Friday, February 15, 2008
Awan hitam nampak menggelayut di langit yang terlihat tak mampu lagi menahannya, sementara para pengendara speda motor saling menyalip memacu sekencang-kencangnya dengan harapan bisa sampai ditempat tujuan sebelum hujan turun yang selama seminggu ini hampir tiap sore membasahi tanah jogja.


Tak terkecuali aku, diantara lalulintas jogja yang nampak semrawut dan semakin semrawut lagi jika sore hari pada saat jam kantor usai ditambah dengan situasi awan hitam yang dalam hitungan menit lagi akan pecah bak air dituang dari ember, aku melesat membelah jalanan dari utara kearah selatan Jogja untuk bertemu seorang teman baru “berkebangsaan” Timor Leste. NANU!


Ini adalah pertemuanku pertama dengan dia setelah beberapa kali YM-an dari awal kebersamaan kami di www.bergaul.com sebuah forum perkawanan made in Indonesia yang aku rasa lebih intimate ketimbang dengan www.friendster.com dan sejenisnya buatan luar sana.


Nanu adalah seorang mahasiswa baru sebuah PTS di kawasan Seturan Jogja, seorang yang sangat kental dengan wajah dari Indonesia bagian timur ini yang menurutku sangat excotix tak kalah dengan model-model berwajah “afro-america” yang mulai muncul dalam kancah politik negeri paman sam akhir-akhir ini. Ini adalah awal ketertarikanku terhadap dia.


Hujan mengguyur deras laksana air ditumpahkan dari langit pas 1 menit setelah aku ketemu dengan Nanu di sebuah warung kopi yang sangat sederhana tapi dilengkapi dengan hotspot yang lumayan kenceng. Dia tengah membalas emailnya dari sodaranya dia yang di Cuba disekolahkan oleh pemerintah Timor Leste dalam lingkup ikatan dinas dikemudian hari yang akan mempersiapkan tenaga siap pakai untuk negara yang saat ini terancam dengan perang saudara itu, dia bilang ada sedikitnya 1000 mahasiswa yang dikirim ke negi Fidel Castro itu untuk menuntut ilmu di berbagai diberbagai disiplin ilmu.


Dan dia memperlihatkan aku email yang disertai foto adiknya tengah praktek membedah mayat di ruang praktek kedokteran beserta teman-temannya yang lain dari Timor Leste ini.


Cangkir kedua kopi toraja kesukaanku telah datang saat kami makin asik terlibat percakapan 2 orang yang baru ketemu yang notabene 90% aku memberondong dia dengan pertanyaan-pertanyaan yang aku gak bisa detail-kan disini. Mulai dari tragedi terakhir penembakan President Timor Leste, Sang Pemimpin Rebel (baca hero) yang akhirnya mati dalam action, tentang mahasiswa Timor diluar timor yang terpecah menjadi 2 (yang pro dan kontra terhadap timor), tentang Indosat satu-satunya GSM operator Indonesia yang masih berbisnis disana selain GSM local dari Portugal, serta sampai pada percakapan-percakapan pribadi seputar “selangkangan”! (Maklum cuaca mendukung)


Ya iyalah dia orang “Indo” koq, seloroh dia dibarengi dengan senyum yang misterius sewaktu aku tanya dengan siapa dia ML terakhir kali.


At least... mereka nggak bilang “indon” lah, tahu lah maksudku....!

OK Ninu! Aku cuma berharap kamu jangan menjadi Mahasiswa Abadi di Jogja, karena negaramu membutuhkan pribadi-pribadi yang siap pakai untuk kelangsungan dan keberhasilan Timor Leste.


dj, jalan-masih-panjang

0 komentar:

Post a Comment

hey...thanks for your post, i really appreciate it.

join me on

translate this page

Blog Archive

Subscribe to Feed


who viewed me

visit Jogja

Visit Yogyakarta / Jogja