudah gue kasih inisialku ada juga yang kasih nama temen kantor lain, ada ichal, erna, ferika, tussa, nina, dll.Ternyata mereka gak mau kalah saing, takutnya pas mangganya siap dipetik gak kebagian rupanya. Alhasil semua mangga yang kejangkau tangan ada nama masing-masing kolega kantor.
Tapi ada yang aneh di mangga gue, yang tadinya hanya inisial DJ. Ada aja orang iseng nambahin tulisannya jadi Dar Jo. Hmmm dasar si tangan jahil! Dasar hanya kecemburuan sosial, dasar gak mau kalah alias sirik aja tuh, bisanya hanya ikut-ikutan. Tapi tak apalah toh gue tetep selalu jadi tren-setter dalam hal yang tak biasa (mode narcis ON)
Nah, pas mau cuti bersama gue lihat mangga gue tangkainya sudah berwarna coklat menandakan sudah cukup tua tapi belum masak sepurna. Tapi gue pikir kalo gue tinggal selama cuti hari raya mangganya pasti akan masak sendirinya, dan kalau gue kembali ke kantor sepuluh hari selama cuti pasti mangganya sudah hilang, entah dimakan kalong atau busuk dan jatuh sendirinya.
So, akhirnya sehari sebelum cuti gue petik saja tuh mangga dan karena gak mungkin juga mangga ½ matang yang masih mangkel disimpan di kulkas, akhirnya gue bawa si Darjo itu pulang kampung menemani perjalan 6 jam naik motor mudik. Sampai gue nulis blog ini di notebook gue, si Darjo masih setia disamping gue menemani malam yang sepi bak tak ada kehidupan, padahal jam 10 malam di Jogja adalah dimana para mahluk malam seperti gue ini mulai gentayangan.
Oh Tuhan, bukannya gue gak mau tinggal di kampung sendiri. Bukannya gue gak betah berada di dekat mama dan sanak family jiwa gue gak bisa hidup seperti ini dimana kehidupan stop pada saat jam menunjukkan pukul 9 malam. Sangat menyiksa bathin rasaya!
Semoga aja si Darjo akan cepat matang dan tentunya dengan rasa manis yang mengigit lidahku di saat Hari Raya.
dj, manis-semanis-Darjo

He was She
Ada sebuah email dari seorang member di milis tetangga yang menginformasikan rencananya mau ke Pangandaran sendiri dengan cara back-packer. Gue tergelitik dengan kebiasaan dia yang agak nyeleneh ini, betatapun di Indonesia hampir tidak ada cerita orang suka traveling secara gembel ini.
Tadinya gue mau kontak dia sebelum berangkat mudik, sapa tahu bisa nambah teman dan jadi travel-mate selama gue mudik. Tapi gue udah keburu lupa dengan agenda satu ini, dan baru keinget sewaktu gue mau nulis tentang perjalanan mudik gue.
Thanks to Google-Desktop yang telah memudahkan gue menemukan sesuatu hanya dengan mengetikan kata kunci, so gue tekan tombol Ctrl 2x dan gue ketikkan “ciamis” di dialog box, dan dari 278 hits yang muncul 3 header pertama adalah perihal berita seorang bekas atlit dari Ciamis yang pernah mengharumkan Bangsa Indonesia ini di kancah pertandingan International yang sekarang menjadi seorang petani.
Geram memang kalo berfikir kearah sana, dimana para bekas atlit Indonesia sepertinya tidak diberikan tempat kehormatan dari Pemerintah Indonesia terhadap jasa mengharumkan nama Bangsa ini. Secara atlit juga kan tidak seperti pegawai negeri yang meski sudah diatas umur 30 masih bisa berkarya, nah kalau atlit ini kan factor “U” itu sangat mempengaruhi stamina dan performa mereka. Belum lagi atlit muda berbakat yang asupan gizinya lebih baik dari atlit senior pasti lebih bersinar ditambah peran sponsor swasta yang tertarik.
So lagi-lagi sebuah station TV swasta melirik peluangnya sebagai ajang menaikkan ratting-nya dengan variety-show bertajuk membuat si pensiunan atlit ini terbantu keadaan ekonominya. Buat gue tetep sebuah “Penghinaan”! Ajang exploitasi keterpurukan para mantan atlit Indonesia.
huuuh…. benci aku!! (mode sitetron ON)
OK. Back to the point is… masalahnya juga bukan yang gue utarakan diatas perihal postingan gue kali ini tapi, di sebuah Dusun di Kabupaten Ciamis ada sebuah fenomena sosial seperti ini.
APA KATA DUNIA?
++++++++++++++++++++++++++
Sosok - 04/06/2007 13:32
Mantan Atlet Menjadi Petani
Bagi sebagian besar masyarakat, nama Karnah mungkin tak berarti apa-apa. Tapi, sebenarnya ia pernah berjasa pada dunia olahraga di Tanah Air. Dialah atlet Indonesia pertama yang mengibarkan bendera merah putih di ajang internasional.
Liputan6.com, Ciamis: Melihat sosok lelaki tua ini, wajar bila orang mengira ia adalah petani biasa. Rumahnya terletak di Kampung Noong, Cisagak, Ciamis, Jawa Barat, pun biasa saja. Namun Iwan Setiawan, demikian nama lelaki itu sekarang, sebenarnya pernah mengukir prestasi besar di dunia olahraga.
Ketika SCTV baru-baru ini menjumpai dirinya, Iwan mengungkapkan pernah menjadi juara ketiga cabang lempar lembing pada Asian Games tahun 1958 di Tokyo, Jepang. Keberhasilan ini sekaligus menempatkan dirinya sebagai atlet pertama Indonesia yang meraih medali di tingkat dunia.
Ia kemudian memperlihatkan foto-foto yang merupakan kenangan manis bagi dirinya tersebut. Tapi tunggu dulu. Ternyata, foto-foto itu memperlihatkan seorang perempuan, bukan pria. Ya, prestasi Iwan memang dicetak saat dirinya masih berkelamin perempuan dan bernama Sukarnah.
Iwan menuturkan, saat berusia 40 tahun, dirinya memang berganti kelamin menjadi laki-laki dan namanya pun berganti Iwan Setiawan. Pada tahun 1981, Iwan menikahi istrinya, Pujiastuti. Dan sang istri telah mempunyai seorang anak.
Walau berprestasi, nyaris tak ada bekas-bekas kejayaan Iwan, apalagi dari segi materi. Perhatian dari pemerintah? Lupakan saja. Kini, Iwan harus menafkahi keluarga dengan menjadi buruh tani serabutan dengan upah Rp 15 ribu per hari. Maklum, ia memang tak mempunyai tanah garapan.(ANS/Eko Setyabudi)
HYPERLINK "http://www.liputan6.com/view/3,142484,1,0,1.html"View article...
++++++++++++
Ps: saat ngetik ini gue raba boxer gue dan Thanks-God it’s still there!
dj, perfectly-still-a-man
Sebelum koneksi internet minta refresh page
Sebelum GPRS mengalami gangguan
Sebelum sinyal WIFI semakin melemah
Sebelum sms traffic 1juta / detik
Sebelum kantor gue cuti bersama
Sebelum gue report beli penganan lebaran buat mudik
Sebelum gue gak ada waktu buat tuning Mio menempuh 700KM VV
Ijinkan gue berucap…
MINAL AIZIN WALFAIZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN
Gue mudik dulu ya dari tanggal11 dan kembali ke hadapan pemirsa tanggal 22 Oktober 2007, tuh angkutan pedesaannya udah nungguin, takutnya cangkang ketupat2 itu nanti pada penyok, gak jadi deh gue traktir oopr ayam buat temen-temen sekampung.
[Jogja] – minus 10 Lebaran
“Mama oh mama aku ingin pulang, aku rindu kepadamu”
Well! Stop being Mellow…. This time you know me less, let me show you the route where from and where to during my last trip from Jogja to my home land. Its about 350-400 Km and took 5-6 hrs by Motorbike including 30 minutes break and some smoke-stop.
The landscape is so nice especially when you turn left to the south-coast of south beach along from Kulon Progo down to untill Cilacap then you continue crossing Central Java border heading West Java boundaries via Sidareja down to Pangandaran and you are there in Cijulang.
Having on the road alone, with automatic-transmission 115 Yamaha Engine had gave you a thrill during your trip but it is when you feel that you are trully-free-willy scare-less and ikhlas of being-alive-or-death.
Don’t ask me how stunning and eyes-freeze sceneries along the road coz the God is so perfect to create the earth become so-much-envy-planet for the aliens. Yes, beaches, farm, jungles, rivers, small villages, local foods, and many many more.
dj, mudik-mudik-ayo-mudik
translate this page
Blog Archive
-
►
2016
(1)
- ► December 2016 (1)
-
►
2014
(1)
- ► October 2014 (1)
-
►
2013
(1)
- ► December 2013 (1)
-
►
2011
(4)
- ► October 2011 (1)
- ► February 2011 (2)
-
►
2010
(30)
- ► November 2010 (5)
- ► October 2010 (3)
- ► April 2010 (4)
- ► March 2010 (4)
- ► February 2010 (2)
- ► January 2010 (3)
-
►
2009
(199)
- ► December 2009 (3)
- ► November 2009 (32)
- ► October 2009 (52)
- ► September 2009 (10)
- ► August 2009 (27)
- ► April 2009 (1)
- ► March 2009 (3)
- ► February 2009 (8)
- ► January 2009 (5)
-
►
2008
(86)
- ► November 2008 (5)
- ► October 2008 (9)
- ► September 2008 (3)
- ► August 2008 (4)
- ► March 2008 (10)
- ► February 2008 (19)
- ► January 2008 (2)
-
►
2007
(89)
- ► December 2007 (4)
- ► November 2007 (5)
- ► October 2007 (43)
- ► September 2007 (23)
- ► August 2007 (10)
- ► January 2007 (3)
