Sunday, November 01, 2009
[Jogja 01/11/09]

Sebuah pekerjaan rumah panjang untuk AOSI

Guru kencing berdiri murid kencing berlari, ubunteros terkencing-kencing, mungkin begitu padanan peribahasanya untuk kondisi dunia open source saat ini di Indonesia. Bagaimana tidak? Jangan disanggah kalau razia software bajakan yang pernah terdengar dilakukan pihak berwajib dirasa “panas-panas tai ayam saja” alias sekarang tidak lagi terdengar gaungnya.

Indonesia masih menjadi negara yang melegalitas bajakan, betul? Ah sudahlah, saya sekarang tidak akan membicarakan isu yang dirasa sangat sensitif ini, saya hanya ingin sharing apa yang menjadi observasi saya selama mengikuti sesi public speaking di forum GCOS 2009 26-27/10/09 di Hotel Shangri-La, sebuah hotel yang sangat mewah untuk event yang mestinya bersifat akar rumput ini.

Mainstreaming, entah apa istilah dalam bahasa Indonesia yang pantas untuk menjelaskannya kata asing ini, tapi marilah kita perumpakan sebuah industri film-film yang diputar di bioskop itu adalah film-film mainstream yang dikenal banyak orang dan menghasilkan uang bagi sebuah perusahaan film raksasa sedangkan sebaliknya film independen (indi movie) paling banter masuk dalam festival film-film yang hanya ditonton oleh segelintir orang yang khusus tertarik di bidang ini atau hanya dari kalangan tersendiri.

Apakah cita-cita me-mainstreaming-kan FOSS adalah seperti itu? Mudah-mudahan tidak tentunya. FOSS, katakanlah linux untuk saya masih ber-imej GRATIS artinya saya bisa unduh dan memakainya untuk keperluan keseharian saya berkutat dengan netbook saya tanpa saya bayar dan tanpa saya minta ijin sama empunya untuk menyebarkannya. Saya takut malah suatu saat nanti FOSS (red. Linux) malah akan menjadi proprietary software seperti sekarang saja hanya bersipat sebagai competitor dalam bidang IT?

NO no NO, I hope not!!

Lebih jauh, menurut hemat saya mainstreaming adalah suatu proses dimana semua pihak terkait dan dilibatkan untuk membuat "sebuah mimpi" terwujud dan menjadikan suatu collective agreement bagi semua pihak dan tentunya diimplementasikan tidak hanya dijadikan wacana.

Tentunya ini memerlukan proses dan time consuming, tapi sebenarnya kita ini ada di fase yang mana sih? Selama saya mengikuti workshop khusus yang memfokuskan di isu goverment saya tidak mendapatkan jawaban itu. Jadi memang susah untuk menimbang apa dan bagaimana yang seharusnya dilalukan untuk menciptakan iklim open source di Indonesia saat ini dan dikemudian hari. Harapan saya sebenarnya ada seorang pembicara dari ristek yang mampu me-mapping status dan kondisi saat ini di Indonesia yang bisa dirangkum dari sisi kebijakan pemerintah entah itu dari segi hukum, pendidikan dan campaign pemerintah untuk FOSS ini, ataupun masukan dari pengguna serta pemerhati di bidang FOSS entah itu dari komuniatas maupun corporate (badan usaha) di bidang TI beserta vendor.

Tapi sampai dengan kepulangan saya ke Jogja, saya tidak mendapatkan catatan penting ini yang seharusnya saya rangkum dan saya sharingkan dengan teman-teman dikemudian hari.


Hilangnya Logo Tutwuri Handayani

Ada dua institusi pemerintah yang terlibat dalam ajang GCOS 2009, yaitu Ristek & Depkominfo yang menunjuk AOSI sebagai organiser acara GCOS 2009 ini. Saya merasa ada satu institusi yang seharusnya dilibatkan tapi saya simpan dalam hati dan ingin menanyakannya langsung kepada AOSI suatu saat nanti yaitu Department Pendidikan yang seharusnya menjadi embrio cikal bakal pertumbuhan dunia FOSS di Indonesia.

Saya masih ingat jaman saya dulu (maksudnya sekarang sudah tua hehe) dimana kebudayaan itu dibawah satu atap dengan pendidikan, dan entah kapan atau entah apa yang terjadi sewaktu kebudayaan dilimpahkan ke deparment pariwisata, maka yang diperhatikan adalah bagaimana memaketkan budaya nusantara ini sebagai paket promosi pariwisata bukan lagi bagaimanan tetap menanamkan dalam benak fikiran anak-anak Indonesia untuk mengenal budaya dan mencintainya serta melestarikannya. Jadi ya tidak heran kalo ada negara lain yang mengklaim seni budaya Indonesia sebagai budaya aslinya mereka. Entah kapan dunia pendidikan Indonesia akan berhenti dijadikan kelinci percobaan.

Memang ada sederet anak murid yang diundangi ke GCOS ini dan duduk persis di jajaran depan untuk menerima anugerah penghargaan dari kejuaraan di event lain, tapi tidak ada perwakilan yang resmi dari dunia pendidikan sekedar untuk sharing bagaimana seharusnya FOSS ini sudah masuk dalam kurikulum sekolah dasar.

Dalam program kerja AOSI No.10 di bidang pendidikan adalah dengan adanya akses terhadap e-book untuk pelajaran TIK Open Source di sekolah-sekolah, syukurlah sebuah wajah tak asing bagi saya pak Rusmanto seorang yang wajahnya sering ada di majalah info linux yang masih saya beli secara eceran di agen adalah seorang penaggung jawab program kerja ini. Saya berharap lewat media yang beliau asuh bisa menyisipkan pesan-pesan terhadap dunia pendidikan untuk sosialisasi FOSS di Indonesia.

Sebuah statement yang sudah menjadi rahasia umum saya quote dari tulisan Ex President Director of IBM Indonesia dan sekarang adalah seorang Business Woman yang juga sebagai Duta Open Source sekalian ketua AOSI Betti Alisjahbana dalam tulisannya yang bertajuk Peran Strategis Open Source Bagi Indonesia pada penutupan Pada acara penutupan IGOS Summit 2 tanggal 28 Mei 2008 menyinggung masalah saat ini yang terjadi di masyarakat dalam menumbuh-kembangkan FOSS di indonesia dalam dunia pendidikan dimana “Pendidikan di sekolah-sekolah masih berorientasi pada perangkat lunak proprietary baik dari segi materi pengajaran maupun media pendukungnya (buku, perangkat lunak yang digunakan )”.

Sepertinya masalah ini telah dibantu oleh Rusmanto dalam majalah info linux bulan Agustus 2009 yang menelurkan sebuah tulisan utama mengulas seputar apa yang bisa dilakukan oleh linux dalam dunia pendidikan.

OK! Asumsi saya sekarang adalah usaha yang dilakukan untuk mengenalkan FOSS telah dilakukan, satu bukti diatas adalah usaha kongkrit yang telah Rusmanto lakukan sebagai penanggung-jawab program.

Pertanyaan saya adalah; apa dengan adanya akses murid dan pengajar terhadap materi pembelajaran FOSS di kalangan dunia pendidikan sudah dikategorikan sebagai mainstreaming FOSS di Indonesia?

Mungkin lagi Ebiet yang menjawab, “tanyakan pada rumput yang bergoyang”, hanya waktu yang bicara tentunya.

Baca selanjutnya di artikel bertajuk: “Migrasi Open Source Sarat Dengan Intrik Politik”.

ilustrasi: infolinux.web.id


How ubuntu are you?

4 komentar:

Anonymous said...

Apik tenan... ;) koyo makalah...

didin.jamaludin said...

jal, mulutmu memang manis pandai memuji ya? hehehe. Sanggah dan kasih masukanlah apa yang aku tulis tuh benar atau salah?

darmanex said...

btw...mo nanya, itu bener pak Rumanto ato Rusmanto sih???(unsure)

didin.jamaludin said...

darmanex, Rusmanto, maaf editornya sedang ngantuk kekeke

Post a Comment

hey...thanks for your post, i really appreciate it.

join me on

translate this page

Blog Archive

Subscribe to Feed


who viewed me

visit Jogja

Visit Yogyakarta / Jogja