Tuesday, June 03, 2008
Tawaran minum kopi setelah acara makan malam di restoran yang romantis sebagai acara kencan pertama dengan seorang perempuan kemudian mengantarnya pulang ke apartmentnya yang ia tinggali sendiri adalah scene klise untuk undangan bercinta dalam film-film drama percintaan ala Hollywood.

Tapi ajakan minum kopi jam menjelang jam satu tengah malam di Manut Nite tidak membuat aku lantas mengasumsikan sebuah ajakan bercinta untukku meskipun aku menginginkannya. Kutepis segala bisikan setan dari kuping kiriku dan kupaksakan mendengarkan ajakan malaikat untuk tetap berfikir positif dan bertingkah layaknya seorang teman biasa.

Aku tidak mau memaksakan sesuatu yang pada akhirnya akan membuat aku kecewa disuatu saat nanti jika ternyata perkiraanku meleset dan jika kenyataaanya tidak sesuai dengan pengharapanku. Paling tidak tip ini aku sudah berkali-kali aku terapkan kepada seseorang yang aku baru kenal sehingga sejelek apapun yang kualami adalah sebagai pilihan alam saja dan tidak patut disesali maupun membuatku marah dengan orang lain maupun diri sendiri.

Suasana Manut Nite sudah lenggang ketika aku dan Yuki tiba. Hanya beberapa meja yang terisi dengan segerombolan mahasiswa insomania yang kelihatannya saling berkirim sms satu sama lainnya karena masing masing sibuk dengan hp di tangannya masing masing dan tak banyak yang mereka bicarakan. Sampai aku menulis blog ini aku masih penasaran dengan nama warkop yang satu ini, kenapa disebut “Manut Nite” sampai-sampai aku google-ing apa arti dari “Manut” tapi yang keluar hanya seputar cerita-cerita blogger tentang memori mereka di Manut Nite, ada sekitar 1.520 hits dalam 31 detik pencarian “Manut Nite” tapi tidak dari arti kata Manut itu sendiri. Dan sampai sekarang aku hanya mengira kalo “Manut” berarti menuruti perintah. Seperti penggalan kata “aku manut saja”, berarti aku setuju atau menyerah dan melakukan yang orang lain setujui.

Segelas tinggi Kopi Aceh yang aku pesan masih panas diujung lidah dan aku hampir menyemburkannya dari mulutku sambil aku sedikit menyumpah serapah karena selain panas kopinya sangat manis. Aku lupa memberitahu pelayannya untuk hanya menuangkan sedikit gula kedalam kopiku. Yuki seketika menertawakanku sembari menyeruput Kopi Toraja yang ia pesan. Sepertinya lidahnya sudah kebal dengan panas dan sepertinya sangat menikmati manisnya kopi yang lebih pantas aku sebut “sirop kopi” karena terlalu manis rasanya.

“Maaf mas kami sudah mau tutup”, seorang pelayan tanpa rasa bersalah menyodorkan bon pembayaran. Seketika darahku naik ke ujung ubun-ubunku. Untuk Yuki segera menengahi dan ia segera memberikan selembar uang lima-ribuan kepada si mas yang sok innocent itu. Ingin aku tumpahkan kopi aceh panasku ke muka si mas tadi, gimanapun juga aku sekarang di Manut Nite adalah karena pengorbananku untuk bisa berdua dengan Yuki dan mengenalnya lebih jauh.

Kopi Acehku tak sempat aku sentuh lagi. Kulihat Kopi Toraja yang Yuki order baru seperempatnya ia minum ketika kami meninggalkan Manut Nite. Mioku secepat melesat lebih agresif ketimbang sewaktu menuju ke Manut Nite, dan sebuah rangkulan erat kurasa dipinggang. Sekali lagi hangat nafas itu kambali terasa dikuping bagian belakangku dan kudengar ia bergumam hampir tak terdengar.

“Easy Bro”.

Klebengan – Selokan – Jakal. Kuberhentikan Mioku di tukang rokok dekat apotik K24 di KM5 Jakal.

“Mau ngapain bro”

“Beli Rokok”.

“Titip Malbor Merah ya”.

Lima menit berlalu.

“Apa itu”? Yuki keheranan melihatku menenteng kresek hitam.

“Cerewet”, kataku sedikit membentak dia.

Kelihatannya beberapa kejadian yang sangat emosional teleh membawaku kepada titik emosi yang membuat aku ingin sedikit memberikan kompensasi terhadap peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan yang aku alami malam ini. Dua botol vodka murahan yang berkedok kios rokok 24 jam itu paling tidak terkenal seantero anak-anak Jakal dan sekitarnya memerlukan sedikit kesenangan dimalam hari.

“Kita mau kemana”?

“Jangan cerewet”! Sekali lagi aku dengan sedikit nada tinggi mengacuhkan dia sambi aku berikan kresek hitam untuk dia bawa.Tanpa berani angkat bicara lagi Yuki kembali duduk di belakangku.

“Gila”! Hanya itu yang aku dengar. Aku tidak yakin apakah maksud dia dengan kelakuanku atau dengan belanjaanku ketika dia sadar bahwa dia tengah menenteng dua botol kecil vodka.

Tidak sampai lima menit. Aku segera memasukan Mioku ke garasi dan Yuki segera menyadari kalau aku membawanya kerumahku.

“Masuk”! Perintahku kepada Yuki yang terlihat masih ragu antara masuk dan tidak.

“Copot dan simpan sepatumu disitu”. Ujarku lagi sambil menunjuk ke arah rak sepatu di garasi motor.

Yuki segera mengekor dibelakangku. Kebetulan garasiku connecting dengan dapur, segera kuambil dua kaleng Ginger Ale yang selalu sedia di kulkasku, segelas es batu dari freezer dan dua gelas kosong.

“Bang, pinjemi aku kaos dong”. Masih dengan rambut yang basah Yuki menghampiriku selepas dia mandi, sekarang dia nampak lebih segar.

“Ambil aja di lemariku sana”.

“Yang mana bang”? Teriaknya ladi dari dalam kamarku.

Aku paling benci orang teriak-teriak dirumahku apalagi ini sudah larut malam. Segera aku berlari kecil menghampiri dia dikamarku.

“Kaos abang bagus-bagus, aku cuma mau yg jelek buat tidur”.

Segera kupilih kaos usang yang tipis biasa aku pakai untuk tidur.

“Berdiri”. Perintahku. Dia menurut.

“Angkat tangannya”. Bak anak kecil yang dipakaikan baju oleh mama-nya Yuki “manut” saja tatkala kupakaikan kaos kebadannya yang masih “boyish” paling tidak segelas Ginger-Ale-Vodka masih belum mengaburkan pandangan mataku dari penglihatanku saat itu.

Ku-kucek-kucek rambutnya yang masih basah.

“Keringkan lagi tuh rambutmu, nanti bau apek” kataku lagi sambil segera meninggalkan dia yang masih berpatung didepan lemari bajuku yang masih terbuka.

Segera kukembali ke ruang tamu dan melanjutkan nonton tv. Kutuang lagi segenggam es batu kedalam gelas minumanku yang sudah kosong, seperempat vodka dan setengah gelas ginger-ale. Kusulut lagi batang rokok dan kemudian aku baru menyadari kalau ternyata aku masih meyisakan setengah batang rokok yang tengah menyala sebelum aku memakaikan kaos ke Yuki. Dan aku juga baru sadar kalau pendengaranku masih waras kalau Yuki manggil abang, bukan manggil mas karena ini di Jogja ataupun manggil “bro”.

Sepuluh menit berlalu. Gelas kedua ginger-ale-vodka-ku baru saja menyisakan es batu didasar gelas yang minta diisi lagi. Rokok terakhir yang aku hisap hampir saja membakar jariku dan menumpahkan abu rokok di kursi yang aku duduki. Yuki belum juga menyusulku kedepan TV. Segera kulempar puntung rokok ke asbak tanpa aku mematikannya dulu kemudian aku masuk ke kamarku untuk mengecek keadaan Yuki. Aku pikir dia masih sibuk mengeringkan rambutnya makanya kenapa ia tidak menyusulku kedepan TV dan bergabung dengan pesta kecilku.

Kulihat sesorang tidur diatas kasurku. Paling tidak itu yang aku lihat. Matanya setengah terpejam tandaia baru saja telelap. Nafas yang dalam dan pendek terdengar berat ditelingaku. Tangan kiri masih menggengam handphone sementara tangan kanan diatas perut dibawah kaos yang tersingkap sedikit keatas menyisakan gurat bulu bulu harus ditengah perut. Jelas terlihat, terlihat jelas!

Tigapuluh menit berlalu. Trans TV telah mengumandangkan lagu closing, pertanda siaran segera berhenti. Sebotol vodka, dua kaleng ginger-ale, segelas es batu sudah masuk kedalam perutku.

Mataku mulai berat.

Tapi aku tak ingin malam cepat berlalu.


Jagalah aku wahai malaikat malam.
Bawalah aku kelangit ketujuh.
Tidurkan aku diatas awan yang lembut.
Sehingga aku bisa melihat sejuta bintang.
Dan melihat jauh kebawah.
Melihat ia tertidur pulas diatas ranjangku.
Bagai seorang bocah ingusan yang innocent.
Tanpa beban, tanpa masalah hidup...

lotta loves from,
Sunday, June 01, 2008
Kulempar novel berjudul sex in chatting yang baru beberapa hari aku beli keatas kasur. Agak sedikit membosankan dengan alur yang tidak masuk akal. Mungkin si penulis hendaknya kurus dulu di kepolisian bagaimana seharusnya menjadi seorang intel yang ahli dalam forensik cyber crime, sebelumia menulis novelnya ini.

Aku pikir aku akan lebih baik jika membuat novel sejenis.
Andai aku ada saat temu wicara dengan penulisnya, pasti akan kubantai habis dia. Sayangnya talk show yang diorganisir oleh radio swaragama telah lewat saat aku membeli novel itu. Dan Yuki yang memberitahukannya ke aku saat aku pertama kali kenal dia di Rumah Kopi.

Jam 12 lewat tengah malam, saat aku telah melahap ratusan rss feed yang aku download kedalam thunderbird-ku jika aku berada dalam zona hotspot gratisan. Mulai dari aksi demo yang tak berkesudahan tentang kenaikan BBM sampai dengan infotaintment yang membicarakan kehidupan pribadi selebritis yang sudah jarang nongol di media electronic supaya tetap eksis dalam kancah selebritis Indonesia. Tak ada berita yang bermutu! Semua media di negeri ini sepertinya sekali lagi berniat menyeragamkan pendapat dan pemikiran yang stereotipe tentang semua yang tengah berlangsung di negeri ini. Rasa kantuk mulai menyerangku tapi kandung kemih yang bereaksi sedari tadi mengharuskana aku ber-ingsut dari tempat tidur kemudian melaksanakan menuju kamar mandi yang terletak diluar kamar menuju dapur.

"Kling-Klong",iPhoneku berbunyi berbarengan dengan layar yang menyala tanda ada sms baru masuk.

"bro...", sepenggal kata tercetak dilayar preview sms.
"close - Reply".
Sejenak aku diam. Antara pilihan menutup dan membalas sms tadi.

Bukannya aku malas membalas sms yang menurutku gak penting saat itu atau pelit pulsa, toh aku sama dia memakai nomor three yang menggratiskan sms sesama pengguna three. Tapi karena yang kirim smsku adalah pahlawan anime-ku yang tidak menjadi pahlawanku untuk ice-capucinoku tadi di Rumah Kopi.


"Napa", akhirnya telunjukku meng-klik reply. Jeda berselang 10 detik. "Gpp, sori ya tadi". Aku diam tak membalasnya. Sengaja.
"Koq gak balas", lanjutnya.
"udah mau tidur", balasku.
"Gw gy bt nih, ngopi yuk".

"What"! Apa nggak salah nih anak ngajak ngopi sementara waktu sudah menjelang jam 1 dinihari, pikirku dalam hati.

"udah tidur ya bro, sori kalo ganggu kalo ga mau gw mau balik aja".


Aku scroll-up iPhoneku dan tekan "call", segera RBT sepotong lagu Ungu terdengar diujung sana. Segera sebuah suara yang tak asing terdengar di telingaku.


"Mau ga bro, sori kalo gue ganggu lo".

"Mau ngopi dimana".

"Manut nite".
"Wah, males kejauhan".

"Habis mau dimana"?
"Di Sugeng Rawuh aja, Km5".

"Tapi disana rame banget bro".

"Yowes, Manut Nite. 15 Menit ketemu disana".

"Lho aku ga ada motor eh, bisa jemput aku disini"?
"Asu"! umpatku dalam hati. Sudah ngebete-in, ngajak ngopi saat aku mau
tidur, dan sekarang minta dijemput pula.
"OK lah".
"Tunggu 5 menit disitu".

Segera kututup screen notebook-ku yang telah ku-set-up jika ditutup akan menutup semua aplikasi yang terbuka dan shout-down sistem dengan sempurna. Mio putihku segera melesat kearah utara jalan kaliurang melewati lampu merah ring rod utara dan segera menepi saat seseorang berdiri dengan memakai jean potlot hitam dan kaos polo berwarna hijau menyala serta bagpack berwarna hitam berukuran besar sehingga badannya semakin terlihat kecil.

Dinginnya angin malam menusuk kesela sela tengkuk dan leherku meski aku sudah memakai jumper hangatku. Jalur roda dua ring road utara kearah Gejayan lenggang. Tidak ada satupun kendaraan lain selain aku. Kupacu Mio Putihku full-gas melesat membelah keheningan malam. Seketika sebuah pelukan melingkar erat dipinggangku dan kedua belah paha dan tubuh dia merapat kebadanku.

"Anjing, racer juga lo ya". Urnya menggumam dari mulutnya yang hampir menempel dikupingku sehingga aku bisa merasakan hangat hembusan nafasnya.



[i]to be continued[/i]


lotta loves from,
Saturday, May 31, 2008

sedalam samudera tlah kuselami
setinggi langit ketujuh tlah kuterbangi
tapi tetap tak kumengerti isi hatimu


sepenggal bait lagu ataupun puisi cinta seperti diatas mungkin pernah kita baca ataupun dengar, dan memang itulah cinta.Nah, kenapa aku menjauh dari cinta yang tak kenal logika ini. Bukannya aku tak mengenal arti cinta, tapi untuk apa kalau energi yang aku punyai tercurah banyak untuk cinta, sedangkan banyak hal lain yang lebih positif dan membangun lebih memerlukan energiku?

aku lebih percaya logika
aku tahu sebenarnya cinta berdasar logika

tapi tak kuetmui seorang yang berfikiran sama denganku
sehingga aku selalu mencari kepuasan dan kesenangan sesaat untuk mencapai kebahagiaanku.

bahagiakah aku sekarang?

tidak.

aku tidak bahagia.

lantas apa yang membuatku bahagia?

aku tak tahu.

aku-sedang-melow



lotta loves from,
Sunday, May 25, 2008
Ditengah redup lampu kamar hotel ia melihat didalamcermin besar itu tubuhnya bersatu dengan tubuh yang lain. Deru napas saling berpacu mencapai garis finish. Keringat bercucuran dari setiap lubang pori-pori sekecilpun. Tapi aneh, ia merasa kalau dirinya sedang bersetubuh dengan dirinya sendiri dan tubuh yang lain hanya sebatas dildo penyaluran birahi sesaat.



lotta loves from,
Friday, May 23, 2008
Bibir yang berwarna aneh

Sebut saja namanya yuki. Remember the cute boy working in Rumah Kopi? Yupe! Akhirnya aku kembali lagi ke Rumah Kopi,tentu saya sendirian. Aku gak mau ada orang lain yang cuma akan jadi nyamuk yang mengganggu ketenanganku disana.

So it was 20:30 hrs ketika aku menginjakan kakiku di cafe-nya, tidak banyak pengunjung saat itu, dari 8 meja yang tersedia hanya ada 4 meja yang terisi. Dan ketika aku menarik kursi kayu jati style-outdoor yang menurutku sangatlah tidak nyaman diduduki karena berat dan sangat keras, apalagi dengan cutting tempat duduknya yang rata dan berongga lurus seperti kursi yang biasanya tersedia di pinggir kolam renang hotel berbintang lima.

"Ah! Pasti yang punya bukan cong" pikirku.
Kebetulan tempat duduk pavoritku. Diluar bersebrangan dengan bar yang dihalangi oleh kaca tembus pandang, sehingga baik aku dan waiter yang bekerja bisa saling pandang. Begitupun dengan Yuki, dia melihat aku baru datang dan langsung keluar dari AC-area kearahku.

Sejenak kulihat tanda tanya dimata dia yang mungkin bicara;"Apakah aku pernah melihat orang ini sebelumnya?". Senyum manis yang aku pikir terlalu dibuat-buat tersungging di bibirnya yang berwarna ungu-kehitaman sangat kontras dengan kulitnya yang terang agak kemerahan. Warna Bibir yang aneh.

Segelas ice-cuppucino-tanpa-cream-on-the-top adalah pilihanku. Entah, tapi aku tidak suka makanan maupun minuman yang dijejali oleh cream, enek rasanya dimulut.

"Oh, si mas-nya yang hari senin kemarin ya?", akhirnya dia buka mulut.
"Kemana aja mas, katanya kemarin-kemarin mau kesini tapi koq gak ada akutunggu-tunggu", celotehnya lagi tanpa memberikan aku kesempatan menjawab.

Dia tidak ingat namaku, tapi dia ingat aku karena orderan-anehku yang diluar dari standar resep ice-cappucino mereka yang tidak memakai cream.


Perempuan Berdada Rata VS Lelaki Berbadan Perempuan

15 menit berlalu ketika orderan ice-cappucino-tanpa-cream-ku datang. Satu batang pertama class-mild-ku sudah menjadi abu dalam asbak transparan itu.

Yuki tidak membawakan orderanku, tapi orang lain yang membuat aku penasaran dengan pramusaji yang mengantarkan minumanku tadi, dia tidak banyak bicara hanya mengulang apa yang aku order dan mempersilakanku menikmati minumanku.

"Ice-Cuppucino-Tanpa-Cream, selamat menikmati", ujarnya.

"Nya". Kadang ada untung dan ruginya dalam pemakaian "Nya" dalam Bahasa Indonesia yang tidak mempunyai gender, tidak seperti bahasa lain yang kebanyakan mempunyai gender. Masculine - Feminin, His-Her dll. Tapi sutralah, kali ini aku tidak membahas lingua yang bukan keahlianku, aku hanya bisa membaca dan menulis dalam bahasaku saja.

Perawakannya sedikit chubby menurutku. Entah apakah dia kurang tinggi dibanding dengan berat badannya atau memang perawakan yang memang seperti itu.Tapi suaranya itu, aku yakin adalah pita suara perempuan yang berat dan terkesan tomboy apalagi ditambah dengan uniform cafe yang unisex bentuknya, hanya hem hitam dan celana panjang yang dibalut apron. Tapi kalaupun memang ia seorang perempuan, mestinya ia mempunyai payudara yang cukup menonjol diatas dadanya yang chubby. Tapi dia mempunyai dada yang rata, tapi juga bokong dia perempuan dengan hip yang lebar.

Ahhhh persetan dengan dia, yang aku harus teriaki adalah kenapa minumanku yang mengantar orang lain? Kenapa bukan Yuki? So, tanpa manggil mas ataupun mbak aku bilang sama dia kalau Yuki suruh menemui aku segera.

5 halaman sudah aku lewati. Novel Sex in Chatting yang baru saja aku beli 3 hari lalu masih belum aku baca secara serius. Aku tidak seperti temanku lia yang bisa menyantap sebuah nover dengan 230 halaman dalam satu malam. Rokok keduaku sudah nyala 1/4 batang ketika si bibir aneh itu menghampiriku dan menyapaku seakan-akan tidak mempunyai dosa kepadaku.

"Ya mas ada apa?", tanyanya dengan kepolosan.
"Duduk lah", jawabku sedikit jutek (mode cong ON).
"Kenapa kamu suruh orang lain yang hantar minumanku", tanyaku seperti anak kecil yang bertanya kepada ibunya atas protes ketidak-setujuannya.
"Oh,maaf mas barusan saya bersihkan meja didalam karena ada tamu yang akan pakai", tukasnya membela diri.

Ya, memang sih aku bisa melihat dia membersihkan meja didalam karena ada 3 orang anak muda sepantaran dengan dandanan yang sama diantara mereka,kaos distro hitam bermotif berbeda tapi dengan celana hitam berujung runcing yang terakhir aku tahu namanya model "potlot". Dan mereka sekarang tengah bergunjing sambil nunjuk-nunjuk di layar monitor notebook berwarna putih berukuran kecil dengan logo apel yang sudah digigit ujung kiri atasnya.

Kadang aku pikir, entah mungkin karena kita di Indonesia terbiasa dengan memakai seragam dari mulai TK sampai dengan SMA. Maka anak-anak muda yang Nongkrong di sepanjang pantai parapat di ujung utara Sumatera sampai di pantai Losari Makasar, potongan rambut, celana, baju sampai tas dan sepatupun 99% sama ataukah ini 1 dari taktik komunis yang menyeragamkan idealisme yang dimulai dari cara berpakaian?

Ah sudahlah aku sedang tidak ingin membicarakan yang berat-berat kali ini. Karena kedatanganku kali ini khusus karena "Yuki", mahluk yang telah membuat aku kembali ke Rumah Kopi dan yang ada di kepalaku kali ini hanya dipenuhi oleh muka dia, bibir aneh dia dan rambut dia yang dipotong seperti di anime jepang yang aku mainkan di PS-2 warna merah slim-ku tadi sore.

Apakah aku terobsesi dengan anime jepang yang ada di game yang aku idolakan sebagaimananya sorang hero?

  1. Berbadan proporsional
  2. Berperut six-pack
  3. Berambur lurus 1/2 menutupi muka
  4. Berbibir sexy
  5. Bermuka dengan garis yang tegas
  6. Berkaki panjang dengan selangkangan yang berisi?

Apakah aku melihat Yuki laksana seperti di anime tadi? Mungkin hanya 30-40 persen yang ada dalam diri Yuki, tapi paling tidak aku menemukan idola superhero dalam game-ku yang sekarang menjelma hidup dan ada dihadapanku.

Tapi dia tidak menjadi pahlawan untukku malam itu. Dia bahkan mencuekin aku dan lebih parahnya malah lari dari tanggung jawab dan mengalih-tangankan pekerjaan yang ia mulai kepada orang aneh lain yang melengkapi tempat kerja dia.

Ah memang cafe ini penuh dengan orang-orang aneh. Mungkinkan aku juga?



lotta loves from,
Tuesday, May 20, 2008

Extra Hot!!!
Judul diatas bukan mempromosikan sebuah outlet yang menjual aneka "Junk Food" made in Indonesia, seperti tempe penyet, pecel lele dll.
Selasa, 20 Mei 08. Rokok pertama yang ia sulut memercikan bunga api. "Shit" ia mengumpat hampir tak terdengar, cepat-cepat ia menorehkan ujung rokok tadi di asbak dan membuang ujung rokok yang ternyata dipadati oleh cengkeh ketimbang tembakaunya.

Kemudian ia menyulut rokoknya lagi, dan lagi-lagi ujung rokok memekar dan kembali mengembang dan memercikan api, dan umpatan kedua terdengar lebih nyaring, sehingga membuat waiter di Rumah Kopi - MP Book Point yang menghantar ice cappucino terheran, "kenapa mas?" tanyanya penuh kecurigaan.

"Ini rokok kurang ajar" ujarnya dengan lagak cuek.

Batang rokok pertama digantikan dengan batang kedua yang baru dari bungkusan yang ia baru saja beli di Apotik Astuti seberang MP Book Point. Ya, memang Apotik Astuti bukannya mengajarkan orang mengkonsumsi zat yang mematikan itu, tapi karena bangunan Apotik Astuti disewa oleh dua tenan, yang kebetulan tenan yang satunya menjual aneka kebutuhan sehari-hari termasuk rokok.

Sebenarnya jam 11:15 siang itu bukan waktu yang tepat untuk menikmati suasana di Rumah Kopi apalagi duduk diluar diabawah naungan gondola yang tidak bisa meredam panasnya Jogja diawal musim kemarau ini. Diperkirakan suhu luar antara 30-33 derajat celcius, mesti temperatur Yogyakarta yang baru saja diupdate di iPhone ia menunjukkan suhu 31 derajat, ah "mas yahoo" memang terkadang tidak terlalu meyakinkan, lagi pula mas yahoo itu kan di Amerika koq tahu-tahunya suhu di Jogja hari ini!
Rumah Kopi masih baru saja buka kelihatannya, ketika ia selesai membayar sebuah novel baru berjudul "sex in chating" yang dalam minggu terakhir ini menggoda rasa kepenasarannya, bagaimana tidak jika posternya "eye-catching" yang mau-tidak-mau ia liat setiap pagi setiap kali berangkat kerja.

Tiba-tiba sesosok mahluk berseragam hitam-hitam dengan apron yang menutupi selangkangan sampai kelututnya itu bertubrukan pandang, seketika itu pula desir darah naik ke ujung ubun-ubun (red baca. selangkangan).
Hanya itu sebenarnya alasan kenapa ia ada disitu sekarang.

dj_tidak_beli_kucing_dalam_karung



lotta loves from,
Friday, May 16, 2008
Aku tak bisa berbuat apa-apa.

Seorang yang benci politik tapi hidup dalam tekanan poli-tikus itulah aku.

Dari mulai warung kopi sebelah rumah, sampai dengan supir dan sekuriti di kantor ramai bergunjing seputar permasalahan negara, seolah-olah seorang politikus kawakan.

Kenaikan BBM, 10 tahun tragedi Mei, BLT, pencalonan presiden 2009, kenaikan haga-harga yang menjulang, biaya masuk sekolah yang berbarengan dengan kenaikan BBM, sampai dengan
cacat bawaan pilkada, eh tidak tertinggal juga masalah sms santet.

Bagai ayam stress yang menunggu pisau kematian dengan hitungan menit, aku merasa kalau hidupku tidak akan lama lagi. Sementara sang tuan entah apa yang ada di benak dia yang akan ia lakukan terhadapku dan teman-teman senasibku.

Gundah gulana.

11:30 Jumat 16 Mei 2008.
Rasanya aku sudah lama tidak mendengar hotbah Jumat yang terngiang bagai nyanyian nina-bobo dimusim awal kemarau ini. Ya, Hotbah Jumat selalu menjadi waktu siesta seminggu sekali disela-sela kesibukan pekerjaanku.

Sepeda listrik-ku memang tidak bisa aku andalkan untuk segera menghindarkan aku dari sengatan matahari siang bolong, sementara awan bergerombol kecil jauh diatas sana, malas memayungi. Kubelokan sepedaku ke jalan menuju mesjid lembah UGM dari kawawan jalan kaliurang, tepat di tikungan itu kulihat menyilaukan mata baliho berlatar merah dengan seorang yang aku pikir "unang" si pelawak grup bagito (maaf kalau namanya salah) yang pernah melejit dengan rekan se-pelawak-nya Miing dan Didin.

Mataku terpana ......
Mulutku ternganga .......

Bukan karena aku terpesona oleh ketampanan dan kegagahan sosok di baliho itu, tapi aku tahu berapa puluh juta untuk memasang sebuah baliho seukuran itu. Aku yakin pasti banyak titik yang dipasangi serupa di Jogja ini, aku yakin di kota lain juga akan sama. Dan aku yakin, iklan serupa pernah memuat 1 lembar Koran Kompas dengan full-color dan dipasang beberapa kali, dan AKU YAKIN kalau aku pernah melihat iklan ini ditayangkan di tv-tv swasta.

Hanya dalam hitungan detik dikepalaku berterbangan berbagai pertanyaan dan kemungkinan....!

Seorang ber-kawasaki-ninja beteriak dan meraungkan motornya menyadarkan aku dari lamunan sesaat, sementara aku masih diatas speda yang berjalan memaksa aku menepi dibawah baliho tersebut, aku standarkan sepedaku dan aku terbungkuk jalan memasuki sebuah kios angkringan yang pas terletak dibawah baliho itu.

Segelas
Dua gelas
Tiga gelas es teh manis tidak juga melegakan tenggorokanku dari kehausan.

Sebatang
Dua Batang
Tiga batang class mildtidak juga membuatku beranjak pergi

Adzan Jumat
Hotbah Jumat
Terdengar sayup di telinga

Aku tidak jadi sembahyang jum'at.

++++++++++++++++++===


Catatan kecil untuk Soetrisno Bachtiar

Maaf saya tidak kenal bapak kalao bukan karena iklan itu, dan maaf kalo saya salah menyebut nama Soetrisno Bactiar yang kalau tidak salah Ketua PAN danmaaf kalau saya salah tentang arti 100 tahun kebangkitan nasional.

Penting banget nggak seh, curi start Pemilihan Presiden 2009 dengan ber-promo seperti itu:

  1. Beriklan diri dengan meg-quote penggalan kata-akta pujangga Chairil Anwar.
  2. Beriklan semua stasiun TV di Indonesia dan di Koran dengan Iklan termahal di Indonesia
Karena semua itu nggak ngepek (ngefek) buat saya, mungkin juga buat yang lain, untuk simpati kepada anda. Yang pasti saya akan cepat-cepat ganti channel kalo iklan and adi tv muncul, dan cepat-cepat saya lipat halaman koran dan loncat ke halaman lain jika saya melihat anda disitu.

Saya asa PR agency anda salah memberikan taktik bagaimana membuat rencana strategi politik anda.

Saya rasa sekarang waktunya anda memecat humas anda dan kirim dia ke pelatihan "bagaimana caranya mencuri simpatisan"

Bagaimana kalau saya saja dijadikan humas anda, meski saya benci politik tapi saya cinta akan uang dan biasanya saya paling pandai membelanjakannya, paling tidak itu komplimen kawan-kawan saya terhadap saya dari dulu.

Tapi apa ya yang akan aku perbuat dengan uang sebanyak biaya anda beriklan sekarang?

Menambah BLT ? NO
Mensubsidi BBM? NOO
Bikin pasar murang sembako? NOOO

Hmm. Gimana kalo kita bikin sejuta "Five-Star MCK UMUM" saja biar orang-orang yan terbiasa nongkrong buang hajat dan cepat-cepat itu bisa menikmati enaknya duduk di toilet duduk dengan suasana yang nyaman sehingga mereka bisa lebih berimajinasi tinggi dan berfikir sehat?

Bukannya pemikir dan pembuat keputusan ulung biasanya mempuyai gagasan pasa saat buang hajat di pagi hari?

dj_membalas_sms_sms_saat_beol

lotta loves from,
Thursday, May 15, 2008
Ranumnya buah mangga tetangga V.2


Aku hanya bisa menikmatinya dari jauh. Saat ini aku merasa sudah cukup seperti itu. Tapi seringkali lapar ini tak tertahankan sehingga kulit perutku menempel dengan tulang punggungku. Ingin aku meminta ia kepada empunya. Tapi aku tak kuasa bersuara. Hanya gemuruh sesak di dada tak tertahankan.

Tuhaaaaaaaaaaaaaaaaan!

Tolonglah aku dari apa yang kuinginkan.


lotta loves from,

Don't laugh at me coz this is true!

Indeed I'm living in 2 season country, rainy season and dry season. But living in Jogja giving me experience differently from other cities in Indonesia, for instance; this time is the changing season from rainy to dry season, the humidity is currently so high in day time, I don't dare to wear jacket event just to cover me from sun because at the end I will be having my local sauna and give me a bad body odor off course.

So, what i have to do just going early before 8am to my working place and going home "teng-go" (teng = sound of the alarm bell, and go = OFF) it is a costume for Indonesian who leave the office on time after work.

But off course I don't go home! Why should I go home so early when I have the chance to see the beauty of the sky in the "bright-afternoon-dry-season", you would never wanted to event blink your eyes, don't want miss a thing. So, plunge to the swimming pool is the best choice!


dj_like_to_see_and_t0_be_seen




lotta loves from,
Semakin meminumnya semakin aku haus!

Benci... sama diri sendiri, kenapa aku ga bisa melepaskan birahi ini darimu



lotta loves from,

join me on