lotta loves from,
Ini kali kelima saya harus membayar Rp.100.000 untuk aiport tax keberangkatan internasional dari bandara jogja. Saya kembali dihadapkan dengan kekecewaan tiada henti atas apa yang saya bayar tapi tidak sesuai dengan yang saya terima, ini bukan masalah uang Rp.100.000 yang harus dibayarkan calon penumpang internasional dan diterima oleh pihak angkasa pura yang seharusnya memberikan kenyamanan kepada penumpang kelas internasional tapi apa yang menjadi prinsipel dalam teori jual beli pada akhirnya.
Saya tidak usah membandingkan Jogja dengan Terminal 1 Changi, apalagi terminal 3 yang baru, tapi tolong lah pak angkasa pura dan para pejabat yang berkuasa, do something untuk mencerminkan sebuah bandara internasional.
Sebenarnya takut juga menulis seperti komplen semacam ini, nanti kena kasus pencemaran nama baik seperti kasus prita pula. Tapi kalo tidak ditulis, maka tak akan ada log yang bisa dibaca para pemangku kepentingan di bidang ini, semoga saaja tulisan ini menjadi masukan untuk pihak otoritas bandara di seluruh indonesia, khususnya bandara international.
1. Luggage Security Bands,
Pernah kan ditawari mas mas untuk supaya tas kita dililit sejenis tali plastik, atau malah dibungkus sejenis pelastik transparan. Memang alasannya untuk keamanan, tapi itu juga kita mesti bayar Rp. 30.000 (harusnya gratis).
2. Antrian di konter imigrasi
Ketidak nyamanan ada di antrian konter imigrasi, kan disana hanya ada dua konter sedangkan penumpang air asia yang mestinya diberangkatkan jam 7 pagi terpaksa harus antri lama, yang jelas taksi dari jakal Km6 ke bandara lebih cepat ketimbang antri disini.
3. Prosedur verifikasi NPWP.
Kayaknya sekarang orang yang akan bepergian ke LN, memilih mempunyai NPWP dulu deh, daripada bayar fiskal lebih besar daripada tiket JOG-SIN-BKK (PP) disaat december/januari ini. Dan bisa dibayangkan dong, kalo 80% penumpag pesawat boeing 747-400 adalah pemegang kartu NPWP, berapa ratus lembar kertas/toner/listrik/tenaga pertugas admin imigrasi dan waktu terutama terbuang? hanya karena memfoto-kopi passport dan kartu NPWP? Mau kapan era paperless di Indonesia diimplementasikan, jangan hanya gembar-gembor faham akan 3R (Reduce, Re-Use, Recycle) tapi mana aksinya?
Kenapa tidak membuatnya menjadi scan file pdf atau jpg saja, yang bisa didokumentasikan secara e-file atau ya sebagai record yang terintegrasi saja dimana kalau masukan parameter no passport saya maka akan linke ke: KTP, Bank account, NPWP, Asuransi dll.
Sepertinya tidak sulit koq, hanya saja alasannya "tidak mau".m Mungkin poin no 3 in cocoknya untuk diadresskan ke imigrasi, tapi mboknya jangan dikotak-kotak lagi lah whong lokasinya di bandara.
4. Ruang tunggu
Mirip ruang tunggu klinik, atau tempat duduk ferry penyebrangan yang sempit sehingga garis privacy saya dimasuki orang lain, gak mau kan meski sekadar baca sms koq rasanya orang sebelah b isa ngintip. Boro-boro ada lounge yang bisa minum kopi dan (buat saya) ruang merokok padahal bangun jam lima tanpa sempat ngapa2in dirumah adalah perjuangan yang berat untuk mencapai bandara sebelum jam 6 pagi.
4 items rasanya sudah cukup dan banyak yang harus dikerjakan, semoga saja dimasukan dalam resolusi 2010 pemerintah jogja.
lotta loves from,

Jogja 16/10/09. Melintas di bundaran UGM dari arah jakal, ke lewat samping plaza kampus (tempat relokasi PKL) sup buah, disana sudah diherankan dengan pembangunan pembatas jalan dengan rumah monyet, untuk kontrol tiket parkir dari arah bulevard ke arah plaza kampus, paling tidak itu yang ada di pikiran saya saat melintas di plaza kampus yang cuma sekali saja saya saat kesana, itupun terpovokasi iklan saat awal peresmian. Kemudian saya belok arah bunderan dan sangat terkaget-kaget dengan ditemukannya ada 4 (kalau gak salah) bangunan seperi di gambar ini yang nampaknya akan menjadi bangunan untuk tiket kontrol masuk dan keluar.
Maaf, bukannya saya menimbun pasir di gunung, tapi asumsi saya kawasan UGM akan menjadi kawasan komersial termasuk akses masuk ke kawasannya, mesti hanya melintas. Kalau memang asumsi saya benar ini sudah keterlaluan, tapi mudah-mudahan saya salah. Sudahlah, saya tak perlu menyebutkan kalau:
1. Akses hari minggu sekarang hanya searah yang melintas lembah, dari utara UGM sudah di blok dengan kawasan parkir dadakan pas di pertigaan dari arah selokan ke jembatan penyebrangan pertanian/peternakan sehingga orang harus memutar ke Jakal utama atau cari alternatif lain.
2. Perempatan lampu merah yang ke arah sarjito dari jakal yang menembus boulevard, kapan terakhir dibuka sehingga kendaraan yang menumpus di mirota kampus bisa dikurangi?
3. Kopma sudah ditutup untuk akses ke bunderan UGM, padahal dulu menolong untuk shor cut motor.
4. Akses jalan ke lembah malam hari ditutup?
5. Akses dari selatan ke bulevard depan lapangan diarahkan ke perumahan, dulunya U turn.
Kelima issue diatas hanya sebagian kasat mata saya sebatas pemakai jalan berkendara roda dua, tidak melihat kedalam atas penglihatan orang dalam. Saya mungkin tidak tertarik untuk mengulasnya.
Saya hanya melihat kalau hak PUBLIC telah dirampas.Saya melihat kalau kampus sekarang bukan lagi menjadi kawasan public dimana semua orang bisa menikmati ruang terbuka di kota yang sudah sangat minim dan hanya dimonopoli oleh para kapitalis yang tidak menyisakan sepetakpun untuk bermain lompat tali. Sekarang ditambah oleh jajaran akademia yang seharusnya menjadi benteng terdepan untuk memerangi ketidak adilan dari para penguasa kota.
Sesak rasanya dada ini.
Lebih sesak lagi saat saya mengingat kalau porak poranda oleh angin ribut yang hanya merusak selingkungan UGM saja sampai sampai pohon beringin dengan graha saba tercabut dan akar pohon jati terangkat dari tanah adalah teguran khusus kepada UGM, tapi nampaknya teguran itu dianggap hanya angin lalu.
Ya sudah, kita lihat saja kemana Jogja ini akan melangkah? Saya bukan siapa-siapa, saya hanya seorang pecinta ruang public yang digerogoti haknya!

Speaking of the banners, baliho, spanduk, marketing collaterals and other promotional items and it's-too-good-tobe-true-events then you must be talking about jogjakarta.
Tawaran minum kopi setelah acara makan malam di restoran yang romantis sebagai acara kencan pertama dengan seorang perempuan kemudian mengantarnya pulang ke apartmentnya yang ia tinggali sendiri adalah scene klise untuk undangan bercinta dalam film-film drama percintaan ala Hollywood.
Aku tidak mau memaksakan sesuatu yang pada akhirnya akan membuat aku kecewa disuatu saat nanti jika ternyata perkiraanku meleset dan jika kenyataaanya tidak sesuai dengan pengharapanku. Paling tidak tip ini aku sudah berkali-kali aku terapkan kepada seseorang yang aku baru kenal sehingga sejelek apapun yang kualami adalah sebagai pilihan alam saja dan tidak patut disesali maupun membuatku marah dengan orang lain maupun diri sendiri.
Suasana Manut Nite sudah lenggang ketika aku dan Yuki tiba. Hanya beberapa meja yang terisi dengan segerombolan mahasiswa insomania yang kelihatannya saling berkirim sms satu sama lainnya karena masing masing sibuk dengan hp di tangannya masing masing dan tak banyak yang mereka bicarakan. Sampai aku menulis blog ini aku masih penasaran dengan nama warkop yang satu ini, kenapa disebut “Manut Nite” sampai-sampai aku google-ing apa arti dari “Manut” tapi yang keluar hanya seputar cerita-cerita blogger tentang memori mereka di Manut Nite, ada sekitar 1.520 hits dalam 31 detik pencarian “Manut Nite” tapi tidak dari arti kata Manut itu sendiri. Dan sampai sekarang aku hanya mengira kalo “Manut” berarti menuruti perintah. Seperti penggalan kata “aku manut saja”, berarti aku setuju atau menyerah dan melakukan yang orang lain setujui.
Segelas tinggi Kopi Aceh yang aku pesan masih panas diujung lidah dan aku hampir menyemburkannya dari mulutku sambil aku sedikit menyumpah serapah karena selain panas kopinya sangat manis. Aku lupa memberitahu pelayannya untuk hanya menuangkan sedikit gula kedalam kopiku. Yuki seketika menertawakanku sembari menyeruput Kopi Toraja yang ia pesan. Sepertinya lidahnya sudah kebal dengan panas dan sepertinya sangat menikmati manisnya kopi yang lebih pantas aku sebut “sirop kopi” karena terlalu manis rasanya.
“Maaf mas kami sudah mau tutup”, seorang pelayan tanpa rasa bersalah menyodorkan bon pembayaran. Seketika darahku naik ke ujung ubun-ubunku. Untuk Yuki segera menengahi dan ia segera memberikan selembar uang lima-ribuan kepada si mas yang sok innocent itu. Ingin aku tumpahkan kopi aceh panasku ke muka si mas tadi, gimanapun juga aku sekarang di Manut Nite adalah karena pengorbananku untuk bisa berdua dengan Yuki dan mengenalnya lebih jauh.
Kopi Acehku tak sempat aku sentuh lagi. Kulihat Kopi Toraja yang Yuki order baru seperempatnya ia minum ketika kami meninggalkan Manut Nite. Mioku secepat melesat lebih agresif ketimbang sewaktu menuju ke Manut Nite, dan sebuah rangkulan erat kurasa dipinggang. Sekali lagi hangat nafas itu kambali terasa dikuping bagian belakangku dan kudengar ia bergumam hampir tak terdengar.
“Easy Bro”.
Klebengan – Selokan – Jakal. Kuberhentikan Mioku di tukang rokok dekat apotik K24 di KM5 Jakal.
“Mau ngapain bro”
“Beli Rokok”.
“Titip Malbor Merah ya”.
Lima menit berlalu.
“Apa itu”? Yuki keheranan melihatku menenteng kresek hitam.
“Cerewet”, kataku sedikit membentak dia.
Kelihatannya beberapa kejadian yang sangat emosional teleh membawaku kepada titik emosi yang membuat aku ingin sedikit memberikan kompensasi terhadap peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan yang aku alami malam ini. Dua botol vodka murahan yang berkedok kios rokok 24 jam itu paling tidak terkenal seantero anak-anak Jakal dan sekitarnya memerlukan sedikit kesenangan dimalam hari.
“Kita mau kemana”?
“Jangan cerewet”! Sekali lagi aku dengan sedikit nada tinggi mengacuhkan dia sambi aku berikan kresek hitam untuk dia bawa.Tanpa berani angkat bicara lagi Yuki kembali duduk di belakangku.
“Gila”! Hanya itu yang aku dengar. Aku tidak yakin apakah maksud dia dengan kelakuanku atau dengan belanjaanku ketika dia sadar bahwa dia tengah menenteng dua botol kecil vodka.
Tidak sampai lima menit. Aku segera memasukan Mioku ke garasi dan Yuki segera menyadari kalau aku membawanya kerumahku.
“Masuk”! Perintahku kepada Yuki yang terlihat masih ragu antara masuk dan tidak.
“Copot dan simpan sepatumu disitu”. Ujarku lagi sambil menunjuk ke arah rak sepatu di garasi motor.
Yuki segera mengekor dibelakangku. Kebetulan garasiku connecting dengan dapur, segera kuambil dua kaleng Ginger Ale yang selalu sedia di kulkasku, segelas es batu dari freezer dan dua gelas kosong.
“Bang, pinjemi aku kaos dong”. Masih dengan rambut yang basah Yuki menghampiriku selepas dia mandi, sekarang dia nampak lebih segar.
“Ambil aja di lemariku sana”.
“Yang mana bang”? Teriaknya ladi dari dalam kamarku.
Aku paling benci orang teriak-teriak dirumahku apalagi ini sudah larut malam. Segera aku berlari kecil menghampiri dia dikamarku.
“Kaos abang bagus-bagus, aku cuma mau yg jelek buat tidur”.
Segera kupilih kaos usang yang tipis biasa aku pakai untuk tidur.
“Berdiri”. Perintahku. Dia menurut.
“Angkat tangannya”. Bak anak kecil yang dipakaikan baju oleh mama-nya Yuki “manut” saja tatkala kupakaikan kaos kebadannya yang masih “boyish” paling tidak segelas Ginger-Ale-Vodka masih belum mengaburkan pandangan mataku dari penglihatanku saat itu.
Ku-kucek-kucek rambutnya yang masih basah.
“Keringkan lagi tuh rambutmu, nanti bau apek” kataku lagi sambil segera meninggalkan dia yang masih berpatung didepan lemari bajuku yang masih terbuka.
Segera kukembali ke ruang tamu dan melanjutkan nonton tv. Kutuang lagi segenggam es batu kedalam gelas minumanku yang sudah kosong, seperempat vodka dan setengah gelas ginger-ale. Kusulut lagi batang rokok dan kemudian aku baru menyadari kalau ternyata aku masih meyisakan setengah batang rokok yang tengah menyala sebelum aku memakaikan kaos ke Yuki. Dan aku juga baru sadar kalau pendengaranku masih waras kalau Yuki manggil abang, bukan manggil mas karena ini di Jogja ataupun manggil “bro”.
Sepuluh menit berlalu. Gelas kedua ginger-ale-vodka-ku baru saja menyisakan es batu didasar gelas yang minta diisi lagi. Rokok terakhir yang aku hisap hampir saja membakar jariku dan menumpahkan abu rokok di kursi yang aku duduki. Yuki belum juga menyusulku kedepan TV. Segera kulempar puntung rokok ke asbak tanpa aku mematikannya dulu kemudian aku masuk ke kamarku untuk mengecek keadaan Yuki. Aku pikir dia masih sibuk mengeringkan rambutnya makanya kenapa ia tidak menyusulku kedepan TV dan bergabung dengan pesta kecilku.
Kulihat sesorang tidur diatas kasurku. Paling tidak itu yang aku lihat. Matanya setengah terpejam tandaia baru saja telelap. Nafas yang dalam dan pendek terdengar berat ditelingaku. Tangan kiri masih menggengam handphone sementara tangan kanan diatas perut dibawah kaos yang tersingkap sedikit keatas menyisakan gurat bulu bulu harus ditengah perut. Jelas terlihat, terlihat jelas!
Tigapuluh menit berlalu. Trans TV telah mengumandangkan lagu closing, pertanda siaran segera berhenti. Sebotol vodka, dua kaleng ginger-ale, segelas es batu sudah masuk kedalam perutku.
Mataku mulai berat.
Jagalah aku wahai malaikat malam.
Bawalah aku kelangit ketujuh.
Tidurkan aku diatas awan yang lembut.
Sehingga aku bisa melihat sejuta bintang.
Dan melihat jauh kebawah.
Melihat ia tertidur pulas diatas ranjangku.
Bagai seorang bocah ingusan yang innocent.
Tanpa beban, tanpa masalah hidup...
Kulempar novel berjudul sex in chatting yang baru beberapa hari aku beli keatas kasur. Agak sedikit membosankan dengan alur yang tidak masuk akal. Mungkin si penulis hendaknya kurus dulu di kepolisian bagaimana seharusnya menjadi seorang intel yang ahli dalam forensik cyber crime, sebelumia menulis novelnya ini.Aku pikir aku akan lebih baik jika membuat novel sejenis. Andai aku ada saat temu wicara dengan penulisnya, pasti akan kubantai habis dia. Sayangnya talk show yang diorganisir oleh radio swaragama telah lewat saat aku membeli novel itu. Dan Yuki yang memberitahukannya ke aku saat aku pertama kali kenal dia di Rumah Kopi.
Jam 12 lewat tengah malam, saat aku telah melahap ratusan rss feed yang aku download kedalam thunderbird-ku jika aku berada dalam zona hotspot gratisan. Mulai dari aksi demo yang tak berkesudahan tentang kenaikan BBM sampai dengan infotaintment yang membicarakan kehidupan pribadi selebritis yang sudah jarang nongol di media electronic supaya tetap eksis dalam kancah selebritis Indonesia. Tak ada berita yang bermutu! Semua media di negeri ini sepertinya sekali lagi berniat menyeragamkan pendapat dan pemikiran yang stereotipe tentang semua yang tengah berlangsung di negeri ini. Rasa kantuk mulai menyerangku tapi kandung kemih yang bereaksi sedari tadi mengharuskana aku ber-ingsut dari tempat tidur kemudian melaksanakan menuju kamar mandi yang terletak diluar kamar menuju dapur.
"Kling-Klong",iPhoneku berbunyi berbarengan dengan layar yang menyala tanda ada sms baru masuk.
"bro...", sepenggal kata tercetak dilayar preview sms.
"close - Reply". Sejenak aku diam. Antara pilihan menutup dan membalas sms tadi.
Bukannya aku malas membalas sms yang menurutku gak penting saat itu atau pelit pulsa, toh aku sama dia memakai nomor three yang menggratiskan sms sesama pengguna three. Tapi karena yang kirim smsku adalah pahlawan anime-ku yang tidak menjadi pahlawanku untuk ice-capucinoku tadi di Rumah Kopi.
"Napa", akhirnya telunjukku meng-klik reply. Jeda berselang 10 detik. "Gpp, sori ya tadi". Aku diam tak membalasnya. Sengaja.
"Koq gak balas", lanjutnya. "udah mau tidur", balasku.
"Gw gy bt nih, ngopi yuk".
"What"! Apa nggak salah nih anak ngajak ngopi sementara waktu sudah menjelang jam 1 dinihari, pikirku dalam hati.
"udah tidur ya bro, sori kalo ganggu kalo ga mau gw mau balik aja".
Aku scroll-up iPhoneku dan tekan "call", segera RBT sepotong lagu Ungu terdengar diujung sana. Segera sebuah suara yang tak asing terdengar di telingaku.
"Mau ga bro, sori kalo gue ganggu lo".
"Mau ngopi dimana".
"Manut nite".
"Wah, males kejauhan".
"Habis mau dimana"?
"Di Sugeng Rawuh aja, Km5".
"Tapi disana rame banget bro".
"Yowes, Manut Nite. 15 Menit ketemu disana".
"Lho aku ga ada motor eh, bisa jemput aku disini"?
"Asu"! umpatku dalam hati. Sudah ngebete-in, ngajak ngopi saat aku mau tidur, dan sekarang minta dijemput pula.
"OK lah". "Tunggu 5 menit disitu".
Segera kututup screen notebook-ku yang telah ku-set-up jika ditutup akan menutup semua aplikasi yang terbuka dan shout-down sistem dengan sempurna. Mio putihku segera melesat kearah utara jalan kaliurang melewati lampu merah ring rod utara dan segera menepi saat seseorang berdiri dengan memakai jean potlot hitam dan kaos polo berwarna hijau menyala serta bagpack berwarna hitam berukuran besar sehingga badannya semakin terlihat kecil.
Dinginnya angin malam menusuk kesela sela tengkuk dan leherku meski aku sudah memakai jumper hangatku. Jalur roda dua ring road utara kearah Gejayan lenggang. Tidak ada satupun kendaraan lain selain aku. Kupacu Mio Putihku full-gas melesat membelah keheningan malam. Seketika sebuah pelukan melingkar erat dipinggangku dan kedua belah paha dan tubuh dia merapat kebadanku.
"Anjing, racer juga lo ya". Urnya menggumam dari mulutnya yang hampir menempel dikupingku sehingga aku bisa merasakan hangat hembusan nafasnya.
[i]to be continued[/i]
lotta loves from,
So, my housemate from germany Tobias who stay in Jogja for short term working contract enjoys having a rain bath in from of our house.
Hope you grow up soon tobby as my mother always put me in the rain to get growing fast when i was baby.
lotta loves from,
"Paris Hilton will not be looked that stupid, if she put her label on her new fragrance that smell of Coffee",
On this issue actually, I want to share you a short but meaningfull small gathering of the office colleguaes after having “Bukber” (Buka Bersama) or in details is the event to get together amongs friends having a breakfasting after a-long-day-fasting in month of ramadhan.
So, last night we had Bukber in WONG SOLO, a nice franchise local taste who is the founder has many wifes alias having polygamy in his family, I don’t why coz I think having one is making chaos already, and that’s is why some of my str8 friends still stay single. But in my preception why he is having so many wifes (yang syah secara hukum) gak tahu kalo yang kawin sirih deh, hehehe maaf! Coz, he is collecting some of the grandma recipies that finally he will make it for his WONG SOLO standard of recipe, DON’T U THINK SO!
So, WONG SOLO will not be longer Javanese semi Sundanese local taste but it will be more like NUSANTARA CULLINARIES. And I would say that WONG SOLO is one-of-the-reccommended local franchise portfolio regardless the polygami issue. This is pure a promissing business opportunity.
Stop talking about WONG SOLO, coz I don’t get pay for promoting his business.
The small crowd headed to my newly reccommended for coffee lover called “It’s Coffee”, a small coffee outlet located slightly just off-main-road in Bachiro area, off course in Jogja… where else? The lounge is on the second floor with direct access from parking area to the lounge, whilst the 1st floor they use for some storage and logictic purpose + the toilet.
Talking about the atmoshphere I would say It’s pretty cool:
- Some contempo lazy wooden Indonesian chairs remind me of 60 to 70 style, sliding wall-to-wall-glass door has given free-view from the main lounge through veranda.
- There is a small private room in the corner that can accommodate up to 8 people overlooking-looking rice field, Yess I know this is odd since It’s coffee located in-the-middle-of-no-where alias in the middle of kampong. But if this room is occupied, you will see like a human aquarium at the end
- Small library are there, some books even tough quite “basi” and too much into serius materials not-to-mention some academic book. Hellloooo situ mau buka kelas extention po!
- They have a good coffee machine that I would say the new price of the machine woul be the same with 4 my Yamaha MIO on the road price or equal to second “Kijang Kapsul” price. This is something that the owner put serius stuff for his business.
- The place is just nice crowd, medium that can accommodate visitors maybe up to max 50 pax only bue leaving enough space as the social-lounge atmosphere
- Don’t forget o bring your notebook, turn the WIFI-On and explore the magic of Netting! It’s 3 times faster than connection in my Office. Speedy Telkom SUCK!
The Menus,
- Don’t expect too much about the food since they serve more drinks that the food. But I would reccommended cheese salad + lasagna (ask more time to heat it up on microwave).
- Coffees are good! They even has what-so-called “Kopi Luwak” a special very javanese traditinal coffe with special taste coz the coffee bean was eaten by the animal call “luwak” like a fox and this animal eat seeds including coffee and this animal only eat high quaity beans. After being digested by the animal and a “nature” process then the seeds was again being processed by human to make a finest coffee. Wondering about the taste…. Come to It’s Coffee!
The staff
I thinks the owner has taste! Good looking Guys and Pretty Gals are always good to be with even when you are tha guest and they have to bring you a cooffee to your table.
It’s Coffee is where I need to see and to be seen!
dj, can't leave without Coffee
LO-PHANGSebenarnya pengen sharing info ini udah dari bulan lalu tapi gue sendiri masih cari sana sini perihal buah aneh yang baru gue liat di Jogja ini. Tanya sana sini terutama tetangga rumah gak ada yang tahu, tapi setelah gue MMS ke beberapa temen di beberapa kota hanya yang dari Sukabumi bilang "sigana mah lopang eta teh, biasana mah hirupna di leuweung anu taneuhna loba batu" English "It seemed to be Lopang, normally it grows in jungle in a soil that textured sand and stone" Bahasa: "Kayaknya sih Lopang, biasanya numbuh di hutan dengan tektur tanah berpasir dab berkerikil".
Tanpa sengaja sepulang dari rumah tetangga yang hajatan, gue lewat tanah kosong yng di tumbuhi semak belukar samping rumah yang gue tinggalin sekarang dan anehnya bergelantungan buah-buah berwarna merah diatas pohon petai cina dan ternyata banyak sekali yang dihasilkan oleh tanaman merambat.
Ciri-ciri Fisik:
- Kayaknya masih 1 keluarga dengan timun, atu melon.
- Merambat dengan daun maximal lebar 10 cm, dengan sisi daun membentuk shape hexagonal seperti daun labu siam, dengan daun tidak berbulu tapi warha hijau keputihan.
- Seperti terlihat dalam gambar buahnya maximal hanya seukuran korek gas.
- Nampak hijau saat muda dan memerah laksana saga pasa saat matang, dengan texture yang lembut serta beraroma wangi seperti sejenis wangi manis markisa cuma lebih soft tanpa wangi asem.
- Juicy tapi tidak watery, sedikit lengket tapi tidak membekas di tangan.
- Rasa manis sedang dan dingin seperti timun suri.
- Tidak ada hewan yang memakannya, ini sempet bikin gue "ngeper" takut beracun tapi setelah gue makan 1 gue masih hidup tuh. Mungkin karena di sekitar tempat tinggal gue gak ada binatang liar, tapi nampak sisa2 binatang malam yg makan buah itu berserakan di tanah.
- Tidak ada orang (tetangga) yang tahu buah itu apalagi mengkonsumsinya.
- Tidak ada orang lain di region lain yg mungkin pernah liat buah itu dan komentar banyak. Nihil... cuma yang dari sukabumi asal asalan siah maneh!
So. gue remas-remas 2 buah Lo Pang sampai hancur dicampur dengan buah pepaya yang matang tadi kira-kira 2oo gram dicampur dengan Ice-cube dari kulkas and I start spreading out on my body from toe to head... including face
So. Hasilnya jangan ditanya!
- Tunggu 15 menit kemudian muka dan badan gue mulai mengeras karena lumuran lulur buah tadi mengering di kulit, tidak ada gatal yang mengganggu persis seperti gue dipake-in Masker-Biotherm di salon tempat gue dulu suka facial (not anymore).
- Siram seluruh badan dengan air biasa sampai semua lulur hilang dari kulit.
- Kemudian gosok kembali badan /kulit dengan memakai batu pipih untuk membantu kotoran daki keluar dari pori pori. Kalo berat badan lo 50 kilo seetelah keluar kamar mandi mungkin berat badanmu jadi 48
Kg
Yang pasti:
1. Exotic Banget.
2. Natural
3. Detoxifikasi
4. Anti Aging coz mengandung anti oxidan.
dj, who-said-beauty-is-expensive
But the things become so much alive, every time I come to this place between 7 to 11 pm, I hardly find the parking space, I expected 50-70 motorbike were parked there. Don't expect the car owner will come and visit this place coz they have their own place next to Manut Nite, they have more food and accoustic performance, but I don't want to talk abut that place, and let stick with this place.
The menu written in small white board so much write and delete here and there. Drinks price between 1.000 - 3.000 per portion and the food will not be more than 5.000 i guessed, but honest I've never order food if I'm going there not because the food is suck but the jus because I lost my appetite after I my eyes scanned those cute-innocent-look-ones 60 second upon I entered the premises.
So, I take you a lead ....
You are coming from Klebengan area / Fakultas Peternakan UGM then you head the small road north about 200 meters and you will find the MUG digital printing shop and Manut Nite is just beside that store. Don't go beyond Canisius otherwise you will get lost!
Starbuck ----VS---- Manut Nite
Impersonal ----VS---- Personal
Expensive ----VS---- Cheap
1500 parking fee ----VS---- 500 parking fee
25.000for Toraja Coffee ----VS---- 3000 for Toraja Coffee
More Om2 ----VS---- more brondong
Cheese Cake ----VS---- Mendoan
Club Sandwich ----VS---- Sego kucing
dj, please-come-again
[Jogja] – minus 10 Lebaran
“Mama oh mama aku ingin pulang, aku rindu kepadamu”
Well! Stop being Mellow…. This time you know me less, let me show you the route where from and where to during my last trip from Jogja to my home land. Its about 350-400 Km and took 5-6 hrs by Motorbike including 30 minutes break and some smoke-stop.
The landscape is so nice especially when you turn left to the south-coast of south beach along from Kulon Progo down to untill Cilacap then you continue crossing Central Java border heading West Java boundaries via Sidareja down to Pangandaran and you are there in Cijulang.
Having on the road alone, with automatic-transmission 115 Yamaha Engine had gave you a thrill during your trip but it is when you feel that you are trully-free-willy scare-less and ikhlas of being-alive-or-death.
Don’t ask me how stunning and eyes-freeze sceneries along the road coz the God is so perfect to create the earth become so-much-envy-planet for the aliens. Yes, beaches, farm, jungles, rivers, small villages, local foods, and many many more.
dj, mudik-mudik-ayo-mudik
[Jogja] – 03.09.07 Sebuah anekdot bilang kalo lo bangun pagi dan disebelah lo ternyata istri lo makan lo memang sedang berpolitik.
Mind my languange tapi bukannya memang demikian?
Bang Yos alias Sutiyoso alias Gubernur Jakarta yang sedang menikmati hari-hari terakhirnya di kursi panasnya sekarang mau mencalonkan diri menjadi Presiden RI pada Pemilu 2009.
Mupeng = Muka Pengen
1. Pengen jadi Presiden
2. Pengen dapat jatah lebih besar
3. Pengen lebih populer
5. Pengen apalagi ya…. Au ah elap
Yang pasti bukan gejolak situasi politik yang mulai menghangat di bumi persada ini tentang siapa-siapa yang akan mencalonkan diri di Pemilu 2009 nanti, toh I’m not into politic and I hate politiciants but I live in it and I live with it.
Ooo Gosh…. Sejak kapan seorang politiciant sungkem ke seorang Mbah Marijan? Mungkin hanya Bang Yos aja yang bikin gebrakan baru yang nggak pernah dilakukan seorang calon Presiden RI geto loh! Trus apa hubungannya dengan seorang “kuncen” (red. Juru kunci) gunung merapi? Apakah kalo sudah jadi Presiden nanti lantas Mbah Marijan akan dijadikan juru nasihat istana presiden yang bisa meneropong jauh kedepan akan hal yang akan terjadi kepada negri ini sehingga terhindar dari marabahaya?
Tentu saja tidak bukan?
But for me as Jakarta ID’s holder who is not resides in Jakarta for almost 5 years, si Mupeng masih menduduki ha
ti gue…. (plok plok plok riuh rendah tepuk tangan) bolehlah warga Jakarta sekarang berbangga hati dengan fasilitas yang “super ada” dibanding dengan kota lain di Indonesia, atau ibukota lain di Asia Tenggara. Janganlah kita bicara Singapore dulu, tapi liat dengan KL dan Bangkok mungkin sebagai perbandingan at least itu kota2 negara lain sebagai lancongan gue, sebagai warga Jakarta atau tepatnya ”Indonesian ” I’m proud of my capital city.
Lihat saja caci-maki-sumpah-serapah dimakan Bang Yos saat gonjang ganing pembangunan Bus-Way, sekarang dia menuai pujian dari seluruh pengguna kendaraan umum. Gimana tidak dari ujung Timur Jakarta bisa ke ujung Barat Jakarta hanya dengan Rp. 3.500 + AC + Nyaman + Aman + Cepat meski memang belum sempurna tapi memang saat ini dirasa kalo Bus-Way lah yang masih cocok untuk Jakarta. Bukan Monorail yang didambakan orang-orang akan menyerupai MRT di S’pore ato MTR di Bangkok janganlah dulu, pelan-pelan toh di KL pun pemerintah M’sia masih mengsubsidi monorail yang beroperasi disana kalau tidak tarifnya tidak akan terjangkau oleh masyarakat M’sia apalagi masyarakat Jakarta yang daya belinya masih rendah, yang tingkat ekonominya masih dibawah.
Bang Yos, majulah…. Anjing menggongong kafilah berlalu! Kayaknya tepat ungkapan itu buat anda sekarang. Toh dengan Mupeng-mu dan ke over-pe-de-an-mu itu telah mengantarmu untuk kebaikan warga Jakarta, semoga jika Bang Yos jadi Presiden warga Jogja bisa dibuatkan Trem yang sepertinya sangat cocok untuk commuter di kota gudeng ini.
Soal investor pastilah ada, toh Bang Yos jagonya tentang lobi-lobi, terbukti kan sampe-sampe-sampe-an-bela-bela-ni-munggah dusun Cangkringan yang dulunya nggak terkenal dan belakangan google-earth telah menempatkanya sebagai titik-merah pada koordinat bumi yang membahayakan.
Ah, andai Merapi tak mengamuk, mungkin mbah Marijan masih adem-ayem di cangkrian mengabdi sebagai abdi dalem keraton sebagai juru kunci merapi. Di usia mbah Marijan yang sudah tidak muda lagi (lha iya wong sebutane wae mbah koq), sekarang dia mesti disibukan dengan protokoler kunjungan pejabat, jadwal pembuatan iklan, interview dengan wartawan lokal maupun mancanegara, atau mungkin hanya melayani foto bersama dengan turis lokal yang berwisata ke kawasan Lava Tour Kali Adem.
dj, not-into-politic-coz-never-found-a-wife-on-his-bed
Puasa gini emang enaknya hanya tidur dan baca, dan kalo baca kebanyakan ngantuk ya turu maning (red. Tidur lagi). Dan rombenglah kupingku minta cerita menorehku dilanjutkan lagi terutama dengan pics2 yang ada di web-album-ku itu, malah beberapa responder dari luar sono minta supya aku menulisnya tetep dalam English, but I’ll try.
Goa Sriti (Swallow Bird Cave)
Located at the Kalibawang – Kulon Progo, we walk from Thomas’s house to the cave about 10-15 minutes up-hill. It said that the cave used to be a hidden place by Dipenogoro (National Hero) and his loyal follower during the war, escaping from the Dutch army.
The cave has very narrow entrance access, but once you are in, it forms large and tall ceiling so it is just perfect for some group who escape from the enemies. I don’t see any signed that it was occupied by Pangeran Dipenogoro, or maybe he did not any mark during his hiding time in the cave. Thanks to them who keep the nature as it is, un-like today youngsters who make the place dirty and un-nature anymore.
I found some unique stone shapes in the cave, i.e a shape like a buried human embrio, a sitting lion, a “dick-head” and more. I expect to see some snakes or Wild Borg but again it’s nothing in there, but I heard a lot of noise from above and once I knocked a stone to the cave’s wall a hundred of swallow and bats flying out from the cave to open air, and this has gave me a heart-attack been attacked by bats and swallow.
Then I was just kneeing with Thomas in fear, when those creatures become calm and back to their nest, Thomas blamed me from doing stupid things by knocking on the wall. I smiled and I said, “I know” and indeed I want to know their nature respond and it works.
dj, bad boy lah you
ps: if you want to know more about the Kulon Progo Tourism Place, please visit http://www.kulonprogo.go.id/pariwisata/obyek.php
translate this page
Blog Archive
-
►
2016
(1)
- ► December 2016 (1)
-
►
2014
(1)
- ► October 2014 (1)
-
►
2013
(1)
- ► December 2013 (1)
-
►
2011
(4)
- ► October 2011 (1)
- ► February 2011 (2)
-
►
2010
(30)
- ► November 2010 (5)
- ► October 2010 (3)
- ► April 2010 (4)
- ► March 2010 (4)
- ► February 2010 (2)
- ► January 2010 (3)
-
►
2009
(199)
- ► December 2009 (3)
- ► November 2009 (32)
- ► October 2009 (52)
- ► September 2009 (10)
- ► August 2009 (27)
- ► April 2009 (1)
- ► March 2009 (3)
- ► February 2009 (8)
- ► January 2009 (5)
-
►
2008
(86)
- ► November 2008 (5)
- ► October 2008 (9)
- ► September 2008 (3)
- ► August 2008 (4)
- ► March 2008 (10)
- ► February 2008 (19)
- ► January 2008 (2)
-
►
2007
(89)
- ► December 2007 (4)
- ► November 2007 (5)
- ► October 2007 (43)
- ► September 2007 (23)
- ► August 2007 (10)
- ► January 2007 (3)







