Friday, May 23, 2008
Bibir yang berwarna aneh

Sebut saja namanya yuki. Remember the cute boy working in Rumah Kopi? Yupe! Akhirnya aku kembali lagi ke Rumah Kopi,tentu saya sendirian. Aku gak mau ada orang lain yang cuma akan jadi nyamuk yang mengganggu ketenanganku disana.

So it was 20:30 hrs ketika aku menginjakan kakiku di cafe-nya, tidak banyak pengunjung saat itu, dari 8 meja yang tersedia hanya ada 4 meja yang terisi. Dan ketika aku menarik kursi kayu jati style-outdoor yang menurutku sangatlah tidak nyaman diduduki karena berat dan sangat keras, apalagi dengan cutting tempat duduknya yang rata dan berongga lurus seperti kursi yang biasanya tersedia di pinggir kolam renang hotel berbintang lima.

"Ah! Pasti yang punya bukan cong" pikirku.
Kebetulan tempat duduk pavoritku. Diluar bersebrangan dengan bar yang dihalangi oleh kaca tembus pandang, sehingga baik aku dan waiter yang bekerja bisa saling pandang. Begitupun dengan Yuki, dia melihat aku baru datang dan langsung keluar dari AC-area kearahku.

Sejenak kulihat tanda tanya dimata dia yang mungkin bicara;"Apakah aku pernah melihat orang ini sebelumnya?". Senyum manis yang aku pikir terlalu dibuat-buat tersungging di bibirnya yang berwarna ungu-kehitaman sangat kontras dengan kulitnya yang terang agak kemerahan. Warna Bibir yang aneh.

Segelas ice-cuppucino-tanpa-cream-on-the-top adalah pilihanku. Entah, tapi aku tidak suka makanan maupun minuman yang dijejali oleh cream, enek rasanya dimulut.

"Oh, si mas-nya yang hari senin kemarin ya?", akhirnya dia buka mulut.
"Kemana aja mas, katanya kemarin-kemarin mau kesini tapi koq gak ada akutunggu-tunggu", celotehnya lagi tanpa memberikan aku kesempatan menjawab.

Dia tidak ingat namaku, tapi dia ingat aku karena orderan-anehku yang diluar dari standar resep ice-cappucino mereka yang tidak memakai cream.


Perempuan Berdada Rata VS Lelaki Berbadan Perempuan

15 menit berlalu ketika orderan ice-cappucino-tanpa-cream-ku datang. Satu batang pertama class-mild-ku sudah menjadi abu dalam asbak transparan itu.

Yuki tidak membawakan orderanku, tapi orang lain yang membuat aku penasaran dengan pramusaji yang mengantarkan minumanku tadi, dia tidak banyak bicara hanya mengulang apa yang aku order dan mempersilakanku menikmati minumanku.

"Ice-Cuppucino-Tanpa-Cream, selamat menikmati", ujarnya.

"Nya". Kadang ada untung dan ruginya dalam pemakaian "Nya" dalam Bahasa Indonesia yang tidak mempunyai gender, tidak seperti bahasa lain yang kebanyakan mempunyai gender. Masculine - Feminin, His-Her dll. Tapi sutralah, kali ini aku tidak membahas lingua yang bukan keahlianku, aku hanya bisa membaca dan menulis dalam bahasaku saja.

Perawakannya sedikit chubby menurutku. Entah apakah dia kurang tinggi dibanding dengan berat badannya atau memang perawakan yang memang seperti itu.Tapi suaranya itu, aku yakin adalah pita suara perempuan yang berat dan terkesan tomboy apalagi ditambah dengan uniform cafe yang unisex bentuknya, hanya hem hitam dan celana panjang yang dibalut apron. Tapi kalaupun memang ia seorang perempuan, mestinya ia mempunyai payudara yang cukup menonjol diatas dadanya yang chubby. Tapi dia mempunyai dada yang rata, tapi juga bokong dia perempuan dengan hip yang lebar.

Ahhhh persetan dengan dia, yang aku harus teriaki adalah kenapa minumanku yang mengantar orang lain? Kenapa bukan Yuki? So, tanpa manggil mas ataupun mbak aku bilang sama dia kalau Yuki suruh menemui aku segera.

5 halaman sudah aku lewati. Novel Sex in Chatting yang baru saja aku beli 3 hari lalu masih belum aku baca secara serius. Aku tidak seperti temanku lia yang bisa menyantap sebuah nover dengan 230 halaman dalam satu malam. Rokok keduaku sudah nyala 1/4 batang ketika si bibir aneh itu menghampiriku dan menyapaku seakan-akan tidak mempunyai dosa kepadaku.

"Ya mas ada apa?", tanyanya dengan kepolosan.
"Duduk lah", jawabku sedikit jutek (mode cong ON).
"Kenapa kamu suruh orang lain yang hantar minumanku", tanyaku seperti anak kecil yang bertanya kepada ibunya atas protes ketidak-setujuannya.
"Oh,maaf mas barusan saya bersihkan meja didalam karena ada tamu yang akan pakai", tukasnya membela diri.

Ya, memang sih aku bisa melihat dia membersihkan meja didalam karena ada 3 orang anak muda sepantaran dengan dandanan yang sama diantara mereka,kaos distro hitam bermotif berbeda tapi dengan celana hitam berujung runcing yang terakhir aku tahu namanya model "potlot". Dan mereka sekarang tengah bergunjing sambil nunjuk-nunjuk di layar monitor notebook berwarna putih berukuran kecil dengan logo apel yang sudah digigit ujung kiri atasnya.

Kadang aku pikir, entah mungkin karena kita di Indonesia terbiasa dengan memakai seragam dari mulai TK sampai dengan SMA. Maka anak-anak muda yang Nongkrong di sepanjang pantai parapat di ujung utara Sumatera sampai di pantai Losari Makasar, potongan rambut, celana, baju sampai tas dan sepatupun 99% sama ataukah ini 1 dari taktik komunis yang menyeragamkan idealisme yang dimulai dari cara berpakaian?

Ah sudahlah aku sedang tidak ingin membicarakan yang berat-berat kali ini. Karena kedatanganku kali ini khusus karena "Yuki", mahluk yang telah membuat aku kembali ke Rumah Kopi dan yang ada di kepalaku kali ini hanya dipenuhi oleh muka dia, bibir aneh dia dan rambut dia yang dipotong seperti di anime jepang yang aku mainkan di PS-2 warna merah slim-ku tadi sore.

Apakah aku terobsesi dengan anime jepang yang ada di game yang aku idolakan sebagaimananya sorang hero?

  1. Berbadan proporsional
  2. Berperut six-pack
  3. Berambur lurus 1/2 menutupi muka
  4. Berbibir sexy
  5. Bermuka dengan garis yang tegas
  6. Berkaki panjang dengan selangkangan yang berisi?

Apakah aku melihat Yuki laksana seperti di anime tadi? Mungkin hanya 30-40 persen yang ada dalam diri Yuki, tapi paling tidak aku menemukan idola superhero dalam game-ku yang sekarang menjelma hidup dan ada dihadapanku.

Tapi dia tidak menjadi pahlawan untukku malam itu. Dia bahkan mencuekin aku dan lebih parahnya malah lari dari tanggung jawab dan mengalih-tangankan pekerjaan yang ia mulai kepada orang aneh lain yang melengkapi tempat kerja dia.

Ah memang cafe ini penuh dengan orang-orang aneh. Mungkinkan aku juga?



lotta loves from,

0 komentar:

Post a Comment

hey...thanks for your post, i really appreciate it.

join me on

translate this page

Blog Archive

Subscribe to Feed


who viewed me

visit Jogja

Visit Yogyakarta / Jogja