Saturday, October 20, 2007

Kemarau setahun, imbas oleh hujan ½ hari (kira-kira gitu deh peribahasa lama) yang berarti juga dosa setahun, terhapuskan saat saling memaafkan di di hari fitri.

Biasanya kalo lebaran china (red. Imlek) turun hujan dipercayai oleh kaum tionghoa kalo tahun depan rezeki akan berlimpah dimana hujan dipercaya sebagai “chien” atau “uang”. Percaya atau tidak toh itu yang sampai hari ini sampai ke kuping gue dari seantero legenda dan cerita yang beredar di masyarakat.

Entah 3 tahun lalu atau kapan gue masih inget dimana imlek dan lebaran idul fitri hampir jatuh bersamaan, dan saat itu gue merasakan bener-bener suatu “great celebration”. Anyway thanks to Gusdur yang telah meluluskan hari raya imlek merupakan hari besar agama nasional yang ditandai tanggalan merah yang berarti semua orang kantoran libur bekerja. Sekali lagi thanks ya Gus! Paling tidak jasamu yang satu ini akan terus dikenang setiap kali hari raya imlek.

Kembali ke hujan. Hari ini, hari pertama lebaran di kampung gue hujan sudah mulai turun persis jam 6 pagi, memang tidak deras tapi cukup untuk membuat shaft perempuan yang kebagian di luar mesjid dimana di RT gue melaksakan Sholat Ied berhamburan sambil teriak-teriak (maklum cewek gitu), karena tenda biru sebagai pelindung putus tali penyangganya karena air otomatis tertampung di bagian yang menggelayut (aduh susah gue menerangkan dengan kata-katanya, tapi bisa dibayangkan lah).

Alhasil, bapak-bapak seksi perlengkapan harus angkat sarung sampai ke paha dan segera ambil langkah darurat membetulan tenda yang ½ nya sudah rubuh. Yang kasihan beberapa ibu-ibu yang sudah tua gak sempat menghindar dari ”air bah” akhirnya pada kebasahan. What a morning ! Dan gue dibantu satu orang (gak tahu namanya) mengangkat dan menumpuk bangku-bangku panjang yang memenuhi ruang temu warga (community center) lain yang masih menempel dengan bagian mesjid supaya ruangan yang penuh dengan debu dan pasir itu bisa digunakan untuk sholat kaum hawa.

Jangan tanya lah, gue yang sudah cakep dan wangi mengenakan setelan baju muslim yang gue jahit dari bahan kain sari yang gue beli di India akhir Mei lalu, akhirnya harus terkotori debu dan pasir yang berterbangan, + ada pangkal jempol tangan kanan sedikit tertoreh paku. Hiks, gue baru tahu setelah ruku pertama, akhirnya ya gue ”lamot” juga (red. Lamot = adalah bahasa sunda untuk menjilat sesuatu sambil sedikit diisep) Hushh ! Jangan jorok pikirannya ya! Cukup menolong karena tetes darah dan bagian yang memar sudah kering dan tidak terasa apa-apa saat 2 jam berikutnya gue nulis blog ini sembari menunggu sanak family berkunjung (maklum hujan). Alhamdulillah mungkin ini salah satu kebesaran Idul Fitri.

Akhir hutbah rintik hujan berhenti, seakan mempersilahkan jemaah pulang ke rumah masing-masing dan tak lama berselang sesampai dirumah gue, hujan berguyur lagi dan saat itu pula hujan airmata bersimbah di kaki ibu tersayang. ”Ma, maafkan anakmu yang tak tahu balas budi ini, semoga emak disehatkan dan dipanjangkan umur sehingga anakmu ini masih bisa menebus segala kekurangan kepadamu”.

Gue percaya tanpa berguyur airmatapun ibu gue pasti sudah memaafkan gue, tanpa hujan di hari pertama lebaran tahun depan akan menjadi tahun baik buat gue.

dj, every-day-is-a-good-day

0 komentar:

Post a Comment

hey...thanks for your post, i really appreciate it.

join me on

translate this page

Blog Archive

Subscribe to Feed


who viewed me

visit Jogja

Visit Yogyakarta / Jogja